Jumat, 09 Oktober 2009

Doa Bersama Peletakan Batu Pertama Pembangunan Pagar 10-10-2009 & Bakti Sosial 11-10-2009

Om Swastiastu,

Yth, Bapak dan Ibu
Umat Sedharma
Banjar Swadharma Krama Serpong,
Sesuai dengan hasil rapat panitia kecil Hari Sabtu, tanggal 26 September 2009 yang lalu, telah disepakati dan direncanakan acara doa bersama untuk peletakan batu pertama dimulainya pembangunan tembok penyengker pembatas area fasos-fasum Pure BSD/Tangsel, yang akan dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 10 Oktober 2009 jam 10 pagi di lokasi Pure BSD.
Panitia mengundang Bapak dan Ibu untuk sama-sama mendoakan dan menyaksikan acara tersebut sebagai langkah awal dimulainya proyek pembangunan Pure BSD. Penyengker tersebut perlu dibangun lebih awal untuk membatasi akses masuk pihak luar ke area pure untuk mengamankan material (bahan-bahan yang akan digunakan dalam pembangunan). Acara berikutnya adalah Bakti Sosial Pengobatan Gratis untuk warga sekitar yang kurang mampu, pada hari Minggu, tanggal 11 Oktober 2009, mulai jam 9 pagi bertempat di Kantor Kelurahan Rawa Mekar Jaya.
Acara ini dibantu oleh para Dokter dan tenaga kesehatan Umat Hindu Jabodetabek yang dikordinasikan oleh Pak Agung Diatmika (Ketua PHDI Kabupaten Tangerang). Panitia juga mengharapkan bantuan dari bapak dan Ibu sekalian untuk terselenggaranya acara tersebut. Demikian kami informasikan, terima kasih atas ketersediaan Bapak dan Ibu sekalian. Om Santi Santi Santi Om, Wayan Suryana

Rabu, 22 Juli 2009

Pitra Yadnya

PITRA – YADNYA – Bagian IV

Pada bagian Pitra Yadnya yang ke I telah kita lewati : yaitu berkaitan dengan “Wahya”
Sedangkan untuk Pitrayadnya yang ke II sudah kita tinjau dari sisi “Ahdyatmikanya”.
Pitra-Yadnya yang ke III. Berkaitan dengan makna dan Symbolisasi.

Jadi untuk Pitra-Yadnya yang ke IV kita akan bahas khusus memandikan Jenazah.

PELAKSANAAN MEMANDIKAN JENAZAH.
1. Jenazah dibawa ketempat memandikan ( pepagan, dipan, Meja, atau dirumah sakit )
- Pakaiannya dibuka, mukanya ditutup dengan angkeb rai, dan kemaluannya ditutup dengan tutup baga.
- Pelaksanaan pemandian dilaksanakan oleh rohaniawan
- Pertama tama tutup muka dibuka, mulai dengan sisig dari beras yang dibakar, dilanjutkan kramas dengan santan kelapa.
- Siram dengan air bersih disabun sampai bersih, lalu dilap dengan handuk.

Memasang reramuan.
- Kekosok seluruh badan
- Boreh dan pemblonyoh, putih dikepala, kuning di kaki
- Kerik kuku tangan dan kaki
- Disiram dengan air kembang/wangi, lalu digelinding dengan telur ayam mentah dari kepala sampai kekaki.

2. Etik – etik pembersihan.
- Daun intaran : Pada alis / kening
- Gadung / sekapa : Pada dada.
- Pusuh menur : Pada lubang hidung
- Pecahan cermin : Pada mata
- Waja : Pada Gigi
- Daun tuwung : Pada kemaluan laki laki
- Bunga tunjung : Pada kemaluan wanita.
Kesemuanya ini tujuannya adalah untuk kesempurnaan unsur unsur Panca Indriya.

3. Bebek :
Boreh dan anget anget dipasang pada perut, maksudnya untuk menikmati kesucian.
Minyak wangi di rambut kepala.

4. Kwangen :
- Satu buah dipasang di kepala.
- Satu buah dipasang diuluhati
- Satu buah dipasang didada
- Dua buah dipasang di tangan kanan & kiri.
- Dua buah dilutut kanan dan kiri.

