Rabu, 10 Maret 2010

Aturan Upawasa

ATURAN UPAWASA DI HINDU
Upawasa merupakan bagian brata, dan brata bagian dari brata-yoga-tapa-samadi, yang menjadi satu kesatuan dalam konsep Nyama Brata.
Kewajiban warga Hindu menggelar brata-yoga-tapa-samadi diisyaratkan dalam kakawin Arjuna Wiwaha sebagai berikut:
"Hana mara janma tan papihutang brata-yoga-tapa-samadi angetul aminta wiryya suka ning Widhi sahasaika, binalikaken purih nika lewih tinemuiya lara, sinakitaning rajah tamah inandehaning prihati."
Artinya:
Ada orang yang tidak pernah melaksanakan brata-yoga-tapa-samadi, dengan lancang ia memohon kesenangan kepada Widhi (dengan memaksa) maka ditolaklah harapannya itu sehingga akhirnya ia menemui penderitaan dan kesedihan, disakiti oleh sifat-sifat rajah (angkara murka/ambisius) dan tamah (malas dan loba), ditindih oleh rasa sakit hati.
Tegasnya, bila ada orang yang tidak pernah menggelar brata-yoga-tapa-samadi lalu memohon sesuatu kepada Hyang Widhi maka permohonannya itu akan ditolak bahkan akan mendatangkan penderitaan baginya.
Yang dimaksud dengan brata adalah mengekang hawa nafsu pancaindra, yoga adalah tepekur merenungi kebesaran Hyang Widhi; tapa adalah pengendalian diri; samadi adalah mengosongkan pikiran dan penyerahan diri total sepenuhnya pada kehendak Hyang Widhi.Jadi berpuasa yang baik senantiasa disertai dengan kegiatan lainnya seperti di atas, tidak dapat berdiri sendiri.
Upawasa batal jika melanggar/tidak melaksanakan brata-yoga-tapa-samadi. Untuk kesempurnaan berpuasa, disertai juga dengan ber-dana punia, yaitu memberikan bantuan materi kepada kaum miskin.
Aturan-aturan berpuasa bermacam-macam, antara lain:
1. Upawasa yang dilaksanakan dalam jangka panjang lebih dari sehari, di mana pada waktu siang tidak makan/minum apa pun. Yang dinamakan siang adalah sejak hilangnya bintang timur daerah timur sampai timbulnya bintang-bintang di sore hari;
2. Upawasa jangka panjang antara 3-7 hari dengan hanya memakan nasi putih tiga kepel setiap enam jam dan air klungah nyuh gading;
3. Upawasa jangka pendek selama 24 jam tidak makan/minum apa pun disertai dengan mona (tidak berbicara), dilaksanakan ketika Siwaratri dan sipeng (Nyepi);
4. Upawasa total jangka pendek selama 24 jam dilaksanakan oleh para wiku setahun sekali untuk menebus dosa-dosa karena memakan sesuatu yang dilarang tanpa sengaja; puasa itu dinamakan santapana atau kricchara; 5. Upawasa total jangka pendek selama 24 jam dilaksanakan oleh para wiku setiap bulan untuk meningkatkan kesuciannya, dinamakan candrayana.
Ketika akan mulai berpuasa sucikan dahulu badan dan rohani dengan upacara majaya-jaya (jika dipimpin pandita) atau maprayascita jika dilakukan sendiri. Setelah itu haturkan banten tegteg daksina peras ajuman untuk menstanakan Hyang Widhi yang dimohon menyaksikan puasa kita.
Ucapkan mantram:
Om Trayambakan ya jamahe sugandim pushti wardanam, urwaru kam jwa bandanat, mrityor muksya mamritat,
Om ayu werdi yasa werdi, werdi pradnyan suka sriam, dharma santana werdisyat santute sapta werdayah,
Om yawan meraustitho dewam yawad gangga mahitale candrarko gagane yawat, tawad wa wiyayi bhawet.
Om dirgayuastu tatastu astu,
Om awignamastu tatastu astu,
Om subhamastu tatastu astu,
Om sukham bawantu,
Om sriam bawantu,
Om purnam bawantu,
Om ksama sampurna ya namah,
Om hrang hring sah parama siwa aditya ya namah swaha.
Artinya,
"Ya, Hyang Widhi, hamba memuja-Mu, hindarkanlah hamba dari perbuatan dosa dan bebaskanlah hamba dari marabahaya dan maut karena hanya kepada-Mu-lah hamba pasrahkan kehidupan ini, tiada yang lain.
Semoga Hyang Widhi melimpahkan kebaikan, umur panjang, kepandaian, kesenangan, kebahagiaan, jalan menuju dharma dan perolehan keturunan, semuanya adalah tujuh pertambahan.
Selama Iswara bersemayam di puncak Mahameru (selama Gunung Himalaya tegak berdiri), selama Sungai Gangga mengalir di dunia ini, selama matahari dan bulan berada di angkasa, semoga selama itu hamba sujud kepada-Mu, ya Hyang Widhi."

Om Shanti Shanti Shanti Om ….
Sumber: Sarad

Selasa, 16 Februari 2010

Persembahan

Oleh Made Mariana, Abu Dhabi
Om Swastyastu
Inti dari semua aktivitas spiritual Hindu adalah untuk mencapai keharmonisan, kedamaian, keindahan dan keseimbangan. Untuk itu umat Hindu menjalani aktivitas spritualnya sehari-hari selaras dengan alam samesta. “Being Spritual is Being Natural”
Untuk menciptakan dan menjaga keseimbangan dan keharmonisan. Upaya ini dilakukan dengan mengimplementasikan ajaran Tri Hita Karana (Tiga keharmonisan hubungan yang membawa pada kebahagiaan) yaitu:
1. Parahyangan.
menjaga keharmonisan hubungan dengan Beliau-Beliau yang lebih tinggi dan sangat dihormati dan dimuliakan yaitu: Leluhurnya, Sinar Suci Tuhan (Dewa) dan Tuhan.
2. Pawongan.
Menjaga keharmonisan hubungan dengan sesama manusia, “Tat Twam Asi” Kamu adalah aku. “Vasudaiva kutum bakam” Semua manusia dilahirkan bersaudara. Dengan saling mengembangkan sikap tepo seliro, hormat menghormati dan saling menghargai semua perbedaan yang dimiliki, dan menyadari bahwa manusia adalah mahluk social, satu sama lain saling mendukung dan membutuhkan guna pencapaian kesuksesan di bidang masing-masing
3. Palemahan.
Menciptakan dan menjaga keharmonisan hubungan dengan alam samesta beserta isinya. Dengan tidak melakukan pencemaran, tidak melakukan polusi dengan tindakan, kata-kata dan pikiran. Menjaga kelestarian alam dan species-species tanaman dan hewan langka.
Salah satu aktivitas menuju Parahyangan (Beliau yang lebih tinggi) adalah dengan persembahan. Persembahan berasal dari kata “sembah” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan dari Diknas Indonesia yang artinya: pernyataan hormat dan khidmat (dinyatakan dng cara menangkupkan kedua belah tangan atau menyusun jari sepuluh, lalu mengangkatnya hingga ke bawah dagu atau dng menyentuhkan ibu jari ke hidung) mengangkat -- , menghormat dng sembah; 2 kl kata atau perkataan yg ditujukan kpd orang yg dimuliakan
“Persembahan” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan artinya:per·sem·bah·an n 1 hadiah; pemberian (kpd orang yg terhormat)
Jadi inti dari persembahan adalah hadiah atau pemberian kepada yang dihormati, dalam hal ini adalah Persembahan Kepada Leluhur, Sinar Suci Tuhan (Dewa), Tuhan. Melakukan pemberian sesungguhnya adalah melakukan pengorbanan, apabila pemberian ini atau hadiah ini tanpa disertai dengan motif apapun (baca: ikhlas), maka ini disebut dengan Yadnya.
Landasan spiritual untuk melakukan persembahan ini dimuat dalam berbagai kitab yang dijelaskan sbb:
1) Dewanrsin manusyamsca pitrn grhyasca dewatah pujayitwa tatah pascad Grhastha sesabhugbha (Manawa Dharmasastra III.117)
Maksudnya: Setelah melakukan persembahan kepada Dewa manifestasi Tuhan, kepada para Resi, leluhur yang telah suci (Dewa Pitara), kepada Dewa penjaga rumah dan juga kepada tamu. Setelah itu barulah pemilik rumah makan. Dengan demikian ia lepas dari dosa.
2) Dalam Bhagawad Gita III.13 dinyatakan, makanlah setelah melakukan yadnya. Dalam sloka Bhagawad Gita itu dinyatakan dengan istilah yadnyasistasinah, yang artinya “makanlah setelah beryadnya”. Yang makan setelah ber-yadnya akan lepas dan dosa. Mereka yang makan tanpa ber-yadnya sebelumnya sesungguhnya makan dosanya sendiri.
Jadi apapun yang dimakan hendaknya dipersembahkan terlebih dahulu, bagi mereka yang memilih jalan vegetarian, persembahkanlah makanan vegetarian, demikian pula mereka yang memilih jalan non vegetarian persembahkanlah makanan yang non vegetarian, jangan makan sebelum dipersembahkan terlebih dahulu pada Tuhan yang mengkaruniakan makanan untuk kita semua.
Lebih lanjut dalam Maitri Upanisad (VI, 36) dikatakan, "Karena itulah seseorang semestinyalah Menghaturkan yajna di kuil dengan wirama suci, rempah, gehi, (kurban) daging, kue-kue, nasi yang sudah ditanak dan sebangsanya, dan juga dengan makanan minuman yang dimasukkan ke dalam mulut, karena memahami mulut sebagai api ahavaniya, supaya diberikan kelimpahan tenaga/kekuatan untuk merenungkan dunia kesucian dan untuk keabadian."
Kalo kita melihat dari sumber-sumber yang tersedia di nusantara kita akan dapati pula landasan ini pada Kakawin Râmâyana yang ditulis abad ke-9 di Jawa, yang sampai kini tetap dibaca dalam tradisi nyastra di Bali.
Dikisahkan Raja Dasaratha ber- yajnya untuk mendapatkan putra utama. Dia mengundang orang suci, Rsi Asrengga, menghaturkan sesajen kepada Tuhan. Bahan utama upacara yajnya tersebut dibuat dari sarana pilihan. Upakara-nya disyairkan sebagai berikut:
a. Sajining yajnya ta humadang, sri wreksa samidha puspa ghanda phala, dadhi greta kresnatila madu, mwang kumbha kusagra wreti wetih (Sargah I : 24)
(Sesajen telah disediakan, kayu cendana kering, bunga-bungaan, harum-haruman, air susu, mentega, biji hitam, madu, tempayan, rumput alang-alang, dan gambar suci).
Sang Hyang Kunda pinuja, caru makulilingan samatsya-mangsa dadi, kalawan sekul niwedya, inames salwiring marasa (Sargah I : 28).
{Dewa Agni dipuja dalam tungku pemujaan, dikelilingi caru (sesajen berupa makanan enak) yang terbuat dari ikan, daging, dan nasi. Sesajen itu diolah dengan bumbu yang menimbulkan nasa enak}.
b. Ri sedeng Sang Hyang dumilah, niniwedyaken nikanang niwedya kabeh, osadi len phala mula, mwang kambang gandha dupadi (Sangah 1:29).
(Ketika api suci telah menyala, dipersembahkanlah semua sesajen. Obat-obatan, buah-buahan, umbi-umbian, bunga, harum-haruman, dupa, dan yang lainnya).
Caru, seperti dimaksud dalam bait kakawin Râmàyana tadi, adalah persembahan makanan enak, yakni nasi dengan lauk-pauk olahan sayuran, buah-buahan, umbi-umbian, daging ikan (matsya) dan daging hewan (mangsa) pilihan yang dimasak dengan berbagai bumbu. Mengingat kakawin Ràmàyana ditulis di Jawa abad ke-9, maka caru dimaksud boleh jadi adalah makanan khas Jawa Kuno. Ingat juga tumpengan. Adakah itu berhubungan dengan tradisi ngelawar dan macaru di Bali?
Dikisahkan pula, lungsuran istilah lainnya prasadam (caru atau sesajen yang telah dipersembahkan) itu kemudian disuguhkan guna dinikmati ketiga permaisuri Raja Dasaratha. Akibat mempersembahkan caru yang dipandang utama itu, dia berhasil memperoleh kerahayuan berupa putra utama: Ràmà, Bhàrata, Laksamana, dan Satrughna.
Persembahan dikatakan baik apabila bahan persembahan diperoleh dengan pandangan dan cara benar; lalu diproses dan dipersembahkan dengan pandangan dan cara benar; Disertai dengan niat tulus tanpa ada pamrih (ikhlas) dan kemudian terbukti pula bahwa hasil persembahan itu adalah kerahayuan.
Diperoleh dengan pandangan dan cara yang benar maksudnya: Sesuatu yang dipersembahkan tidak diperoleh melalui mencuri, merampok, korupsi, nepotisme, kolusi, menipu, dan lain-lain, melainkan melalui Kerja (usaha sendiri).
Diproses dan dipersembahkan dengan pandangan dan cara yang benar: Mengikuti aturan tradisi atau jalan (agama) yang ditempuh. Dengan niat yang tulus ikhlas tanpa ada tujuan untuk mencari keuntungan pribadi seperti: nama baik, kemenangan, kemasyuran, dll
Catatan tradisi Bali yang berisi ajaran tentang sistem bersaji dan ketentuan sarana sesajinya dapat ditemukan terutama dalam jenis lontar keagamaan yang tergolong lontar yajnya, disebut Kalpasastra, seperti Jadma Prawreti, Dewa Tattwa, Bhamakertih, Yama Tattwa, Yama Purwana Tattwa, Pelutuk Bebanten, dan lainnya. Dalam lontar dimaksud disebut-sebut, sarana upacara dapat dibuat dari:
(1) mantiga (telur atau yang bertelor);
(2) mantaya (yang tumbuh atau tumbuh-tumbuhan); dan
(3) maharya (yang beranak-pinak atau binatang piaraan dan hasil buruan).
Dalam lontar Wasistha Tattwa (sloka 38-41) dijelaskan, sang raja atau pemimpin sebelum bersantap diwajibkan sembahyang terlebih dahulu dengan:
macarwa ring dewa mwang ring sarwa bhuta, nyata hamanggih suka sira, mwang wirya magong
(mempersembahkan makanan enak kepada dewa dan kepada para bhuta. Dengan cara bakti demikian sang Raja dinyatakan akan mendapatkan kemakmuran dan kebahagian hidup).
Tradisi yang baik ini adalah untuk menjaga keharmonisan baik secara vertikal (Parahyangan dan Palemahan). Oleh karenanya kita sebelum menyantap makanan mesti melakukan persembahan, yang sering disebut dengan ngejot atau Banten saiban.
Adapun daging (makanan) yang baik dipersembahkan dan kemudian dimakan sang pemimpin dijelaskan:
“Nihan ikang sinangguh mangsa rahayu tadahen de sang prabhu, lwirnya, iwak tasik, bhawi, buron, tawon, wedhus, itik, bantiga “
(Ini adalah daging yang baik dimakan sang pemimpin, yaitu ikan laut, daging babi, daging binatang buruan, tawon, daging kambing, daging itik, dan telor).
Sementara daging yang dipandang nista - karena itu tidak baik dimakan sang pemimpin - adalah daging. tikus, kadal, ular, anjing, dan daging katak. Pimpinan itu teladan masyarakat. Jika makan daging itu baik atau buruk bagi pemimpin, tentu baik atau buruk pula bagi masyarakat.
Mempersembahkan sesajen dengan lauk-pauk olahan daging terdapat hampir di seluruh tradisi religius masyarakat di Nusantara.
Dan, upacara yajnya dengan mempersembahkan olahan daging jelas tersurat dalam kitab suci Weda. Rg. Weda I.161, mantra 1-22, misalnya, memuat amanat tentang kurban kuda aswamedha yajnya. Mantra 9-13 diterjemahkan sebagai berikut:
“Daging kuda yang dimakan lezat, atau yang melekat pada tonggak atau kapak, atau daging yang menempel pada tangan dan kuku pemotong, di antara dewa-dewa, juga semua sudah siap.”
“Kotoran yang keluar dari ususnya, dan bau daging mentah masih tercium, semua itu supaya dibersihkan oleh pelaksana kurban, dan menyiapkan makanan matang untuk persembahan”.
“Apa yang menetes dari daging yang sedang diguling di atas panggangan, jangan dibiarkan ada tercecer ke tanah atau di rumput, haturkan semua kepada dewa.”
“Mereka yang melihat daging kuda yang telah dimasak berseru: Baunya sedap, angkat. Dan, daging yang empuk ini siap dibagi. Mudah-mudahan semua ini memperlancar kerja kami.”
“Garpu untuk masak daging dikaldron, mangkok-mangkok tempat sop, pot-pot pemanas, tutup piring, centong, pinggan berukir, semua disiapkan untuk kurban kuda.”
Secara didaktis moralis, mempersembahkan binatang kurban adalah ungkapan simbolik yang mengandung makna yajnya (kurban suci), yakni mengurbankan sifat-sifat binatang yang secara potensial ada bila dibiarkan, ia cenderung berkembang biak, beranak pinak dalam diri setiap orang.
Hari Raya Galungan pada penampahan Galungan, banyak Babi yang dijadikan korban untuk persembahan. Babi memiliki sifat tamas dan rajas yang sangat kuat. Maknanya adalah sebelum persembahyangan dilakukan pada hari raya Galungan maka sifat-sifat tamas dan rajas itu harus dibunuh dan ditelan mulai dari Hari Penampahan.
Dalam konteks ini, yajnya juga berarti menumbuh-kembangkan karakter luhur. Caranya: menghindari perbuatan buruk (dalam pikiran, perkataan, dan tingkah laku), bergaul dengan orang-orang baik, tekun mendengarkan dan merenungkan makna wacana suci, serta selalu berusaha mengamalkan nilai-nilai luhur demi kebahagiaan bersama, baik dengan sesama maupun dengan lingkungan alam.
Dikatakan pula, itu hanya mungkin bila dalam diri kita masing-masing bertumbuh rasa cinta kasih. Kasih adalah citra Tuhan. Demikianlah cara yang dianjurkan agama. Maka, dengan senjata kasih itu pula orang dapat mengendalikan egonya.
Kasih dan Ego menempati satu bilik yang sama, Bila ego muncul maka kasih akan lenyap demikian sebaliknya.
Apasih Ego itu sesungguhnya…?
Secara sederhana Ego = Separateness bisa dimaknai sebagai merasa beda dengan orang lain. Bisa merasa lebih bagus ini menuju pada sombong dan angkuh, marah, lobha, yang memupuk sifat merendahkan orang lain. Memandang remeh orang lain, Mengambil hak orang lain
Ego dimana dia merasa lebih rendah dari orang lain akan menghasilkan sifat rendah diri, minder, grogi, gugup sehingga tidak bisa focus dan tidak bisa optimal dalam mencapai sesuatu.
Sri Kreshna lewat percakapan suci dengan Arjuna dalam Bhagawadgita XIV.21 mengajar, ada tiga wujud utama ego:
(1) kàma (nafsu atau ambisi duniawi yang berlebihan);
(2) krodha (kemarahan); dan
(3) lobha (kerakusan).
Pada level tertentu dan terkendali Ego itu bermanfaat untuk memacu semangat untuk maju, untuk meraih prestasi. Namun perlu diketahui ego ini jangan sampai tidak terkendali, karena dia sungguh musuh yang sangat sakti mandra guna, bisa mewujudkan diri dalam berbagai bentuk dan rupa yang siap memberangus kita manusia.
Ego dapat dikendalikan dengan memupuk rasa toleransi dan tepo seliro, menghargai bahwa setiap orang itu adalah sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangannya. Menyadari bahwa kita adalah menempati rumah yang sama yaitu alam samesta. Dan peran serta kita dalam menjaga alam itu sama-sama pentingnya. Kita membutuhkan satu sama lain untuk mencapai sukses bersinergi meraih cita dan cinta.
Dengan melakukan pelayanan (Seva) tanpa memandang posisi dan jabatan dalam masyarakat pun bisa melatih untuk mengurangi pengaruh negative dari Ego.
Mengambil tanggung jawab atas apapun yang dipandang patut untuk dilakukan seperti: melihat halaman pura kotor, segera bersihkan, Melihat sampah berserakan di kantor atau di rumah segera bersihkan jangan tunggu pembantu atau cleaning service datang membersihkan. Mahatma Gandhi selalu mencontohkan dalam prilakunya seperti ketika dia melakukan perjalanan dari kota-ke kota lainnya di India, tiap kali dia melihat WC kotor dia selalu membersihkannya terlebih dahulu, katanya; WC kotor ini kan menjadi sarang penyakit bagi saudara-saudara kita, bagi anak dan generasi kita, juga bagi alam ini, tentu saja pada akhirnya datang pada kita.
Output nyata dari semua aktivitas spiritual itu akan tampak pada perkataan yang halus menyejukkan, tindakan dan sikap yang tepat tidak menyakiti mahluk lain, bermanfaat bagi diri dan mahluk lain serta alam samesta, pikiran yang bersih dan jernih.