5. Mengenakan kain.
- Pertama tama kain, lalu sabuk
- Kedua sesaputan dengan sabuknya.
- Udeng
- Tangan dan kaki meitik itik ( Ibu jari kedua tangan dan ibu jari kedua kaki )
- Rohaniawan maktiang ke Surya, setelah itu metirta
- Ngayab bubur pirata, nasi angkeb dan saji.

6. Mepegat ( Lihat symbol / makna mepegat )
Mepegat dilaksanakan apabila, langsung pelaksanaan penguburan / perabuan.
Bagi keluarganya ngebaktiyang.

7. Ngeringkes Sawa
Setelah meitik –itik lalu digulung / dibungkus dengan kain putih ( kain pengelelet ).
Dipocong, satu diikat dikepala, kedua diikat dibadan, dan ketiga di kaki. Setelah itu Jenazah dimasukan kedalam peti, ditaruh seperti orang tidur dengan bantal kecil di kepala. Didekat kepala ditaruh daksina Pejatian, canang, beras catur warna, segehan diluar peti / teben.

8. Maktiang ke Surya :
Setelah mayat dimasukan kedalam peti, dan ditaruh pada tempat yang telah disediakan, maka petugas rohaniawan menjalankan upacara. Memercikan tirta tirta pebersihan, Pengelukatan, dan tirta tirta dari Kahyangan, selanjutnya para sanak saudaranya menyembah, setelah itu baru kemudian bungkusnya dirapihkan, dan barang barang yang diperlukan ditaruh didalamnya yang diperlukan ntuk bekelnya.
Kemudian tutup petinya dipasang, sebelum berangkat, maka para keluarganya mepegat, masuk kebawah peti Jenazah dari arah kaki kekepala, berputar kekiri sebanyak tiga kali sebagai perpisahan untuk melepas kepergian sang yang meninggal ( mati – nggal )
Selanjutnya berangkat kekuburan.

Selanjutnya…..Menguburkan / Memprabukan. Pitra-Yadnya ke V.
JMS.

Pitra Yadnya

PITRA – YADNYA – Bagian III

Pada bagian Pitra Yadnya yang ke I telah kita lewati : yaitu berkaitan dengan “Wahya”. Sedangkan untuk Pitrayadnya yang ke II sudah kita tinjau dari sisi “Ahdyatmikanya”.
Sebelum kita mulai terjun ke Upakaranya, mari kita lihat dulu makna dan simbolisasi dalam Upakara ini sehingga kita tidak akan bingung dengan adanya istilah istilah yang akan muncul.

1. Memandikan Jenazah :
Upakara memandikan Jenazah dengan peralatan dan tatacaranya disebut dengan Atiwa-tiwa, yang bermakna bahwa orang yang meninggal itu “mepeningan” atau mesucian, karena arwahnya akan meninggalkan Bhuh loka menuju Bhwah loka, yaitu alam pitara atau alam astral.

2. Meletakan Jenazah dibalai.
Ini bermakna, orang yang meninggal itu, kini telah siap untuk menerima pengabenan, yang diperuntukan kepadanya.

3. Ngendag atau ngulapin ke Setra.
Ini melambangkan atau memberitahukan kepada roch, Informasi bahwa orang yang di abenkan itu, diulapin / diajak pulang untuk diabenkan.

4. Mapegat.
Upacara ini mengandung makna menghilangkan mala atau kotoran pada sang Atma, supaya tidak lagi dilekati, oleh kotoran, maupun hal hal yang istimewa semasa hidupnya, sehingga hal ini tidak menyebabkan lantud pemarginya Sang Atma.

5. Melaspas Petulangan.
Ini bermakna membersihkan atau Nyapsap pekerjaan tukang wadah dan tukang petulangan.

6. Melebu Atau mekutang.
Bermakna membuang kotoran yang melekati sang Atma, termasuk pula stula sarira atau jasad manusia. Jasad manusia yang berasal dari unsur unsur Panca Maha Buta, dikembalikan ke asalnya yaitu Panca Maha Buta Agung, yaitu alam semesta ini yang disebut dengan Bhuh Loka.