Om Shanti Shanti Shanti Om …

Minggu, 31 Januari 2010

Pitra Yadnya

Om Swastyastyu ….
PITRA – YADNYA – Bagian VI
Oleh Bp. Mangku Sudiada

Untuk Pitra-Yadnya bagian ke VI ini, sebelum kita mulai dengan Doa doanya, mari kita lihat terlebih dahulu sarana dan prasarana yang kita harapkan ada pada saat melaksanakan titip di Pertiwi maupun titip di Geni.
A. PRASARANA YANG DIPERLUKAN.
1. Tempat Memandikan Jenazah ( pepaga / dipan / bangku / meja).
2. Kain putih
- Untuk leluhur Ulap-ulap : 1 m
- Untuk Udeng : 1 m
- Untuk angkep rai : 30 cm2
- Untuk angkep baga : 30 cm2
- Kain kamben pria : 2 m2 saput : 1,5 m2.
- Kain kamben wanita : 2 m2 dan tapih 1,5 m2.
Perempuan selendang.
- Untuk sabuk kain : 10 cm X 1,5 (pria maupun wanita )
- Untuk sabuk saput : sama dengan yang diatas.
- Untuk penggulung Jenazah : 3,5 X 1,25
- Untuk Rantasan : 3 m ( putih kuning )
- Untuk dalam peti : 7 m
- Untuk tali pengikat : 3 m
- Untuk kain rurub : secukupnya.
3. Carang dapdap untuk tiang leluhur.
4. Tikar untuk alas memandikan
5. Ember & gayung untuk nyiraman
6. Peti mati & kereta Jenazah
7. Bantal kecil.
8. Pisau untuk mengerik kuku.
9. Lubang bila dikubur.
B. SARANA YANG DIPERGUNAKAN.
1. Untuk pebersihan
- Sisig dari beras yang dibakar
- Ambuh dari santan kelapa.
- Minyak rambut dan sisir
- Kekosok dan boreh dari beras kuning
- Gadung, bunga tunjung, kapas, daun intaran, bunga menur, sikapa, waja, pecahan cermin, daun tuwung, bunga-bunga, kwanngen, pemblonyoh putih kuning.
- Telor.
2. Air: Air biasa, & air kembang.
3. Sabun mandi dan handuk
4. Kapas untuk mayat yang luka luka dan perban
5. Benang itik itik (tali)
6. Momon cincin (permata).
C. BEBANTEN UNTUK UPACARA.
1. Upacara memandikan.
- Ke-Surya : Pejatian Daksina, Pras, Ajuman, Ketipat kelanan, canang sari & segehan.
- Ke – Kawitan : Pejatian.
- di Labuh / lebuh : Segehan.
- Banten Nunas tirta ke Pura-pura : Pejatian.
- Saji Tarpana : Punjung, Bubur pirata, Canang,
Setelah selesai mandi kain rantasan, cecepan / tempat air & segehan di teben sawa.
- Kwangen : pengrekaan 7 buah.
- Sekar ura : Beras kuning, samam dari daun pandan/temen pudak uang.
- Banten arepan : Peras daksina canang segehan.
- Tirta Pebersihan, penglukatan, Pengringkes.
- Banten Prastita, daksina, sasat, canang untuk peti.
2. Bebanten untuk di kubur.
- Ke Prajapati : Pejatian, pras, daksina,ajuman, tipat kelanan, canang, segehan
- Ke Pura Dalem : Pejatian
- Ke Pertiwi : Pras daksina segehan canang.
- Bangbang : Pras daksina segehan.
- Arepan : Pras Daksina, ajuman, segehan.
3. Untuk di Perabukan/Mekingsan di Geni.
- Ke Prajapati : Pejatian.
- Ke Surya : Pejatian
- Ke Dalem : Pejatian
- Ke pemuhun : Daksina, canang sari, segehan
- Tarpana : Daksina, bubur pirata, beras catur warna, segehan nasi angkep
- Kain putih
: ulap ulap – 1 m
: Pengerekaan
: Rantasan putih kuning
: kain putih kuning di Surya
: Pembungkus pengadeg Pitare
- Arepan : Pras daksina, canang segehan.
Setelah selesai megeseng :
- Banten penyub : Pras daksina, segehan, canang yeh anyar, air kembang.
4. Ngirim Nganyut.
- Ke Surya : Pejatian
- Arepan : Pras, daksina canang sari, segehan.
- Tarpana : Daksina, oda putih kuning, bubur pirata, canang sari, segehan
- Kwangen : 22 bua untuk pengrekaan.
- Untuk disegara : Pras daksina, canang segehan.
5. Banten Pebesihan
- Untuk Warga Perayascita ( ditempat )
- Untuk kedukaan dirumah Perayascita, caru ayam brumbun, dan reruntutannya setelah tiga hari.

Om Shanti Shanti Shanti ….

Pitra Yadnya

Om Swastyastyu ….

PITRA – YADNYA – Bagian V
Untuk Pitra-Yadnya bagian ke V ini Kita akan membahas masalah titip di Geni muang titip di Pertiwi, dengan bagian bagiannya adalah sebagai berikut :
a. Berangkat dari Rumah duka / Tempat duka / Rumah sakit kamar Jenazah.
b. Upacara keagamaan / Militer
c. Titip di Pertiwi
d. Titip di Geni.
e. Ngunya.
a) Jenazah berangkat dari rumah duka.
Jenazah diberangkatkan dari rumah duka menuju Kuburan / Setra, peti diusung dengan bagian kaki didepan dan kepala di belakang dengan berjalan secara pelan pelan, bagi Militer didahului denga militer,
Bila memakai Mobil Jenazah kepala ditaruh didepan, dan bagian kaki kearah belakang kendaraan.
Urut-urutan perjalanan.
- Paling depan Pengawal Jenazah ( for Rider )
- Kereta Jenazah / Mobil Jenazah.
- Rombongan para pengantar.
Didalam perjalanan sekar uranya ditaburkan sepanjang jalan sampai ke kuburan, sebagai perlambang permohonan ijin dalam perjalanan dari rumah duka menuju Kuburan.
Setelah sampai di kuburan peti Jenazahnya itu diputar putar tiga kali putarannya ( lihat posting sebelumnya ) mengelilingi lubang kuburan, kalau memang mau titip / mekingsan di pertiwi,
atau mengitari gegumuk kremasi kalau tempatnya memungkinkan untuk memutarinya, kalau tidak diputar putar saja selama tiga kali didepan alat krematori.
b) Upacara Agama / Militer.
Bila yang meninggal itu adalah militer atau keluarga militer, maka untuk acara ini biasanya didahulukan sehingga Mereka yang militer tidak terlalu lama untuk menunggu acara keagamaanya.
Rochaniawan, menghaturkan pesaksi ke Surya, Prajapati dan Pertiwi, Ke Pitare dan selanjutnya para saudara dan pengantar, berdoa bersama sama yang dipimpin oleh rochaniawan
c) Titip di Pertiwi.
Setelah upacara militer selesi dalam rangka pelepasan untuk terakhir kalinya, maka diteruskan kemudian dengan cara keagamaan, yang diawali dengan pencucian Bangbang terlebih dahulu, diteruskan dengan penurunan Peti Jenazah/ mayat, dengan catatan kepala menghadap Keadya ( kaja) dalam artian ke arah gunung, dan kehulu kearah matahari terbit ( kangin ), setelah itu baru kemudian di timbun oleh para Perti sentana / keluarga kamudian diteruskan dengan keluarga terdekat, diteruskan oleh orang orang yang paling dekat selama hidup almarhum, selanjutnya oleh para petugas.
Rochaniawan, menghaturkan pesaksi ke Surya, Prajapati dan Pertiwi, Ke Pitare dan selanjutnya para saudara dan pengantar, berdoa bersama sama yang dipinpin oleh rochaniawan dan penguburan pun selesai.
Selanjutnya Warga meperayastita sebagai penyucian diri.
d) Mekingsan / titip diGeni.
Pelaksanaannya sama dengan penguburan mayat, hanya bedanya memprabukan ke Krematorium atau prabuan tradisional, Sama mayat diputar putar sebanyak tiga kali sama dengan diatas, setelah itu ditaruh pada sebuah tempat yang telah disediakan,
Bila militer didahului dengan upacara militer, kemudaian dilanjutkan dengan upacara keagamaan.
Pelaksanaan bila mekingsan di Geni, sama dengan dikubur hanya bedanya Jenazah dibakar. Setelah selesai melaksanaan perabuan, abu tulangnya disiram dengan air bersih, air kembang atau lajimnya dibali disebut air Kumkuman.
Setelah itu sebagian abunya dimasukan kedalam Klungah Nyuh gading.Sebagian di reka diatas kain putih kira kira satu meter, dan juga leluhur satu meter.
Ngereka yaitu menyusunan kembali tulang-tulangnya yang sudah menjadi abu, dibentuk seperti manusia kembali, kalau masih bisa, untuk dikepala, dikasi abu tempurung kepala, bagian tangan diberikan abutulang tangan demikian pula bagaian bagian anggota tubuh lainnya.
Ngereka yaitu menyusun kembali bentuk manusia yang diisi, diuripkan dengan Kwangen sebagai pengurip urip sebanyak 22 buah yang ditempatkan sebagai berkut.
- 9 buah kwangen dibagian kepala, membentuk daun padama ke semua arah penjuru.
- 7 buah Kwangen didada menghadap ke atas.
- 6 buah diletakkan samping kiri dan kanan.
Selanjutnya Rochaniawan memuja ke Prajapati Surya.
Dilanjutkan sesaju Terpana ke Pitara, dilanjutkan sembaha para sentana, diperciki tirta sesuai dengan urut urutan tirta ( lihat posting sebelumnya) kemudian abu tulang dibungkus dengan kain putih tersebut, diatasnya ditaruh kelapa gading yang diisi abu lalu diusung diputar kembali sebanyak tiga kali mengelilingi tempat upacara, selanjutnya menuju segara/ laut untuk dihanyutkan.
Sesampai di laut rochaniawan menghaturkan pesaksi ke Sang Hyang Baruna lalu diteruskan dengn penghanyutan terakhir. Maka Upacarapun selesai.
e) Ngunya Mendoakan Pitara / almarhum.
Umat mengadakan mepreyastita diadakan di rumah duka sebaiknya diadakan sebanyak tiga kali oleh warga ( lihat sikompyang ) situasi, kondisi dan jangkauan.
( lihat nanti Doa doa Ngunya Pitra Yadnya ke VI ) Doa pengantar bagi sang meninggal.
Setelah itu dilaksanakan, yang terakhirnya dilakukan dengan pencaruan memakai ayam Brumbun. ( eka sata)

Ainggih antuk Kumpulan doa doa bisa diikuti pada : Pitra-Yadnya ke VI.

Om Shanti Shanti Shanti ….

Sedikit Tentang Panca Aksara

Om Swastyastu ….

Lima Aksara "Na Ma Si Wa Ya", atau... tertulis dalam buku Thirumandiram "Na Ma Shi Vaa Ya", itu tahun 3000 SM, penyembahan kepada Shiwa, oleh seorang Rsi kuno Thirumoolar (nama lain Rsi Sundaranatha). Beliau adalah seorang Shida dari tradisi Kriya Yoga... Lima aksara ini ada sebelum Rsi ini ada. Sepertinya Rsi Agastya yang menyebarkannya ke Nusantara ini.

Jika kita memanisfestasikan sesuatu missal leak dalam diri kita sembari mengucapkan mantra primodial ini... maka kita akan menjadi leak, seperti niat awal. Mantra ini adalah roket pendorong... arah atau kemana perginya roket, kita-lah pilotnya.

Om Shanti Shanti Shanti Om ….

Sumber: Wayan Suasthana

Sabtu, 30 Januari 2010

Leak Pakai Panca Aksara

Om Swastyastu ….

Oleh Bp. Mangku Shri Danu

Bentuk Endih Leak
Leak merupakan suatu ilmu kuno yang diwariskan oleh leluhur Hindu di Bali. Pada zaman sekarang ini orang bertanya-tanya apa betul leak itu ada?, apa betul leak itu menyakiti?
Secara umum leak itu tidak menyakiti, leak itu proses ilmu yang cukup bagus bagi yang berminat. Karena ilmu leak juga mempunyai etika-etika tersendiri. Tidak gampang mempelajari ilmu leak. Dibutuhkan kemampuan yang prima untuk mempelajari ilmu leak. Di masyarakat sering kali leak dicap menyakiti bahkan bisa membunuh manusia, padahal tidak seperti itu.
Ilmu leak juga sama dengan ilmu yang lainnya yang terdapat dalam lontar-lontar kuno Bali.
Dulu ilmu leak tidak sembarangan orang mempelajari, karena ilmu leak merupakan ilmu yang cukup rahasia sebagai pertahanan serangan dari musuh. Orang Bali Kuno yang mempelajari ilmu ini adalah para petinggi-petinggi raja disertai dengan bawahannya.Tujuannya untuk sebagai ilmu pertahanan dari musuh terutama serangan dari luar. Orang-orang yang mempelajari ilmu ini memilih tempat yang cukup rahasia, karena ilmu leak ini memang rahasia. Jadi tidak sembarangan orang yang mempelajari. Namun zaman telah berubah otomatis ilmu ini juga mengalami perubahan sesuai dengan zamannya. Namun esensinya sama dalam penerapan. Yang jelas ilmu leak tidak menyakiti. Yang menyakiti itu ilmu teluh atau nerangjana, inilah ilmu yang bersifat negatif, khusus untuk menyakiti orang karena beberapa hal seperti balas dendam, iri hati, ingin lebih unggul, ilmu inilah yang disebut pengiwa.
Ilmu pengiwa inilah yang banyak berkembang di kalangan masyarakat seringkali dicap sebagai ilmu leak. Seperti yang dikatakan diatas leak itu memang ada sesuai dengan tingkatan ilmunya termasuk dengan endih leak. Endih leak ini biasanya muncul pada saat mereka lagi latihan atau lagi bercengkrama dengan leak lainnya baik sejenis maupun lawan jenis. Munculnya endih itu pada saat malam hari khususnya tengah malam. Harinya pun hari tertentu tidak sembarangan orang menjalankan untuk melakukan ilmu tersebut.
Mengapa ditempat angker? Ini sesuai dengan ilmu leak dimana orang yang mempelajari ilmu ini harus di tempat yang sepi, biasanya di kuburan atau di tempat sepi. Endih ini bisa berupa fisik atau jnananya (rohnya) sendiri, karena ilmu ini tidak bisa disamaratakan bagi yang mempelajarinya. Untuk yang baru-baru belajar, endih itu adalah lidahnya sendiri dengan menggunakan mantra atau dengan sarana.
Dalam menjalankan ilmu ini dibutuhkan sedikit upacara. Sedangkan yang melalui jnananya (rohnya), pelaku menggunakan sukma atau intisari jiwa ilmu leak. Sehingga kelihatan seperti endih leak, padahal ia diam di rumahnya. Yang berjalan hanya jiwa atau suksma sendiri. Bentuk endih leak ini beraneka ragam sesuai dengan tingkatannya. Ada seperti bola, kurungan ayam, tergantung pakem (etika yang dipakai). Ilmu ini juga memegang etika yang harus dipatuhi oleh penganutnya.
Endih leak ini tidak sama dengan sinar penerangan lainnya, kalau endih leak ini biasanya tergantung dari yang melihatnya. Kalau yang pernah melihatnya, endih berjalan sesuai dengan arah mata angin, endih ini kelap-kelip tidak seperti penerangan lainnya hanya diam.
Warnanya pun berbeda, kalau endih leak itu melebihi dari satu warna dan endih itu berjalan sedangkan penerangan biasanya warna satu dan diam. Karena endih leak ini memiliki sifat gelombang elektromagnetik mempunyai daya magnet.
Ilmu leak tidak menyakiti. Orang yang kebetulan melihatnya tidak perlu waswas. Bersikap sewajarnya saja. Kalau takut melihat, ucapkanlah nama nama Tuhan. Endih ini tidak menyebabkan panas.
Dan endih tidak bisa dipakai untuk memasak karena sifatnya beda. Endih leak bersifat niskala, tidak bisa dijamah.

Leak Shoping di Kuburan
Padadasarnya, ilmu leak adalah ilmu kerohanian yang bertujuan untuk mencari pencerahan lewat aksara suci. Dalam aksara Bali tidak ada yang disebut leak. Yang ada adalah “liya, ak” yang berarti lima aksara (memasukan dan mengeluarkan kekuatan aksara dalam tubuh melalui tata cara tertentu). Lima aksara tersebut adalah Si, Wa, Ya, Na, Ma.
· Si adalah mencerminkan Tuhan
· Wa adalah anugrah
· Ya adalah jiwa
· Na adalah kekuatan yang menutupi kecerdasan
· Ma adalah egoisme yang membelenggu jiwa Kekuatan aksara ini disebut panca gni (lima api).
Manusia yang mempelajari kerohanian apa saja, apabila mencapai puncaknya dia pasti akan mengeluarkan cahaya (aura). Cahaya ini keluar melalui lima pintu indria tubuh yakni telinga, mata, mulut, ubun-ubun, serta kemaluan. Pada umumnya cahaya itu keluar lewat mata dan mulut. Sehingga apabila kita melihat orang di kuburan atau tempat sepi, api seolah-olah membakar rambut orang tersebut.
Pada prinsipnya, ilmu leak tidak mempelajari bagaimana cara menyakiti seseorang. Yang dipelajari adalah bagaimana mendapatkan sensasi ketika bermeditasi dalam perenungan aksara tersebut. Ketika sensasi itu datang, maka orang itu bisa jalan-jalan keluar tubuhnya melalui ngelekas atau ngerogo sukmo. Kata ngelekas artinya kontraksi batin agar badan astra kita bisa keluar. Ini pula alasannya orang ngeleak. Apabila sedang mempersiapkan puja batinnya disebut angeregep pengelekasan. Sampai di sini roh kita bisa jalan-jalan dalam bentuk cahaya yang umum disebut endih. Bola cahaya melesat dengan cepat. Endih ini adalah bagian dari badan astral manusia (badan ini tidak dibatasi oleh ruang dan waktu). Di sini pelaku bisa menikmati keindahan malam dalam dimensi batin yang lain.
Jangan salah, dalam dunia pengeleakan ada kode etiknya. Sebab tidak semua orang bisa melihat endih. Juga tidak sembarangan berani keluar dari tubuh kasar kalau tidak ada kepentingan mendesak. Peraturan yang lain juga ada seperti tidak boleh masuk atau dekat dengan orang mati.
Orang ngeleak hanya shoping-nya di kuburan (pemuwunan). Apabila ada mayat baru, anggota leak wajib datang ke kuburan untuk memberikan doa agar rohnya mendapat tempat yang baik sesuai karmanya.
Begini bunyi doa leak memberikan berkat:
“Ong, gni brahma anglebur panca maha butha, anglukat sarining merta. mulihankene kite ring betara guru, tumitis kita dadi manusia mahatama. ong rang sah, prete namah”.
Sambil membawa kelapa gading untuk dipercikan sebagai tirta. Nah, di sinilah ada perbedaan pandangan bagi orang awam. Dikatakan bahwa leak ke kuburan memakan mayat, atau meningkatkan ilmu. Kenapa harus di kuburan? Paham leak adalah apa pun status dirimu menjadi manusia, orang sakti, sarjana, kaya, miskin, akan berakhir di kuburan.

Tradisi sebagian orang di India tidak ada tempat tersuci selain di kuburan. Kenapa demikian? Di tempat inilah para roh berkumpul dalam pergolakan spirit. Di Bali kuburan dikatakan keramat, karena sering muncul hal-hal yang menyeramkan. Ini disebabkan karena kita jarang membuka lontar tatwaning ulun setra. Sehingga kita tidak tahu sebenarnya kuburan adalah tempat yang paling baik untuk bermeditasi dan memberikan berkat doa.
Sang Buda Kecapi, Mpu Kuturan, Gajah Mada, Diah Nateng Dirah, Mpu Bradah, semua mendapat pencerahan di kuburan.
Di Jawa tradisi ini disebut tirakat. Leak juga mempunyai keterbatasan tergantung dari tingkatan rohani yang dipelajari. Ada tujuh tingkatan leak. Leak barak (brahma). Leak ini baru bisa mengeluarkan cahaya merah api. Leak bulan, leak pemamoran, leak bunga, leak sari, leak cemeng rangdu, leak siwa klakah. Leak Siwa klakah inilah yang tertinggi. Sebab dari ketujuh cakranya mengeluarkan cahaya yang sesuai dengan kehendak batinnya.
Setiap tingkat mempunyai kekuatan tertentu. Di sinilah penganut leak sering kecele, ketika emosinya labil. Ilmu tersebut bisa membabi buta atau bumerang bagi dirinya sendiri.
Hal inilah membuat rusaknya nama perguruan. Sama halnya seperti pistol, salah pakai berbahaya. Makanya, kestabilan emosi sangat penting, dan disini sang guru sangat ketat sekali dalam memberikan pelajaran. Selama ini leak dijadikan kambing hitam sebagai biang ketakutan serta sumber penyakit, atau aji ugig bagi sebagian orang. Padahal ada aliran yang memang spesial mempelajari ilmu hitam disebut penestian. Ilmu ini memang dirancang bagaimana membikin celaka, sakit, dengan kekuatan batin hitam.
Ada pun caranya adalah dengan memancing kesalahan orang lain sehingga emosi. Setelah emosi barulah dia bereaksi. Emosi itu dijadikan pukulan balik bagi penestian. Ajaran penestian menggunakan ajian-ajian tertentu, seperti aji gni salembang, aji dungkul, aji sirep, aji penangkeb, aji pengenduh, aji teluh teranjana. Ini disebut pengiwa (tangan kiri).
Kenapa tangan kiri, sebab setiap menarik kekuatan selalu memasukan energi dari belahan badan kiri. Pengiwa banyak menggunakan rajah-rajah (tulisan mistik). Juga pintar membuat sakit dari jarak jauh, dan dijamin tidak bisa dirontgent di lab. Yang paling canggih adalah cetik (racun mistik). Aliran ini bertentangan dengan pengeleakan. Apabila perang, beginilah bunyi mantranya, “ong siwa gandu angimpus leak, siwa sumedang anundung leak, mapan aku mapawakan segara gni…bla…bla…..”
Ilmu Leak ini sampai saat ini masih berkembang karena pewarisnya masih ada, sebagai pelestarian budaya Hindu di Bali dan apabila ingin menyaksikan leak ngendih datanglah pada hari Kajeng Kliwon Enjitan di Kuburan pada saat tengah malam.