7. Pemutaran Jenazah.
Jenasah diputar tigakali kekiri pada waktu berangkat dari rumah, pada persimpangan jalan, dan setelah sampai di Setra. Perputaran kekiri adalah simbolisasi turun. Kalau putaran kekanan adalah simbolisasi naik. Itulah sebabnya ada dua arah perputaran dalam upacara agama, yaitu Purwa Daksina perputaran kekanan, dan Presawiya perputaran kekiri. Perputaran Jenazah kekiri itu simbolisasi dari perjalanan menurun menuju bhuh loka atau alam bumi ini. Itulah sebabnya maka mekutang disebut dengan “Melebhu” baca melebu yang artinya menuju alam bumi ini. Dan Makna tiga kali ini adala suatu simbolisasi, dari pada mulainya perjalanan, tengah perjalanan, dan telah sampai ditempat tujuan.

8. Meletakan dipetulangan.
Ini bermakna bahwa sang Atma akan berjalan menghadap Hyang Widhi. Maka dari itu bentuk bentuk petulangan itu mempunyai suatu makna yang sangat dalam.

9. Membakar Jenazah atau pengawak sawa.
Ini mengandung arti symbolis, bahwa manusia diciptakan oleh Dewa Brahma ( Tri Murti ) dan setelah mati kembali lagi ke Dewa Brahma, atau menuju Brahma Loka.
Disamping itu juga mempunyai arti untuk mempercepat process penyatuan kembali ke unsur unsur Panca Maha Bhuta buana alit dengan unsur unsur Buwana agung.

10. Ngereka.
Mengandung makna mewujudkan kembali orang yang diabenkan itu dalam wujud yang lebih halus.

11. Sekah Tunggal.
Ini adalah pengawak atau perwujudan sarira orang yang diabenkan dalam wujud yang lebih halus. Apabila sekah tunggal itu berisi abu tulang sang pejah maka sekah ini disebut sekah asti.

12. Ngirim.
Ini adalah suatu symbolisasi melepas sang Atma menuju Bhwah loka / sering disebut dengan Nyalanang sang Atma.

13. Nganyut.
Menghanyutkan pengawak atau tawulan, sehingga menjadi lenyap – Sang Atma menuju Wisnu Loka ( menghanyutkan – ke Air ), terkadang ada suatu pengharapan semoga yang dihanyutkan itu kelak dilaut akan bertemu dengan partikelnya sungai Gangga, yang bermuara di laut.

14. Mekalamigi.
Berarti menyapsap atau membersihkan sebel kandel keluarganya. Dan membersihkan rumahnya dari sebelan.

15. Pemuput karya.
Menghaturkan rasa terimakasih serta permaklumkan bahwa Upacara Ngaben telah selesai dilakukan.

16. Ngarorasin.
Mengandung makna bahwa batas waktu sasebelan perumahan sudah selesai, dalam hal ini sering ngerorasin ini dikonotasikan dengan 12 hari setelah palebon. Maksudnya bukan demikian, karena Upakaranya yang disebut dengan Ngerorasin, karena ngerorasin ini bisa dilaksanakan segera setelah Pelebuan selesai ( catur Dresta ).

ISTILAH DALAM LOKAPALA SRAYA.

a) Ngastawa, adalah melakukan stuti dan stawa kehadapan Hyang Widi Wasa, dalam konteks kontek tertentu dalam upakara Ngaben.

b) Ngaskara adalah melakukan penyucian roch orang yang diabenkan, untuk bisa menjadi Pitara. Sebelum askara dilakukan maka rochnya disebut petara / Petala/I atau atma petara karena masih kotor, sering disebut dengan “Bhuta Cuil”

c) Narpana. Memberikan pabuktian atau bekal, di alam loka berupa hidangan, pakaian dan lain lain.