Om Shanti Shanti Shanti Om ….

Sumber: Lontar Panestian: koleksi pribadi

Jumat, 09 Oktober 2009

Meditasi Dasaksara

Om Swastyastu

MENGENAL MEDITASI DASA AKSARA

Meditasi ini sesungguhnya sudah dikenal sejak lama, dan sudah berkembang sejak jamannya Panca Pandita, Beliau adalah:
1. Mpu Gnijaya.
2. Mpu Ghana.
3. Mpu Semeru.
4. Mpu Kuturan.
5. Mpu Baradah.
Adapun konsep meditasi ini mengajak kita untuk lebih memahami diri kita, dengan melakukan pengkajian kedalam diri bukan keluar, dari mulai membedakan mana tubuh dan mana roh, sampai merubah sifat tubuh menjadi sifat roh.
Diharapkan ketika seseorang sudah berada pada tingkat mahir menerapkan meditasi ini, maka mereka akan merasakan tubuhnya yang diikat oleh sang roh, bukan sang roh yang diikat oleh sang tubuh. Karena Sang Panca Pandita yang digunakan sebagai guru spiritual meditasi ini, maka pada meditasi ini menekankan konsep Tri murti sebagai dasar keyakinannya, dan mewajibkan bagi mereka yang ingin mencoba menerapkan dan memperdalam meditasi 10 (dasa) aksara ini diwajibkan tangkil ( datang ) kecatur Kayangan untuk mohon restu kepada beliau.
Catur Kayangan yang dimaksud adalah:
· Pura Lempuyang, memohon restu kepada Mpu Gnijaya.
· Pura Besakih, memohon restu kepada Mpu Smeru.
· Pura Dasar Buana di Gelgel, memohon kepada Mpu Ghana.
· Pura Silayukti, Memohon restu kepada Mpu Kuturan.
Ajaran Tri murti dan meditasi 10 (dasa) aksara saling melengkapi, dimana mengajarkan kita memahami Tuhan dengan amat sederhana, dan menyederhanakan pikiran karena pikiranlah sumber dari segala keinginan, yang membawa kita pada penderitaan, bahkan kita semakin jauh dari tujuan hidup yaitu Moksa ( Pembebasan dari ketrikatan) dan tak jarang kita menjadi tidak percaya dengan Moksa (pembebasan) tersebut.
Trimurti dan Meditasi 10 (dasa) Aksara memberikan gambaran bahwa Hindu yang berkembang di Bali menjadi berbeda dengan yang ada di mana-mana, bahkan dengan yang ada di India, karena leluhur pendahulunya menggunakan aksara Dewa Nagari hasil perpaduan antara huruf Palwa dan sansekerta, akhirnya dari hasil persilangan tersebut melahirkan huruf baru menjadi: A, Na, Ca, Ra, Ka, Da, Ta, Sa, Wa, La,Ma, Ga, Ba, Tha, Nga, Pa, Dha, Ja, Ya, Nya.
Oleh Leluhur dijelaskan, bahwa dengan memahami huruf-huruf Dewa Nagari itu sesungguhnya kita bisa mengenal sekaligus memahami Tuhan dan ciptaanya.
Karena aksara tersebut diatas, sesungguhnya simbul-simbul dari bentuk alam yang diciptakan Tuhan, sekaligus ada di dalam tubuh Manusia. Dan untuk memahami sifat alam dan penciptannya leluhur memadukan akasara Dewa Nagari tersebut menjadi 10 (dasa) aksara yakni: Sang, Bang, Tang, Ang, IngNang, Mang, Sing, Wang, Yang.
Aksara-aksara inilah yang nantinya digunakan dalam meditasi, karena aksara-aksara ini sesungguhnya sudah menjadi sifat roh yang utama (Tuhan), dan agar kita bisa merasakan sifat rohani Tuhan, maka kita letakan simbul-simbul aksara tadi kedalam organ tubuh kita, dengan melakukan metode meditasi 10 aksara.
Ada 5 (lima) tahapan dalam melakukan meditasi 10 (dasa) aksara:
1. Menjadikan tubuh sama dengan alam, dengan cara mengosongkan segala keinginan, biarkan tubuh bekerja sesuai proses hukum sebab akibat, misal makan saat lapar, berhenti makan sebelum kenyang.
2. Bersihkan hati, karena di sana ada Tuhan yang disimbulkan dengan Ongkara Ngadeg, caranya dengan membersihkan hati dari segala iri dan dengki, emosi, serakah, dan kebodohan.
3. Bersihkan pikiran karena disana ada kekuatan Tuhan yang disimbulkan dengan Ongkara Sunsang, caranya lakukan sangkirtanam ( menyebut nama Tuhan), hingga pikiran hanya terisi nama dan sifat Tuhan.
4. Meditasi 10 (dasa) aksara.
5. Melakukan perenungan kedalam untuk mendapat pencerahan.
Dengan menerapkan Trimurti dan meditasi 10 (dasa) aksara, membuktikan bahwa Hindu di Bali sesungguhnya amat sederhana dan amat fleksibel dan tidak ada sedikit pun menyimpang dari Weda. Dan menurut sistem (metode ini) justru moksa dalam Tri murti (pembebasan) akan dicapai, apa bila terbebas dari segala perbedaan yang ada di dunia tanpa menyamakannya.

Satyam Evam Jayathe,
Om Shanti Shanti Shanti Om ….

Sumber: disunting dari Buku Meditasi Adhyatmika

Makna Hari Raya Galungan

ओम् स्वस्त्यस्तु
Om Svastyastu

MAKNA HARI RAYA GALUNGAN DAN KUNINGAN
Oleh Bp. Mangku Shri Danu

1. Pendahuluan.
Perayaan Galungan bagi umat Hindudi Bali sudah sangat memasyarakat dari abad keabad. Tetapi sangat kita sayangkan memasyarakatnya Galungan tersebut sangat tidak seimbang antara Tattwa atau kasuksman Galungan,Susila dengan Upakaranya.
Artinya antara Tattwa yang tercamtum dalam teks pustaka Sundaraigama dengan wujud susila dan upakara Galungan dalam kehidupan empirisnya sampai saat ini masih tidak nyambung. Bahkan kadang-kadang bertentangan.antara Tattwa Galungan yang demikian luhur dan idial dinyatkan dalam teks Pustakanya dengan kenyataan perayaan Galungan dalamkehidupan empiris setiap dalam kehidupan empiris setiap perayaan Galungan yang dirayakan setiap enam bulan wuku (210 hari).
Ada kalanya disuatu waktu dan tempat perayaan Galungan lebih menonjolkan perayaan Galungan dengan pesta-pesta pora yang bersifat hedonis. Makan masakan khas daerah yang lebih nikmat dari sehari-harinya.Demikian pula Galungan diwujudkan dengan berpakaian serba baru,pergi ketempat-tempat hiburan dan melakukan hal-hal yang lebih menekankan keikmatan indria. Pada hal Galungan adalah sebagai suatu peringatan untuk menajamkan daya spiritual untuk mensinergikan penerapan Jnyana atau ilmu pengetahuan suci untuk mencerahkan hati nurani umat sehingga dapat membangun kehidupan yang cerah dan bergaiarah untuk mengamalkan Dharma. Galungan bukan sebagai media untuk lebih mendinamisir dominasi indria dalam diri. Sesungguhnya untuk mengimplementasikan Tattwa Galungan banyak hal yang dapat kita perbuat dengan mengembangkan Tattwa Galungan kedalam berbagai program nyata sehingga Tattwa Galungan menjadi nyata dalam wujud susila dan upakara nya Inilah tujuan utama penulisan tentang Galungan dan Kuningan dalam tulisan singkat ini.
2. Pengartian Umum.
Kata “Galungan” berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama: manis.
Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali. Drs. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu popular dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi. Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di luar Bali dan apakah namanya juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan pasti.
Namun di Bali, ada sumber yang memberikan titik terang. Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Dalam lontar itu disebutkan:
“Punang act Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15,
isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya”,
Artinya:
Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka.
Sejak itu Galungan terus dirayakan oleh umat Hindu di Bali secara meriah. Setelah Galungan ini dirayakan kurang lebih selama tiga abad, tiba-tiba entah apa dasar pertimbangannya pada tahun 1103 Saka perayaan hari raya itu dihentikan. Itu terjadi ketika Raja Sri Ekajaya memegang tampuk pemerintahan. Galungan juga belum dirayakan ketika tampuk pemerintahan dipegang Raja Sri Dhanadi. Selama Galungan tidak dirayakan, konon musibah datang tak henti-henti. Umur para pejabat kerajaan konon menjadi relatif pendek.
Ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan Raja Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka, barulah Galungan dirayakan kembali, setelah sempat terlupakan kurang lebih selama 23 tahun. Keterangan ini bisa dilihat pada lontar Sri Jayakasunu. Dalam lontar tersebut diceritakan bahwa Raja Sri Jayakasunu merasa heran mengapa raja dan pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui penyebabnya, Raja Sri Jayakasunu mengadakan tapa brata dan samadhi di Bali yang terkenal dengan istilahDewa Sraya artinya mendekatkan diri pada Dewa. Dewa Sraya itu dilakukan di Pura Dalem Puri, tak jauh dari Pura Besakih. Karena kesungguhannya melakukan tapa brata. Raja Sri Jayakasunu mendapatkanpawisik atau“bisikan religius” dari Dewi Durgha, sakti dari Dewa Siwa. Dalam pawisik itu Dewi Durgha menjelaskan kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendekkarena tidak lagi merayakan Galungan. Karena itu Dewi Durgha meminta kepada Raja Sri Jayakasunu supaya kembali merayakan Galungan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku. Di samping itu disarankan pula supaya seluruh umat Hindu memasang penjor pada hari Penampahan Galungan (sehari sebelum Galungan). Disebutkan pula, inti pokok perayaan hari Penampahan Galungan adalah melaksanakan byakala yaitu upacara yang bertujuan untuk melepaskan kekuatan negatif (Buta Kala) dari diri manusia dan lingkungannya. Semenjak Raja Sri Jayakasunu mendapatkan bisikan religius itu, Galungan dirayakan lagi dengan hikmat dan meriah oleh umat Hindu di Bali.
3. Makna Filosofis Galungan
Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma) dalam diri manusia.
Selain itu juga memberi kemampuan untuk membeda-bedakan kecendrungan karaksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (dewa sampad). Harus disadari bahwa hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan.
Galungan adalah juga salah satu upacara agama Hindu untuk mengingatkan manusia secara ritual dan spiritual agar selalu memenangkan Dewi Sampad untuk menegakkan dharma melawan adharma. Dalam lontar Sunarigama, Galungan dan rincian upacaranya dijelaskan dengan mendetail. Mengenai makna Galungan dalam lontar Sunarigamadijelaskan sebagai berikut:
Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning Idep Artinya:
Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran.
Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujuddharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma. Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan menangnya dharma melawan adharma.
Untuk memenangkan dharma itu ada serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum dan setelah Galungan. Sebelum Galungan ada disebut Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Kata Jawa di sini sama dengan Jaba, artinya luar. Sugihan Jawa bermakna menyucikan bhuana agung (bumi ini) di luar dari manusia.
Sugihan Jawa dirayakan pada hari Wrhaspati Wage Wuku Sungsang, enam hari sebelum Galungan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Sugihan Jawa itu merupakan Pasucian dewa kalinggania pamrastista batara kabeh (Penyucian Dewa, karena itu hari penyucian semua bhatara).
Pelaksanaan upacara ini adalah dengan membersihkan segala tempat dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci. Sedangkan pada hari Jumat Kliwon Wuku Sungsang disebutkan: Kalinggania amretista raga tawulan (Olehkarenanya menyucikan badan jasmani masing-masing).
Karena itu Sugihan Bali disebutkan menyucikan diri sendiri. Kata Bali dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada di dalam diri. Dan itulah yang disucikan.
Pada Redite Paing Wuku Dungulan diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun mengganggu manusia. Karena itulah pada hari tersebut dianjurkan anyekung Jñana,
artinya: mendiamkan pikiran agar jangan dimasuki oleh Butha Galungan. Dalam lontar itu juga disebutkan nirmalakena (orang yang pikirannya selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Butha Galungan.
Pada hari Senin Pon Dungulan disebut Penyajaan Galungan. Pada hari ini orang yang paham tentang yoga dan samadhi melakukan pemujaan. Dalam lontar disebutkan, “Pangastawaningsang ngamongyoga samadhi.”
Pada hari Anggara Wage wuku Dungulan disebutkan Penampahan Galungan. Pada hari inilah dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan dengan upacara pokok yaitu membuat banten byakala yang disebut pamyakala lara melaradan. Umat kebanyakan pada hari ini menyembelih babi sebagai binatang korban. Namun makna sesungguhnya adalah pada hari ini hendaknya membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri.
Demikian urutan upacara yang mendahului Galungan. Setelah hari raya Galungan yaitu hari Kamis Umanis wuku Dungulan disebut Manis Galungan. Pada hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma. Umat pada umumnya melampiaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan terutama panorama yang indah. Juga mengunjungi sanak saudara sambil bergembira-ria.
Hari berikutnya adalah hari Sabtu Pon Dungulan yang disebut hari Pemaridan Guru. Pada hari ini, dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupa kadirghayusaan yaituhidup sehat panjang umur. Pada hari ini umat dianjurkan menghaturkan canang meraka dan matirta gocara. Upacara tersebut barmakna, umat menikmati waranugraha Dewata,
Pada hari Jumat Wage Kuningan disebut hari Penampahan Kuningan. Dalam lontarSundarigama tidak disebutkan upacara yang mesti dilangsungkan. Hanya dianjurkan melakukan kegiatan rohani yang dalam lontar disebutkanSapuhakena malaning jnyana (lenyapkanlah kekotoran pikiran). Keesokan harinya, Sabtu Kliwon disebut Kuningan. Dalam lontar Sunarigama disebutkan, upacara menghaturkan sesaji pada hari ini hendaknya dilaksanakan pada pagi hari dan hindari menghaturkan upacara lewat tengah hari. Mengapa? Karena pada tengah hari para Dewata dan Dewa Pitara “diceritakan” kembali ke Swarga (Dewa mur mwah maringSwarga).
Demikianlah makna Galungan dan Kuningan ditinjau dari sudut pelaksanaan upacaranya.
4. Macam-macam Galungan
Meskipun Galungan itu disebut “Rerahinan Gumi” artinya semua umat wajib melaksanakan, ada pula perbedaan dalam hal perayaannya. Berdasarkan sumber-sumber kepustakaan lontar dan tradisi yang telah berjalan dari abad ke abad telah dikenal adanya tiga jenis Galungan yaitu: Galungan (tanpa ada embel-embel), Galungan Nadi dan Galungan Nara Mangsa. Penjelasannya adalah sebagai berikut:
a. Galungan
Adalah hari raya yang wajib dilakukan oleh umat Hindu untuk merayakan kemenangan dharma melawan adharma. Berdasarkan keterangan lontar Sundarigama disebutkan “Buda Kliwon Dungulan ngaran Galungan.” Artinya, Galungan itu dirayakan setiap Rabu Kliwon wuku Dungulan. Jadi Galungan itu dirayakan, setiap 210 hari karena yang dipakai dasar menghitung Galungan adalah Panca Wara, Sapta Wara dan Wuku. Kalau Panca Waranya Kliwon, Sapta Waranya Rabu, dan wukunya Dungulan, saat bertemunya ketiga hal itu disebut Hari Raya Galungan.
b. Galungan Nadi
Galungan yang pertama dirayakan oleh umat Hindu di Bali berdasarkan lontar Purana Bali Dwipa adalah Galungan Nadi yaitu Galungan yang jatuh pada sasih Kapat (Kartika) tanggal 15 (purnama) tahun 804 Saka (882 Masehi) atau pada bulan Oktober.
Disebutkan dalam lontar itu, bahwa pulau Bali saat dirayakan Galungan pertama itu bagaikan Indra Loka. Ini menandakan betapa meriahnya perayaan Galungan pada waktu itu. Perbedaannya dengan Galungan biasa adalah dari segi besarnya upacara dan kemeriahannya. Memang merupakan suatu tradisi di kalangan umat Hindu bahwa kalau upacara agama yang digelar bertepatan dengan bulan purnama maka mereka akan melakukan upacara lebih semarak. Misalnya upacara ngotoninatau upacara hari kelahiran berdasarkan wuku, kalau bertepatan dengan purnama mereka melakukan dengan upacara yang lebih utama dan lebih meriah.
Disamping karena ada keyakinan bahwa hari Purnama itu adalah hari yang diberkahi oleh Sanghyang Ketu yaitu Dewa kecemerlangan. Ketu artinya terang (lawan katanya adalah Rau yang artinya gelap). Karena itu Galungan, yang bertepatan dengan bulan purnama disebut Galungan Nadi. Galungan Nadi ini datangnya amat jarang yaitu kurang lebih setiap 10 tahun sekali.
c. Galungan Nara Mangsa
Galungan Nara Mangsa jatuh bertepatan dengan tilem sasih Kapitu atau sasih Kesanga. Dalam lontar Sundarigama disebutkan sebagai berikut:
"Yan Galungannuju sasih Kapitu, Tilem Galungan, mwang sasih kesanga, rah 9, tenggek 9, Galungan Nara Mangsa ngaran. “
Artinya:
Bila Wuku Dungulan bertepatan dengan sasih Kapitu, Tilem Galungarniya dan bila bertepatan dengan sasih Kesanga rah 9, tenggek 9, Galungan Nara Mangsa namanya.
Dalam lontar Sanghyang Aji Swamandala ada menyebutkan hal yang hampir sama sebagai berikut:
“Nihan Bhatara ring Dalem pamalan dina ring wong Bali, poma haywa lali elingakna. Yan tekaning sasih Kapitu, anemu wuku Dungulan mwang tilem ring Galungan ika, tan wenang ngegalung wong Baline, Kala Rau ngaranya yon mengkana. Tan kawasa mabanten tumpeng. Mwah yan anemu sasih Kesanga, rah 9 tenggek 9, tunggal kalawan sasih Kapitu, sigug ya mengaba gering ngaran. Wenang mecaru wong Baline pabanten caru ika, nasi cacahan maoran keladi, yan tan anuhut ring Bhatara ring Dalem yanya manurung, moga ta sira kapereg denira Balagadabah”.
Artinya:
Inilah petunjuk Bhatara di Pura Dalem (tentang) kotornya hari (liari buruk) bagi manusia, semoga tidak lupa, ingatlah. Bila tiba sasih Kapitu bertepatan dengan wuku Dungulan dan Tilem, pada hari Galungan itu, tidak boleh merayakan Galungan, Kala Rau namanya, bi]a demikian tidak dibenarkan menghaturkan sesajen yang berjsi tumpeng. Dan bila bertepatan dengan sasih Kasanga rah 9, tenggek 9 sama artinya dengan sasih kapitu. Tidak baik itu, membawa penyakit adanya. Seyogyanya orang mengadakan upacara caru yaitu sesajen caru, itu nasi cacahan dicampur ubi keladi. Bila tidak mengikuti petunjuk Bhatara di Pura Dalam (maksudnya bila melanggar) kalian akan diserbu oleh Balagadabah.
Demikianlah dua sumber pustaka lontar yang berbahasa Jawa Kuna menjelaskan tentang Galungan Nara Mangsa. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Galungan Nara Mangsa disebutkan “Dewa Mauneb bhuta turun” yang artinya, Dewa tertutup (tapi) Bhutakala yang hadir. Ini berarti Galungan Nara Mangsa itu adalah Galungan raksasa, pemakan daging manusia. Oleh karena itu pada hari Galungan Nara Mangsa tidak dilang-sungkan upacara Galungan sebagaimana mestinya terutama tidak menghaturkan sesajen “tumpeng Galungan”. PadaGalungan Nara Mangsa justru umat dianjurkan menghaturkan caru, berupa nasi cacahan bercampur keladi.
Demikian pengertian Galungan Nara Mangsa. Palaksanaan upacara Galungan di Bali biasanya diiiustrasikan dengan cerita Mayadanawa yang diuraikan panjang lebar dalam lontar Usana Bali sebagai lambang, pertarungan antara aharma melawan adharma.
Dharma dilambangkan sebagai Dewa Indra sedangkan adharma dilambangkan oleh Mayadanawa. Mayadanawa diceritakan sebagai raja yang tidak percaya pada adanya Tuhan dan tidak percaya pada keutamaan upacara agama.
4. Galungan di India
Hari raya Hindu untuk mengingatkan umat atas pertarunganantara adharma melawan dharma dilaksanakan juga oleh umat Hindu di India. Bahkan kemungkinan besar, parayaan hari raya Galungan di Indonesia mendapat inspirasi atau direkonstruksi dari perayaan upacara Wijaya Dasami di India. Ini bisa dilihat dari kata “Wijaya” (bahasa Sansekerta) yang bersinonim dengan kata “Galungan” dalam bahasa Jawa Kuna. Kedua kata itu artinya “menang”.
Hari Raya Wijaya Dasami di India disebut pula “Hari Raya Dasara”. Inti perayaan Wijaya Dasami juga dilakukan sepuluh hari seperti Galungan dan Kuningan.
Sebelum puncak perayaan, selama sembilan malam umat Hindu di sana melakukan upacara yang disebut Nawa Ratri (artinya sembilan malam). Upacara Nawa Ratri itu dilakukan dengan upacara persembahyangan yang sangat khusuk dipimpin oleh pendeta di rumah-rumah penduduk. Nawa Ratri lebih menekankan nilai-nilai spiritual sebagai dasar perjuangan melawan adharma. Nawa Ratri itu dilakukan dengan mumuja Dewi Durgha selama tiga hari. Tiga hari berikutnya memuja Dewi Saraswati dan tiga hari terakhir memuja Dewi Laksmi. Tiga hari memuja Dewi Durgha bertujuan untuk membangun niat baik dalam hati nurani.Membangun niat baik inilah pekerjaan yang paling sulit. Tiga hari memuja Dewi Saraswati artinya untuk meningkatkan kemampuan kita menguasai ilmu pengetahuan. Niat baik saja tidak cukup.Niat baik itu hartus disertai dengan kemampuan untuk menguasai ilmu pengetahuan untuk menuntun hidup manusia. Tiga hari terakhir memuja Dewi Laksmi.Ini artinya puncak dari perjuangan membangun niat baik dan menguasai ilmu pengetahuan adalah hidup sejahtra lahir batin. Niat baik dan ilmu pengetahuan itu tidak ada apa-apanya kalau tidak menghasilkan hidup sejahtra lahir batin. Pemujaan pada dewi Laksmi ini bertujuan agar niat baik dan ilmu pengetahuan itu benar-benar diarahkan untuk mewujudkan hidup sejahtra Sekala dan Niskala. Untuk membangun hidup sejahtra itu tidak mudah,karena itu hartus dilakukan upaya spiritual dengan memuja Tuhan sebagai Dewi Laksmi pada tiga hari terakhir dari Nawa Ratri tersebut..
Pada hari kesepuluh berulah dirayakan Wijaya Dasami atau Dasara. Wijaya Dasami lebih menekankan pada rasa kebersamaan, kemeriahan dan kesemarakan untuk masyarakat luas.
Perayaan Wijaya Dasami dirayakan dua kali setahun dengan perhitungan tahun Surya. Perayaan dilakukan pada bulan Kartika (Oktober) dan bulan Waisaka (April).Perayaan Dasara pada bulan Waisaka atau April disebut pula Durgha Nawa Ratri.
Durgha Nawa Ratri ini merupakan perayaan untuk kemenangan dharma melawan adharma dengan ilustrasi cerita kemenangan Dewi Parwati (Dewi Durgha) mengalahkan raksasa Durgha yang bersembunyi di dalam tubuh Mahasura yaitu lembu raksasa yang amat sakti. Karena Dewi Parwati menang, maka diberi julukan Dewi Durgha. Dewi Durgha di India dilukiskan seorang dewi yang amat cantik menunggang singa. Selain itu diyakini sebagai dewi kasih sayang dan amat sakti.
Pengertian sakti di India adalah kuat, memiliki kemampuan yang tinggi. Kasih sayang sesungguhnya kasaktian yang paling tinggi nilainya. Berbeda dengan di Bali. Kata sakti sering diartikan sebagai kekuatan yang berkonotasi angker, seram, sangat menakutkan.
Parayaan Durgha Nawa Ratri adalah perjuangan umat untuk meraih kasih sayang Tuhan. Karunia berupa kasih sayang Tuhan adalah karunia yang paling tinggi nilainya. Untuk melawan adharma pertama-tama capailah karunia Tuhan berupa kasih sayang Tuhan. Kasih sayang Tuhanlah merupakan senjata yang paling ampuh melawan adharma.
Sedangkan upacara Wijaya Dasami pada bulan Kartika (Oktober) disebut Rama Nawa Ratri. Pada Rama Nawa Ratri pemujaan ditujukan pada Sri Rama sebagai Awatara Wisnu. Selama sembilan malam umat mengadakan kegiatan keagamaan yang lebih menekankan pada bobot spiritual untuk mendapatkan kemenangan rohani dan menguasai, keganasan hawa nafsu. Pada hari kesepuluh atau hari Dasara, umat merayakan Wijaya Dasami atau kemenangan hari kesepuluh. Pada hari ini, kota menjadi ramai. Di mana-mana, orang menjual panah sebagai lambang kenenangan.
Umumnya umat membuat ogoh-ogoh berbentuk Rahwana, Kumbakarna atau Surphanaka. Ogoh-ogoh besar dan tinggi itu diarak keliling beramai-ramai. Di lapangan umum sudah disiapkan pementasan di mana sudah ada orang yang terpilih untuk memperagakan tokoh Rama, Sita, Laksmana dan Hanuman.
Puncak dari atraksi perjuangan dharma itu yakni Sri Rama melepaskan anak panah di atas panggung yang telah dipersiapkan sebelumnya. Panah itu diatur sedemikian rupa sehingga begitu ogoh-ogoh Rahwana kena panah Sri Rama, ogoh-ogoh itu langsung terbakar dan masyarakat penontonpun bersorak-sorai gembira-ria. Orang yang memperagakan diri sebagai Sri Rama, Dewi Sita, Laksmana dan Hanuman mendapat penghormatan luar biasa dari masyarakat Hindu yang menghadiri atraksi keagamaan itu. Anak-anak ramai-ramai dibelikan panah-panahan untuk kebanggaan mereka mengalahkan adharma.
Kalau kita simak makna hari raya Wijaya Dasami yang digelar dua kali setahun yaitu pada bulan April (Waisaka) dan pada bulan Oktober (Kartika) adalah dua perayaan yang bermakna untuk mendapatkan kasih sayang Tuhan. Kasih sayang itulah suatu “sakti” atau kekuatan manusia yang maha dahsyat untukmengalahkan adharma. Sedangkan pada bulan Oktober atau Kartika pemujaan ditujukan pada Sri Rama. Sri Rama adalah Awatara Wisnu sebagai dewa Pengayoman atau pelindung dharma. Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan fllosofi dari hari raya Wijaya Dasami adalah mendapatkan kasih sayang dan perlindungan Tuhan. Kasih sayang dan perlindungan itulah merupakan kekuatan yang harus dicapai oleh menusia untuk memenangkan dharma. Kemenangan dharma adalah terjaminnya kehidupan yang bahagia lahir batin.
Kemenangan lahir batin atau dharma menundukkan adharma adalah suatu kebutuhan hidup sehari-hari. Kalau kebutuhan rohani seperti itu dapat kita wujudkan setiap saat maka hidup yang seperti itulah hidup yang didambakan oleh setiap orang. Agar orang tidak sampai lupa maka setiap Budha Kliwon Dungulan, umat diingatkan melalui hari raya Galungan yang berdemensi ritual dan spiritual.