d) Mralina. Melebur atau memisahkan purusa dan prakerti orang yang diabenkan untuk dikembalikan ke sumbernya masing masing.
Purusa dikembalikan ke Maha Purusa, dan Prakerti dikembalikan ke Panca Maha Bhuta Agung. Atau dengan lain perkataan bahwa mralina melepas sang Atma.

e) Tirta – Tirta.
Tirta Penyudamala.
Pebersihan pengelukatan
Tirta Hyang Kemulan Kemimitan / Kawitan
Tirta Kahyangan Tiga
Tirta Prajapati
Pengentas
Penembak

Akan dijelaskan Pada “PITRA YADNYA” IV

Pitra Yadnya

PITRA – YADNYA – Bagian II

Pada bagian Pitra Yadnya yang ke I telah kita lewati : yaitu berkaitan dengan “Wahya” Beryadnya kepada orang tua yang masih hidup, kiranya hal ini tidak perlu diulas lebih panjang lagi karena kebanyakan yang kita terapkan adalah ilmu katon, sehingga kita bisa dengan gampang mengitrospeksi diri kita masing masing karena umumnya kita jalani hidup ini dengan cara yang realistik.

Selanjutnya mari kita bicarakan Pitra Yadnya dari segi “Adhyatmika”.
Yang tujuannya tiada lain adalah :
1. Menyucikan arwah leluhur atau Orang tua, fase pertama sehingga arwahnya bisa mencapai Bhuah loka yaitu alam Pitara. Di dalam Ngaben terdiri dari pemisahan Purusa dan prakerti Jiwatman dgn stula sarira atau badan wadag.
Jiwatman yang berasal dari Hyang Widhi dikembalikan Kembali ke Hyang Widi, dan stula sarira dikembalikan lagi ke Panca Maha Buta-agung atau alam semesta atau ini melalui proses Pralina. ( ini adalah tujuan ngaben yang pertama ).

2. Tujuan Ngaben yang kedua
Adalah untuk membayar hutang kepada orangtua / leluhur ( lihat Pitra Yadnya bagian yang I). Lihat Tri Renam.
Hutang jasa yang dimaksudkan dalam Pitre Rnam adalah : Orangtua yang mereka-reka kita sehingga kita lahir, maka itulah orangtua disebutkan dengan nama Guru Rupaka ( lihat catur guru). Orangtua adalah merupakan Dewa skala, yang menggadakan si anak, karena dengan adanya pertemuan Sukla – swanita itulah atma akan menjiwai manusia.
Inilah landasan kita berbakti setulus tulusnya terhadap Orangtua / leluhur.
Orangtua mempunyai hubungan timbal balik, yang diwjudkan dalam upacara Ngaben.
Dalam Upacara Ngaben terkandung dualisme, yaitu orangtua yang mengadakan anaknya melalui process ciptaan dan setelah orang tua meninggal, anaknya yang mengembalikan orangtuanya ke asal yang disebut dengan “Mulihing Sangkan Paran”
Demikianlah prinsip dalam ajaran Putra sesana.

Nah untuk menghilangkan kerancuan dari pada pengertian Pitra Yadnya dalam katagori Adhyatmika, selanjutnya mari kita bahas apasaja agenda yang tercakup dalam Adhyatmika ini diantaranya adalah :

1. Atiwa – tiwa
2. Ngaben
3. Mamukur
4. Ngalinghgihan Dewa Pitara.

Namun tidaklah salah, terkadang orang membicarakan Ngaben, yang dimaksud adalah kesemua rangkaian dari Upacara Adhyatmika diatas tsb, supaya tidak menimbulkan pengertian yang bias mari kita perhatikan arti & makna dari tahapan upakara tersebut diatas.

1. Atiwa – Tiwa.
Tiwa-tiwa adalah Upacara & tatacara merawat Jenazah seperti : Memandikan, memberi ramuan ramuan, mendandani, menggulung dan sebagainya yang sering kita dengar dengan acara meringkes sampai Jenazah dikuburkan ( mekingsan baik dipertiwi, maupun di geni ) sebelum dilakukan upacara ngaben.
Apabila saat itu juga dilanjutkan dengan upacara ngaben, atiwa-tiwanya sampai dengan Jenazah diletakan di balai. ( baca lontar pretekaning wong pejah )
Upacara penguburan Jenazah, adalah upacara yang sudah berjalan dari jaman pra sejarah Indonesia yang disebutkan dengan asal kata Tiwah. Konon sebutan ini masih dipergunakan oleh rekan kita yang berada di Tanah Toraja & Kalimantan Pedalaman.