ओम् शन्ति शन्ति शन्ति ओम्
Om śanti śanti śanti Om

Doa Bersama Peletakan Batu Pertama Pembangunan Pagar 10-10-2009 & Bakti Sosial 11-10-2009

Om Swastiastu,

Yth, Bapak dan Ibu
Umat Sedharma
Banjar Swadharma Krama Serpong,
Sesuai dengan hasil rapat panitia kecil Hari Sabtu, tanggal 26 September 2009 yang lalu, telah disepakati dan direncanakan acara doa bersama untuk peletakan batu pertama dimulainya pembangunan tembok penyengker pembatas area fasos-fasum Pure BSD/Tangsel, yang akan dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 10 Oktober 2009 jam 10 pagi di lokasi Pure BSD.
Panitia mengundang Bapak dan Ibu untuk sama-sama mendoakan dan menyaksikan acara tersebut sebagai langkah awal dimulainya proyek pembangunan Pure BSD. Penyengker tersebut perlu dibangun lebih awal untuk membatasi akses masuk pihak luar ke area pure untuk mengamankan material (bahan-bahan yang akan digunakan dalam pembangunan). Acara berikutnya adalah Bakti Sosial Pengobatan Gratis untuk warga sekitar yang kurang mampu, pada hari Minggu, tanggal 11 Oktober 2009, mulai jam 9 pagi bertempat di Kantor Kelurahan Rawa Mekar Jaya.
Acara ini dibantu oleh para Dokter dan tenaga kesehatan Umat Hindu Jabodetabek yang dikordinasikan oleh Pak Agung Diatmika (Ketua PHDI Kabupaten Tangerang). Panitia juga mengharapkan bantuan dari bapak dan Ibu sekalian untuk terselenggaranya acara tersebut. Demikian kami informasikan, terima kasih atas ketersediaan Bapak dan Ibu sekalian. Om Santi Santi Santi Om, Wayan Suryana

Rabu, 22 Juli 2009

Pitra Yadnya

PITRA – YADNYA – Bagian IV

Pada bagian Pitra Yadnya yang ke I telah kita lewati : yaitu berkaitan dengan “Wahya”
Sedangkan untuk Pitrayadnya yang ke II sudah kita tinjau dari sisi “Ahdyatmikanya”.
Pitra-Yadnya yang ke III. Berkaitan dengan makna dan Symbolisasi.

Jadi untuk Pitra-Yadnya yang ke IV kita akan bahas khusus memandikan Jenazah.

PELAKSANAAN MEMANDIKAN JENAZAH.
1. Jenazah dibawa ketempat memandikan ( pepagan, dipan, Meja, atau dirumah sakit )
- Pakaiannya dibuka, mukanya ditutup dengan angkeb rai, dan kemaluannya ditutup dengan tutup baga.
- Pelaksanaan pemandian dilaksanakan oleh rohaniawan
- Pertama tama tutup muka dibuka, mulai dengan sisig dari beras yang dibakar, dilanjutkan kramas dengan santan kelapa.
- Siram dengan air bersih disabun sampai bersih, lalu dilap dengan handuk.

Memasang reramuan.
- Kekosok seluruh badan
- Boreh dan pemblonyoh, putih dikepala, kuning di kaki
- Kerik kuku tangan dan kaki
- Disiram dengan air kembang/wangi, lalu digelinding dengan telur ayam mentah dari kepala sampai kekaki.

2. Etik – etik pembersihan.
- Daun intaran : Pada alis / kening
- Gadung / sekapa : Pada dada.
- Pusuh menur : Pada lubang hidung
- Pecahan cermin : Pada mata
- Waja : Pada Gigi
- Daun tuwung : Pada kemaluan laki laki
- Bunga tunjung : Pada kemaluan wanita.
Kesemuanya ini tujuannya adalah untuk kesempurnaan unsur unsur Panca Indriya.

3. Bebek :
Boreh dan anget anget dipasang pada perut, maksudnya untuk menikmati kesucian.
Minyak wangi di rambut kepala.

4. Kwangen :
- Satu buah dipasang di kepala.
- Satu buah dipasang diuluhati
- Satu buah dipasang didada
- Dua buah dipasang di tangan kanan & kiri.
- Dua buah dilutut kanan dan kiri.

5. Mengenakan kain.
- Pertama tama kain, lalu sabuk
- Kedua sesaputan dengan sabuknya.
- Udeng
- Tangan dan kaki meitik itik ( Ibu jari kedua tangan dan ibu jari kedua kaki )
- Rohaniawan maktiang ke Surya, setelah itu metirta
- Ngayab bubur pirata, nasi angkeb dan saji.

6. Mepegat ( Lihat symbol / makna mepegat )
Mepegat dilaksanakan apabila, langsung pelaksanaan penguburan / perabuan.
Bagi keluarganya ngebaktiyang.

7. Ngeringkes Sawa
Setelah meitik –itik lalu digulung / dibungkus dengan kain putih ( kain pengelelet ).
Dipocong, satu diikat dikepala, kedua diikat dibadan, dan ketiga di kaki. Setelah itu Jenazah dimasukan kedalam peti, ditaruh seperti orang tidur dengan bantal kecil di kepala. Didekat kepala ditaruh daksina Pejatian, canang, beras catur warna, segehan diluar peti / teben.

8. Maktiang ke Surya :
Setelah mayat dimasukan kedalam peti, dan ditaruh pada tempat yang telah disediakan, maka petugas rohaniawan menjalankan upacara. Memercikan tirta tirta pebersihan, Pengelukatan, dan tirta tirta dari Kahyangan, selanjutnya para sanak saudaranya menyembah, setelah itu baru kemudian bungkusnya dirapihkan, dan barang barang yang diperlukan ditaruh didalamnya yang diperlukan ntuk bekelnya.
Kemudian tutup petinya dipasang, sebelum berangkat, maka para keluarganya mepegat, masuk kebawah peti Jenazah dari arah kaki kekepala, berputar kekiri sebanyak tiga kali sebagai perpisahan untuk melepas kepergian sang yang meninggal ( mati – nggal )
Selanjutnya berangkat kekuburan.

Selanjutnya…..Menguburkan / Memprabukan. Pitra-Yadnya ke V.
JMS.

Pitra Yadnya

PITRA – YADNYA – Bagian III

Pada bagian Pitra Yadnya yang ke I telah kita lewati : yaitu berkaitan dengan “Wahya”. Sedangkan untuk Pitrayadnya yang ke II sudah kita tinjau dari sisi “Ahdyatmikanya”.
Sebelum kita mulai terjun ke Upakaranya, mari kita lihat dulu makna dan simbolisasi dalam Upakara ini sehingga kita tidak akan bingung dengan adanya istilah istilah yang akan muncul.

1. Memandikan Jenazah :
Upakara memandikan Jenazah dengan peralatan dan tatacaranya disebut dengan Atiwa-tiwa, yang bermakna bahwa orang yang meninggal itu “mepeningan” atau mesucian, karena arwahnya akan meninggalkan Bhuh loka menuju Bhwah loka, yaitu alam pitara atau alam astral.

2. Meletakan Jenazah dibalai.
Ini bermakna, orang yang meninggal itu, kini telah siap untuk menerima pengabenan, yang diperuntukan kepadanya.

3. Ngendag atau ngulapin ke Setra.
Ini melambangkan atau memberitahukan kepada roch, Informasi bahwa orang yang di abenkan itu, diulapin / diajak pulang untuk diabenkan.

4. Mapegat.
Upacara ini mengandung makna menghilangkan mala atau kotoran pada sang Atma, supaya tidak lagi dilekati, oleh kotoran, maupun hal hal yang istimewa semasa hidupnya, sehingga hal ini tidak menyebabkan lantud pemarginya Sang Atma.

5. Melaspas Petulangan.
Ini bermakna membersihkan atau Nyapsap pekerjaan tukang wadah dan tukang petulangan.

6. Melebu Atau mekutang.
Bermakna membuang kotoran yang melekati sang Atma, termasuk pula stula sarira atau jasad manusia. Jasad manusia yang berasal dari unsur unsur Panca Maha Buta, dikembalikan ke asalnya yaitu Panca Maha Buta Agung, yaitu alam semesta ini yang disebut dengan Bhuh Loka.

7. Pemutaran Jenazah.
Jenasah diputar tigakali kekiri pada waktu berangkat dari rumah, pada persimpangan jalan, dan setelah sampai di Setra. Perputaran kekiri adalah simbolisasi turun. Kalau putaran kekanan adalah simbolisasi naik. Itulah sebabnya ada dua arah perputaran dalam upacara agama, yaitu Purwa Daksina perputaran kekanan, dan Presawiya perputaran kekiri. Perputaran Jenazah kekiri itu simbolisasi dari perjalanan menurun menuju bhuh loka atau alam bumi ini. Itulah sebabnya maka mekutang disebut dengan “Melebhu” baca melebu yang artinya menuju alam bumi ini. Dan Makna tiga kali ini adala suatu simbolisasi, dari pada mulainya perjalanan, tengah perjalanan, dan telah sampai ditempat tujuan.

8. Meletakan dipetulangan.
Ini bermakna bahwa sang Atma akan berjalan menghadap Hyang Widhi. Maka dari itu bentuk bentuk petulangan itu mempunyai suatu makna yang sangat dalam.

9. Membakar Jenazah atau pengawak sawa.
Ini mengandung arti symbolis, bahwa manusia diciptakan oleh Dewa Brahma ( Tri Murti ) dan setelah mati kembali lagi ke Dewa Brahma, atau menuju Brahma Loka.
Disamping itu juga mempunyai arti untuk mempercepat process penyatuan kembali ke unsur unsur Panca Maha Bhuta buana alit dengan unsur unsur Buwana agung.

10. Ngereka.
Mengandung makna mewujudkan kembali orang yang diabenkan itu dalam wujud yang lebih halus.

11. Sekah Tunggal.
Ini adalah pengawak atau perwujudan sarira orang yang diabenkan dalam wujud yang lebih halus. Apabila sekah tunggal itu berisi abu tulang sang pejah maka sekah ini disebut sekah asti.

12. Ngirim.
Ini adalah suatu symbolisasi melepas sang Atma menuju Bhwah loka / sering disebut dengan Nyalanang sang Atma.

13. Nganyut.
Menghanyutkan pengawak atau tawulan, sehingga menjadi lenyap – Sang Atma menuju Wisnu Loka ( menghanyutkan – ke Air ), terkadang ada suatu pengharapan semoga yang dihanyutkan itu kelak dilaut akan bertemu dengan partikelnya sungai Gangga, yang bermuara di laut.

14. Mekalamigi.
Berarti menyapsap atau membersihkan sebel kandel keluarganya. Dan membersihkan rumahnya dari sebelan.

15. Pemuput karya.
Menghaturkan rasa terimakasih serta permaklumkan bahwa Upacara Ngaben telah selesai dilakukan.

16. Ngarorasin.
Mengandung makna bahwa batas waktu sasebelan perumahan sudah selesai, dalam hal ini sering ngerorasin ini dikonotasikan dengan 12 hari setelah palebon. Maksudnya bukan demikian, karena Upakaranya yang disebut dengan Ngerorasin, karena ngerorasin ini bisa dilaksanakan segera setelah Pelebuan selesai ( catur Dresta ).

ISTILAH DALAM LOKAPALA SRAYA.

a) Ngastawa, adalah melakukan stuti dan stawa kehadapan Hyang Widi Wasa, dalam konteks kontek tertentu dalam upakara Ngaben.

b) Ngaskara adalah melakukan penyucian roch orang yang diabenkan, untuk bisa menjadi Pitara. Sebelum askara dilakukan maka rochnya disebut petara / Petala/I atau atma petara karena masih kotor, sering disebut dengan “Bhuta Cuil”

c) Narpana. Memberikan pabuktian atau bekal, di alam loka berupa hidangan, pakaian dan lain lain.

d) Mralina. Melebur atau memisahkan purusa dan prakerti orang yang diabenkan untuk dikembalikan ke sumbernya masing masing.
Purusa dikembalikan ke Maha Purusa, dan Prakerti dikembalikan ke Panca Maha Bhuta Agung. Atau dengan lain perkataan bahwa mralina melepas sang Atma.

e) Tirta – Tirta.
Tirta Penyudamala.
Pebersihan pengelukatan
Tirta Hyang Kemulan Kemimitan / Kawitan
Tirta Kahyangan Tiga
Tirta Prajapati
Pengentas
Penembak

Akan dijelaskan Pada “PITRA YADNYA” IV

Pitra Yadnya

PITRA – YADNYA – Bagian II

Pada bagian Pitra Yadnya yang ke I telah kita lewati : yaitu berkaitan dengan “Wahya” Beryadnya kepada orang tua yang masih hidup, kiranya hal ini tidak perlu diulas lebih panjang lagi karena kebanyakan yang kita terapkan adalah ilmu katon, sehingga kita bisa dengan gampang mengitrospeksi diri kita masing masing karena umumnya kita jalani hidup ini dengan cara yang realistik.

Selanjutnya mari kita bicarakan Pitra Yadnya dari segi “Adhyatmika”.
Yang tujuannya tiada lain adalah :
1. Menyucikan arwah leluhur atau Orang tua, fase pertama sehingga arwahnya bisa mencapai Bhuah loka yaitu alam Pitara. Di dalam Ngaben terdiri dari pemisahan Purusa dan prakerti Jiwatman dgn stula sarira atau badan wadag.
Jiwatman yang berasal dari Hyang Widhi dikembalikan Kembali ke Hyang Widi, dan stula sarira dikembalikan lagi ke Panca Maha Buta-agung atau alam semesta atau ini melalui proses Pralina. ( ini adalah tujuan ngaben yang pertama ).