2. Ngaben.
Mengenai difinisi Ngaben, sudah sering sekali titiang postingkan dalam Posting posting yang sudah lewat, baik dalam arti kata, maupun maksud dan tujuannya ( lihat posting yang sudah lewat mengenai Ngaben.
Nah Untuk Ngaben ini, akan saya jelaskan tersendiri dalam Pitra Yadnya ke IV.

3. Mamukur.
Berasal dari kata Bukur, kata bukur adalah akronim dari kata Bu (bhu) = alam sedangkan ur merupakan perpendekan dari Urdah=atas. Jadi kata bhukur berarti menuju alam atas atau swah loka.
Upacara memukur adalah merupakan penyucian Roch dalam fase ke dua., untuk mendapatkan atau mencapai swah loka, dan Upacara ini juga disebut Upacara “MALIGYA”.

4. Ngelinggihan Dewapitara.
Mgeliggihan Dewa Pitara, rangkaian upacara atmapratista, yaitu ngelinggihan roch suci yang disebut Dewapitara, yang sering disebut dengan pelinggih Kemulan kemimitan didalam Sanggah gede, merajan, Tempatnya sebelah Kanan tersendiri, ciri khasnya adalah rong tiga,
Ciri khas pelinggih : Gedong, rong, ( beratap ) adalah merupakan Stana dari pada mereka yang pernah terlahirkan. Sedangkan Padmasana ( yang tak beratap ) Stana dari Hyang Maha tunggal yang tak pernah terlahirkan.

Terkadang disuatu tempat, ada sampai sanggah / merajan kemulannya sampai berentet rentet, karena filosofinya setiap mereka yang meninggal, dibuatkan rong tiga yang baru, sehingga merajannya sampai sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia…..?
Terkecuali karena Populasi pamekaran maka dibuatlah merajan yang baru dimana ditempatnya yang baru tersebut jauh dari tempat sanggah gedenya.
Upacara ini / ngelinggihan ini lah disebut dengan Upacara “Nilapati”.
(menurut Loca Dresta ditempat kami Tabanan ) disini akan ada istilah seperti berikut :
Petala = Roch para leluhur yang belum menjalani fase Ngelinggihan Dewapitara.
Pitara, terkadang Betara = sebutan para roch leluhur yang sudah melaksakan fase ini.

Demikianlah tingkatan Upacara dalam Adhyatmika ini, selanjutnya sebelum membahas Ngaben itu sendiri ikutilah dulu lambang / istilah / symbolisasi dan makna dalam upacara
PITRA YADNYA KE III

Minggu, 28 Juni 2009

Pertemuan Tempek

Pertemuan tempek Sarua tanggal 28 juni 2009 di rumah Pak Agung Somadiputra. Saat itu dibahas mengenai rencana piodalan Pura Cinere dan Pura Lenteng Agung tanggal 7 Juli dan 11 Juli 2009. Kewajiban tempek pada odalan di Pura Lenteng Agung adalah membuat caru bebek angsa.


























































Minggu, 21 Juni 2009

Suatu Pengalaman

Tidak ada jeleknya saya memuat cerita percakapan seorang hamba Tuhan yang dari pengalaman tersebut lalu kemudian coba diterapkan dalam hidupnya dan menuai keberhasilan. Tidak berbeda barangkali dan ada kesamaan dengan nasehat orang tua atau para bijak yang intinya adalah :
1. Jangan lupakan orang tuamu, khususnya ibumu
2. Banyaklah memberi
3. Banyaklah menolong
4. Jangan mempermainkan wanita