2. Tujuan Ngaben yang kedua
Adalah untuk membayar hutang kepada orangtua / leluhur ( lihat Pitra Yadnya bagian yang I). Lihat Tri Renam.
Hutang jasa yang dimaksudkan dalam Pitre Rnam adalah : Orangtua yang mereka-reka kita sehingga kita lahir, maka itulah orangtua disebutkan dengan nama Guru Rupaka ( lihat catur guru). Orangtua adalah merupakan Dewa skala, yang menggadakan si anak, karena dengan adanya pertemuan Sukla – swanita itulah atma akan menjiwai manusia.
Inilah landasan kita berbakti setulus tulusnya terhadap Orangtua / leluhur.
Orangtua mempunyai hubungan timbal balik, yang diwjudkan dalam upacara Ngaben.
Dalam Upacara Ngaben terkandung dualisme, yaitu orangtua yang mengadakan anaknya melalui process ciptaan dan setelah orang tua meninggal, anaknya yang mengembalikan orangtuanya ke asal yang disebut dengan “Mulihing Sangkan Paran”
Demikianlah prinsip dalam ajaran Putra sesana.

Nah untuk menghilangkan kerancuan dari pada pengertian Pitra Yadnya dalam katagori Adhyatmika, selanjutnya mari kita bahas apasaja agenda yang tercakup dalam Adhyatmika ini diantaranya adalah :

1. Atiwa – tiwa
2. Ngaben
3. Mamukur
4. Ngalinghgihan Dewa Pitara.

Namun tidaklah salah, terkadang orang membicarakan Ngaben, yang dimaksud adalah kesemua rangkaian dari Upacara Adhyatmika diatas tsb, supaya tidak menimbulkan pengertian yang bias mari kita perhatikan arti & makna dari tahapan upakara tersebut diatas.

1. Atiwa – Tiwa.
Tiwa-tiwa adalah Upacara & tatacara merawat Jenazah seperti : Memandikan, memberi ramuan ramuan, mendandani, menggulung dan sebagainya yang sering kita dengar dengan acara meringkes sampai Jenazah dikuburkan ( mekingsan baik dipertiwi, maupun di geni ) sebelum dilakukan upacara ngaben.
Apabila saat itu juga dilanjutkan dengan upacara ngaben, atiwa-tiwanya sampai dengan Jenazah diletakan di balai. ( baca lontar pretekaning wong pejah )
Upacara penguburan Jenazah, adalah upacara yang sudah berjalan dari jaman pra sejarah Indonesia yang disebutkan dengan asal kata Tiwah. Konon sebutan ini masih dipergunakan oleh rekan kita yang berada di Tanah Toraja & Kalimantan Pedalaman.

2. Ngaben.
Mengenai difinisi Ngaben, sudah sering sekali titiang postingkan dalam Posting posting yang sudah lewat, baik dalam arti kata, maupun maksud dan tujuannya ( lihat posting yang sudah lewat mengenai Ngaben.
Nah Untuk Ngaben ini, akan saya jelaskan tersendiri dalam Pitra Yadnya ke IV.

3. Mamukur.
Berasal dari kata Bukur, kata bukur adalah akronim dari kata Bu (bhu) = alam sedangkan ur merupakan perpendekan dari Urdah=atas. Jadi kata bhukur berarti menuju alam atas atau swah loka.
Upacara memukur adalah merupakan penyucian Roch dalam fase ke dua., untuk mendapatkan atau mencapai swah loka, dan Upacara ini juga disebut Upacara “MALIGYA”.

4. Ngelinggihan Dewapitara.
Mgeliggihan Dewa Pitara, rangkaian upacara atmapratista, yaitu ngelinggihan roch suci yang disebut Dewapitara, yang sering disebut dengan pelinggih Kemulan kemimitan didalam Sanggah gede, merajan, Tempatnya sebelah Kanan tersendiri, ciri khasnya adalah rong tiga,
Ciri khas pelinggih : Gedong, rong, ( beratap ) adalah merupakan Stana dari pada mereka yang pernah terlahirkan. Sedangkan Padmasana ( yang tak beratap ) Stana dari Hyang Maha tunggal yang tak pernah terlahirkan.

Terkadang disuatu tempat, ada sampai sanggah / merajan kemulannya sampai berentet rentet, karena filosofinya setiap mereka yang meninggal, dibuatkan rong tiga yang baru, sehingga merajannya sampai sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia…..?
Terkecuali karena Populasi pamekaran maka dibuatlah merajan yang baru dimana ditempatnya yang baru tersebut jauh dari tempat sanggah gedenya.
Upacara ini / ngelinggihan ini lah disebut dengan Upacara “Nilapati”.
(menurut Loca Dresta ditempat kami Tabanan ) disini akan ada istilah seperti berikut :
Petala = Roch para leluhur yang belum menjalani fase Ngelinggihan Dewapitara.
Pitara, terkadang Betara = sebutan para roch leluhur yang sudah melaksakan fase ini.

Demikianlah tingkatan Upacara dalam Adhyatmika ini, selanjutnya sebelum membahas Ngaben itu sendiri ikutilah dulu lambang / istilah / symbolisasi dan makna dalam upacara
PITRA YADNYA KE III

Minggu, 28 Juni 2009

Pertemuan Tempek

Pertemuan tempek Sarua tanggal 28 juni 2009 di rumah Pak Agung Somadiputra. Saat itu dibahas mengenai rencana piodalan Pura Cinere dan Pura Lenteng Agung tanggal 7 Juli dan 11 Juli 2009. Kewajiban tempek pada odalan di Pura Lenteng Agung adalah membuat caru bebek angsa.


























































Minggu, 21 Juni 2009

Suatu Pengalaman

Tidak ada jeleknya saya memuat cerita percakapan seorang hamba Tuhan yang dari pengalaman tersebut lalu kemudian coba diterapkan dalam hidupnya dan menuai keberhasilan. Tidak berbeda barangkali dan ada kesamaan dengan nasehat orang tua atau para bijak yang intinya adalah :
1. Jangan lupakan orang tuamu, khususnya ibumu
2. Banyaklah memberi
3. Banyaklah menolong
4. Jangan mempermainkan wanita

Berikut cerita pengalaman lengkapnya.
Berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, saya dipertemukan dengan hamba-Nya yang satu ini. Beliau adalah seorang leader yang selalu mengayomi, memberikan bimbingan, semangat, inspirasi, ide dan gagasan segar. Beliau seorang pemimpin yang mampu menggerakkan ratusan hingga ribuan anak buahnya. Beliau seorang guru yang memiliki lautan ilmu, yang selalu siap ditimba oleh anak-anaknya dan bagai tiada pernah habis.Saat ini beliau memiliki berbagai macam bidang usaha, di antaranya sebagai supplier dan distribusi alat dan produk kesehatan, puluhan hektar tambak, puluhan hektar ladang, berpuluh rumah kos, ruko, stand penjualan di mall, apartemen dan lain-lain. Pernah saya mencoba menghitung, penghasilan beliau bisa mencapai Rp 1 Milyar per bulannya. Sebuah pencapaian luar biasa bagi saya dan kebanyakan orang lain.Pertemuan antara saya dan beliau yang saya ceritakan di bawah ini terjadi beberapa tahun yang lalu, di saat penghasilan beliau masih berkisar Rp 200 juta per bulan. Bagi saya, angka ini pun sudah bukan main dahsyatnya. Sengaja saya tidak menyebutkan namanya, karena cerita ini saya publish belum mendapatkan ijin dari beliau. Kita ambil wisdomnya saja ya.
Suatu hari, terjadilah dialog antara saya dengan beliau di serambi sebuah hotel di Bandung . Saya ingat, beliau berpesan bahwa beliau senang ditanya. Kalau ditanya, maka akan dijelaskan panjang lebar. Tapi kalau kita diam, maka beliau pun akan "tidur". Jadilah saya berpikir untuk selalu mengajaknya ngobrol. Bertanya apa saja yang bisa saya tanyakan.Sampai akhirnya saya bertanya secara asal, "Pak, Anda saat ini kan bisa dibilang sukses. Paling tidak, lebih sukses daripada orang lain. Lalu menurut Anda, apa yang menjadi rahasia kesuksesan Anda?"Tak dinyana beliau menjawab pertanyaan ini dengan serius." Ada empat hal yang harus Anda perhatikan," begitu beliau memulai penjelasannya.
RAHASIA PERTAMA
"Pertama. Jangan lupakan orang tuamu, khususnya ibumu. Karena ibu adalah orang yang melahirkan kita ke muka bumi ini. Mulai dari mengandung 9 bulan lebih, itu sangat berat. Ibu melahirkan kita dengan susah payah, sakit sekali, nyawa taruhannya. Surga di bawah telapak kaki ibu. Ibu bagaikan pengeran katon (Tuhan yang kelihatan). Banyak orang sekarang yang salah. Para guru dan kyai dicium tangannya, sementara kepada ibunya tidak pernah. Para guru dan kyai dipuja dan dielukan, diberi sumbangan materi jutaan rupiah, dibuatkan rumah; namun ibunya sendiri di rumah dibiarkan atau diberi materi tapi sedikit sekali. Banyak orang yang memberangkatkan haji guru atau kyainya, padahal ibunya sendiri belum dihajikan. Itu terbalik. Pesan Nabi : Ibumu, ibumu, ibumu... baru kemudian ayahmu dan gurumu.Ridho Allah tergantung pada ridho kedua orang tua. Kumpulkan seribu ulama untuk berdoa. Maka doa ibumu jauh lebih mustajabah." Beliau mengambil napas sejenak.
RAHASIA KEDUA
"Kemudian yang kedua," beliau melanjutkan. "Banyaklah memberi. Banyaklah bersedekah. Allah berjanji membalas setiap uang yang kita keluarkan itu dengan berlipat ganda. Sedekah mampu mengalahkan angin. Sedekah bisa mengalahkan besi. Sedekah membersihkan harta dan hati kita. Sedekah melepaskan kita dari marabahaya. Allah mungkin membalas sedekah kita dengan rejeki yang banyak, kesehatan, terhindarkan kita dari bahaya, keluarga yang baik, ilmu, kesempatan, dan lain-lain.Jangan sepelekan bila ada pengemis datang meminta-minta kepadamu. Karena saat itulah sebenarnya Anda dibukakan pintu rejeki. Beri pengemis itu dengan pemberian yang baik dan sikap yang baik. Kalau punya uang kertas, lebih baik memberinya dengan uang kertas, bukan uang logam. Pilihkan lembar uang kertas yang masih bagus, bukan yang sudah lecek. Pegang dengan dua tangan, lalu ulurkan dengan sikap hormat kalau perlu sambil menunduk (menghormat). Pengemis yang Anda beri dengan cara seperti itu, akan terketuk hatinya, 'Belum pernah ada orang yang memberi dan menghargaiku seperti ini.' Maka terucap atau tidak, dia akan mendoakan Anda dengan kelimpahan rejeki, kesehatan dan kebahagiaan.Banyak orang yang keliru dengan menolak pengemis yang mendatanginya, bahkan ada pula yang menghardiknya. Perbuatan itu sama saja dengan menutup pintu rejekinya sendiri.Dalam kesempatan lain, ketika saya berjalan-jalan dengan beliau, beliau jelas mempraktekkan apa yang diucapkannya itu. Memberi pengemis dengan selembar uang ribuan yang masih bagus dan memberikannya dengan dua tangan sambil sedikit membungkuk hormat. Saya lihat pengemis itu memang berbinar dan betapa berterima kasihnya.
RAHASIA KETIGA
"Allah berjanji memberikan rejeki kepada kita dari jalan yang tidak disangka-sangka," begitu beliau mengawali penjelasannya untuk rahasia ketiganya. "Tapi sedikit orang yang tahu, bagaimana caranya supaya itu cepat terjadi? Kebanyakan orang hanya menunggu. Padahal itu ada jalannya.""Benar di Al Quran ada satu ayat yang kira-kira artinya : Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya diadakan-Nya jalan keluar baginya dan memberinya rejeki dari jalan/pintu yang tidak diduga-duga", saya menimpali (QS Ath Thalaq 2-3)."Nah, ingin tahu caranya bagaimana agar kita mendapatkan rejeki yang tidak diduga-duga?," tanya beliau."Ya, bagaimana caranya?" jawab saya. Saya pikir cukup dengan bertaqwa, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka Allah akan mengirim rejeki itu datang untuk kita."Banyaklah menolong orang. Kalau ada orang yang butuh pertolongan, kalau ketemu orang yang kesulitan, langsung Anda bantu!" jawaban beliau ini membuat saya berpikir keras. "Saat seperti itulah, Anda menjadi rejeki yang tidak disangka-sangka bagi orang itu. Maka tentu balasannya adalah Allah akan memberikan kepadamu rejeki yang tidak disangka-sangka pula.""Walau pun itu orang kaya?" tanya saya."Ya, walau itu orang kaya, suatu saat dia pun butuh bantuan. Mungkin dompetnya hilang, mungkin ban mobilnya bocor, atau apa saja. Maka jika Anda temui itu dan Anda bisa menolongnya, segera bantulah.""Walau itu orang yang berpura-pura? Sekarang kan banyak orang jalan kaki, datang ke rumah kita, pura-pura minta sumbangan rumah ibadah, atau pura-pura belum makan, tapi ternyata cuma bohongan. Sumbangan yang katanya untuk rumah ibadah, sebenarnya dia makan sendiri," saya bertanya lagi."Ya walau orang itu cuma berpura-pura seperti itu," jawab beliau. "Kalau Anda tanya, sebenarnya dia pun tidak suka melakukan kebohongan itu. Dia itu sudah frustasi karena tidak bisa bekerja atau tidak punya pekerjaan yang benar. Dia itu butuh makan, namun sudah buntu pikirannya. Akhirnya itulah yang bisa dia lakukan. Soal itu nanti, serahkan pada Allah. Allah yang menghakimi perbuatannya, dan Allah yang membalas niat dan pemberian Anda."
RAHASIA KEEMPAT
Wah, makin menarik, nih. Saya manggut-manggut. Sebenarnya saya tidak menyangka kalau pertanyaan asal-asalan saya tadi berbuah jawaban yang begitu serius dan panjang. Sekarang tinggal satu rahasia lagi, dari empat rahasia seperti yang dikatakan beliau sebelumnya."Yang keempat nih, Mas," beliau memulai.
"Jangan mempermainkan wanita".Hm... ini membuat saya berpikir keras. Apa maksudnya. Apakah kita membuat janji dengan teman wanita, lalu tidak kita tepati? Atau jangan biarkan wanita menunggu? Seperti di film-film saja."Maksudnya begini. Anda kan punya istri, atau suami. Itu adalah pasangan hidup Anda, baik di saat susah maupun senang. Ketika Anda pergi meninggalkan rumah untuk mencari nafkah, dia di rumah menunggu dan berdoa untuk keselamatan dan kesuksesan Anda. Dia ikut besama Anda di kala Anda susah, penghasilan yang pas-pasan, makan dan pakaian seadanya, dia mendampingi Anda dan mendukung segala usaha Anda untuk berhasil.""Lalu?" saya tak sabar untuk tahu kelanjutan maksudnya."Banyak orang yang kemudian ketika sukses, uangnya banyak, punya jabatan, lalu menikah lagi. Atau mulai bermain wanita (atau bermain pria, bagi yang perempuan). Baik menikah lagi secara terang-terangan, apalagi diam-diam, itu menyakiti hati pasangan hidup Anda. Ingat, pasangan hidup yang dulu mendampingi Anda di kala susah, mendukung dan berdoa untuk kesuksesan Anda. Namun ketika Anda mendapatkan sukses itu, Anda meninggalkannya. Atau Anda menduakannya."Oh... pelajaran monogami nih, pikir saya dalam hati."Banyak orang yang lupa hal itu. Begitu sudah jadi orang besar, uangnya banyak, lalu cari istri lagi. Menikah lagi. Rumah tangganya jadi kacau. Ketika merasa ditinggalkan, pasangan hidupnya menjadi tidak rela. Akhirnya uangnya habis untuk biaya sana-sini. Banyak orang yang jatuh karena hal seperti ini. Dia lupa bahwa pasangan hidupnya itu sebenarnya ikut punya andil dalam kesuksesan dirinya," beliau melanjutkan.Hal ini saya buktikan sendiri, setiap saya datang ke rumahnya yang di Waru Sidoarjo, saya menjumpai beliau punya 1 istri, 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan.Perbincangan ini ditutup ketika kemudian ada tamu yang datang....

Sumber dari millis tetangga

Kamis, 30 April 2009

Menangkal Guna-guna


Oleh Mangku Danu

1. Cara yang paling sederhana dan ampuh
Mantra/cara penangkal yang paling sederhana yaitu rajin sembahyang dan berjapa. Orang yg bisa kena guna-guna adalah org yang sistem kekebalan tubuhnya (baik phisik, mental, spirit) lemah.
cara paling ampuh adalah menjaga agar sistem kekebalan tubuh tetap pit dengan sembahyang dan japa.
Tapi ada cara lain yaitu dengan menggunakan mantra di bawah ini, mudah-mudahan dapat membantu semeton/umat se-Dharma semuanya. Hal ini karena sudah saya buktikan sendiri di banyak kesempatan dan juga oleh orang yg telah menggunakannya, sekali lagi ini bukan pamer tapi semata-mata untuk pasemetonan/kebaikan kita semua.

2. Mantra Brahma Gading sewu

Mantra ini di ambil dari lontar yang berjudul Usada Gading Sewu, nama gading sewu ini masih belum di temukan arti sesungguhnya. Ada yang mengartikan Kelapa Gading, ada juga yang mengatakan Bambu gading, namun bila di lihat dari penggunanya lebih mendekati Kelapa gading sebab ada air kelapa gading yang di gunakan dalam usada.
Awal lontar ini bercerita tentang Mpu Kuturan yang sangat hebat memiliki ilmu pengobatan dan spiritual sehingga amat sakti dan di takuti oleh musuh serta di seganai kawan-kawan beliau. Lontar ini berbahasa Kawi Bali dan sangat di rahasiakan oleh para balian, namun banyak yang gagal mempelajarinya di karenakan kurang peterjemah yang bagus.
· Bunyi mantra sebagai berikut:

“Ong ngadeg sanghyang Bayu ring tungtungin lidah, ang brahma gni murub kadi kala rupa anyapuh sarwa lara”,

· Langkah berikutnya tarik dan tahan nafas di NABI ( Swadistana charka ) dan hembuskan ke kelapa gading, waktu menghembuskan nafas lidah di lipat ke lagit-langit. RAHASIAKAN !!!! 7 X Baca.
· Rerajahan.
Di butuhkan tembaga tipis lalu di tulisi ( rajah Angkara )untuk di masukan dan rendam di kelapa gading dan mantra pengurip untuk rerajahan dengan mantra:

“ong Sanghyang pasupati ngadeg ring bayu, urip sarwa rerajahan, poma, poma, poma” 3X

Kegunaan:
Untuk meruwat, menghilangkan segala jenis penyakit, yang datangnya tidak di ketahui, baik dari manusia, bhuta, dan mahkluk gaib, termasuk pepasangan, bebai, dan guna-guna Caranya di minum atau pakai mandi, di isi dengan kembang PUCUK BANG

3. Mantra Brahma Sapu Jagat

Mantra ini juga lanjutan dari mantra yang di atas, di gunakan untuk melindung diri, rumah, dari gangguan makhluk halus maupun roh-roh jahat.

Bunyi mantra :

“Ong brahma metu saking kidul, gni bang saking netra, gni petak saking cangkem, gni salembang saking buana, ong urip dasa gni”, 12x.

Cara konsentrasi:
Pertama-tama rasakan kekuatan api dari alam masuk ke ubun-ubun, lalu kumpulkan di pusar sambil menahan nafas, langkah selanjutnya bawa api itu dengan niat untuk keluar dari mata dan mulut.

Kegunaan dari mantra di atas:
Apabila mau melindungi rumah atau NYENGKER buatlah serbuk dari beras, lalu baca mantra, taburkan serbuk itu di pekarangan keliling arah jarum jam terbalik.
Bila tidak ada serbuk beras bisa di gunakan ABU dari Dapur, caranya sama seperti yang di atas.
Mantra-mantra di atas bisa juga di baca untuk, pergi atau memasuki tempat kuburan, dan angker, karena sesungguhnya mantra itu anugrah dari Dewa Siwa.

Om Santih Santih Santih Om …..

Sumber: Mangku Danu

Rabu, 22 April 2009

Perempuan Hindu

Om Swastyastu…..


WANITA MENURUT PANDANGAN HINDU


Oleh Jro Mangku Istri Putu Suponi

Hemm … Biasanya, sangatlah jarang Wanita / Istri Hindu muncul dalam suatu publik, apakah memang demikian…......................….. ? Kalau toh memang benar agak sulit untuk menulusuri sebenarnya apasih yang menyebabkan demikian,...............................................….. ?
Lebih lebih lagi kalau beliau itu statusnya sebagai pemangku istri, adalah sangat jarang untuk muncul tegar didepan publik, apakah karena kesibukan, sesananing pemangku, atau sudah memang sudah dari dulu culture Luh Luh Bali, ada sesonggan ede sube sekolah tinggi tinggi, paling akhirnya ke dapur……...................................... ?
apakah memang ditakdirkan sudah demikian…............................… ?

Wanita sangat diperhatikan sebagai penerus keturunan dan sekaligus sarana terwujudnya Punarbhava atau re-inkarnasi, sebagai salah satu srada (kepercayaan/ keyakinan) Hindu. Sejak mengalami menstruasi pertama, seorang wanita sudah dianggap dewasa, dan juga merupakan ciri/tanda bahwa ia mempunyai kemampuan untuk hamil. Oleh karena itu peradaban lembah sungai Indus di India sejak beribu tahun lampau senantiasa menghormati dan memperlakukan wanita secara hati-hati terutama ketika ia menstruasi. Wanita yang sedang menstruasi dijaga tetap berada didalam kamar agar terlindung dari mara bahaya.

Lihatlah kisah Mahabharata ketika Drupadi, istri Pandawa, yang sedang menstruasi menjadi korban taruhan kekalahan berjudi Dharmawangsa dari Pandawa melawan Sakuni di pihak Korawa. Ia diseret keluar dan coba ditelanjangi oleh Dursasana di depan sidang. Dewa Dharma melindungi Drupadi sehingga kain penutup badan Drupadi tidak pernah habis, tetap melindungi tubuh walau bermeter-meter telah ditarik darinya. Sejak awal Drupadi sudah mengingatkan Dursasana, bahwa ia sedang haid, tidak boleh diperlakukan kasar dan dipaksa demikian. Akhirnya dalam perang Bharatayuda, Dursasana dibinasakan Bima, dan Drupadi menebus kaul dengan mencuci rambutnya dengan darah Dursasana.

Wanita yang sedang menstruasi harus diperlakukan khusus karena di saat itu ia memerlukan ketenangan phisik dan mental. Namun perkembangan tradisi beragama Hindu di Bali menjadi berbeda, seperti yang disebutkan dalam Lontar Catur Cuntaka, bahwa wanita yang sedang haid tergolong "cuntaka" atau "sebel" atau dalam bahasa sehari-hari disebut kotor, sehingga ia dilarang sembahyang atau masuk ke Pura. Ini perlu diluruskan sesuai dengan filosofi Hindu yang benar.

Wanita dewasa hendaknya dinikahkan dengan cara-cara yang baik, sesuai dengan Kitab Suci Manava Dharmasastra III. 21-30, yaitu menurut cara yang disebut sebagai Brahmana, Daiva, Rsi dan Prajapati. Brahmana wiwaha adalah pernikahan dengan seorang yang terpelajar dan berkedudukan baik; Daiva wiwaha adalah pernikahan dengan seorang keluarga Pendeta; Rsi wiwaha adalah pernikahan dengan mas kawin; dan Prajapati wiwaha adalah pernikahan yang direstui oleh kedua belah pihak.

Di masyarakat Hindu modern dewasa ini sering ditemui cara perkawinan campuran dari cara-cara yang pertama, ketiga dan keempat. Singkatnya, perkawinan yang baik adalah dengan lelaki yang berpendidikan, berbudi luhur, berpenghasilan dan disetujui oleh orang tua dari kedua pihak. Selanjutnya dalam Kitab Suci itu juga diulas bahwa pernikahan adalah "Dharma Sampati" artinya "tindakan Dharma" karena melalui pernikahan, ada kesempatan re-inkarnasi bagi roh-roh leluhur yang diperintahkan Hyang Widhi untuk menjelma kembali sebagai manusia.
Dalam tinjauan Dharma Sampati itu terkandung peranan masing-masing pihak yaitu suami dan istri yang menyatu dalam membina rumah tangga. Istri disebut sebagai pengamal Dharma dan suami disebut sebagai pengamal Shakti.

Peranan istri dapat dikatakan sebagai pengamal Dharma, karena hal-hal yang dikerjakan seperti mengandung, melahirkan, memelihara bayi dan seterusnya mengajar dan mendidik anak-anak, mempersiapkan upacara-upacara Hindu di lingkungan rumah tangga, menyayangi suami, merawat mertua, dan lain-lain. Peranan suami dapat dikatakan sebagai pengamal Shakti, karena dengan kemampuan pikiran dan jasmani ia bekerja mencari nafkah untuk kehidupan rumah tangganya. Kombinasi antara Dharma dan Shakti ini menumbuh-kembangkan dinamika kehidupan. Oleh karena itu pula istri disebut sebagai "Pradana" yang artinya pemelihara, dan suami disebut sebagai "Purusha" artinya penerus keturunan.

Bila perkawinan disebut sebagai Dharma, maka sesuai hukum alam (Rta): rwa-bhineda (dua yang berbeda), maka ada pula yang disebut Adharma. Dalam hal ini perceraian adalah Adharma, karena dengan perceraian, timbul kesengsaraan bagi pihak-pihak yang bercerai yaitu suami, istri, anak-anak, dan mertua. Maka dalam agama Hindu, perceraian sangat dihindari, karena termasuk perbuatan Adharma atau dosa.

Istri harus dijaga dengan baik, disenangkan hatinya, digauli dengan halus sesuai dengan hari-hari yang baik sebagaimana disebut dalam

Manava Dharmasastra III.45:
Rtu kalabhigamisyat,
Swadharaniratah sada,
Parvavarjam vrajeksainam,
Tad vrato rati kamyaya".

Hendaknya suami menggauli istrinya dalam waktu-waktu tertentu dan merasa selalu puas dengan istrinya seorang, ia juga boleh dengan maksud menyenangkan hati istrinya mendekatinya untuk mengadakan hubungan badan pada hari-hari yang baik

Selanjutnya MD III.55:
Pitrbhir bhatrbhis,
Caitah patibhir devaraistatha,
Pujya bhusayita vyasca,
Bahu kalyanmipsubhih.

Istri harus dihormati dan disayangi oleh mertua, ipar, saudara, suami dan anak-anak bila mereka menghendaki kesejahteraan dirinya.
Ucapan sorga ada di tangan wanita bukanlah suatu slogan kosong, karena ditulis dalam

MD.III.56:
Yatra naryastu pujyante,
Ramante tatra devatah,
Yatraitastu na pujyante,
Yarvastatraphalah kriyah.

Di mana wanita dihormati, di sanalah para Dewa-Dewa merasa senang, tetapi di mana mereka tidak dihormati, tidak ada upacara suci apapun yang akan berpahala.

Lebih tegas lagi dalam sloka berikutnya:
MD.III. 57 :
Socanti jamayo yatra,
Vinasyatyacu tatkulam,
Na socanti tu yatraita,
Vardhate taddhi sarvada.

Di mana wanita hidup dalam kesedihan,
keluarga itu akan cepat hancur,
tetapi di mana wanita tidak menderita,
keluarga itu akan selalu bahagia.

Orang yang Putusasa adalah mereka yang tidak mampu mengambil Hikmah dari suatu kejadian, akhirnya hanya menyalahkan karunia Tuhan.

Selamat hari Kartini untukmu perempuan Indonesiaku – semoga memberi inspirasi.

Om Santih Santih Santih Om …..

Sumber: JMS