Berikut cerita pengalaman lengkapnya.
Berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, saya dipertemukan dengan hamba-Nya yang satu ini. Beliau adalah seorang leader yang selalu mengayomi, memberikan bimbingan, semangat, inspirasi, ide dan gagasan segar. Beliau seorang pemimpin yang mampu menggerakkan ratusan hingga ribuan anak buahnya. Beliau seorang guru yang memiliki lautan ilmu, yang selalu siap ditimba oleh anak-anaknya dan bagai tiada pernah habis.Saat ini beliau memiliki berbagai macam bidang usaha, di antaranya sebagai supplier dan distribusi alat dan produk kesehatan, puluhan hektar tambak, puluhan hektar ladang, berpuluh rumah kos, ruko, stand penjualan di mall, apartemen dan lain-lain. Pernah saya mencoba menghitung, penghasilan beliau bisa mencapai Rp 1 Milyar per bulannya. Sebuah pencapaian luar biasa bagi saya dan kebanyakan orang lain.Pertemuan antara saya dan beliau yang saya ceritakan di bawah ini terjadi beberapa tahun yang lalu, di saat penghasilan beliau masih berkisar Rp 200 juta per bulan. Bagi saya, angka ini pun sudah bukan main dahsyatnya. Sengaja saya tidak menyebutkan namanya, karena cerita ini saya publish belum mendapatkan ijin dari beliau. Kita ambil wisdomnya saja ya.
Suatu hari, terjadilah dialog antara saya dengan beliau di serambi sebuah hotel di Bandung . Saya ingat, beliau berpesan bahwa beliau senang ditanya. Kalau ditanya, maka akan dijelaskan panjang lebar. Tapi kalau kita diam, maka beliau pun akan "tidur". Jadilah saya berpikir untuk selalu mengajaknya ngobrol. Bertanya apa saja yang bisa saya tanyakan.Sampai akhirnya saya bertanya secara asal, "Pak, Anda saat ini kan bisa dibilang sukses. Paling tidak, lebih sukses daripada orang lain. Lalu menurut Anda, apa yang menjadi rahasia kesuksesan Anda?"Tak dinyana beliau menjawab pertanyaan ini dengan serius." Ada empat hal yang harus Anda perhatikan," begitu beliau memulai penjelasannya.
RAHASIA PERTAMA
"Pertama. Jangan lupakan orang tuamu, khususnya ibumu. Karena ibu adalah orang yang melahirkan kita ke muka bumi ini. Mulai dari mengandung 9 bulan lebih, itu sangat berat. Ibu melahirkan kita dengan susah payah, sakit sekali, nyawa taruhannya. Surga di bawah telapak kaki ibu. Ibu bagaikan pengeran katon (Tuhan yang kelihatan). Banyak orang sekarang yang salah. Para guru dan kyai dicium tangannya, sementara kepada ibunya tidak pernah. Para guru dan kyai dipuja dan dielukan, diberi sumbangan materi jutaan rupiah, dibuatkan rumah; namun ibunya sendiri di rumah dibiarkan atau diberi materi tapi sedikit sekali. Banyak orang yang memberangkatkan haji guru atau kyainya, padahal ibunya sendiri belum dihajikan. Itu terbalik. Pesan Nabi : Ibumu, ibumu, ibumu... baru kemudian ayahmu dan gurumu.Ridho Allah tergantung pada ridho kedua orang tua. Kumpulkan seribu ulama untuk berdoa. Maka doa ibumu jauh lebih mustajabah." Beliau mengambil napas sejenak.
RAHASIA KEDUA
"Kemudian yang kedua," beliau melanjutkan. "Banyaklah memberi. Banyaklah bersedekah. Allah berjanji membalas setiap uang yang kita keluarkan itu dengan berlipat ganda. Sedekah mampu mengalahkan angin. Sedekah bisa mengalahkan besi. Sedekah membersihkan harta dan hati kita. Sedekah melepaskan kita dari marabahaya. Allah mungkin membalas sedekah kita dengan rejeki yang banyak, kesehatan, terhindarkan kita dari bahaya, keluarga yang baik, ilmu, kesempatan, dan lain-lain.Jangan sepelekan bila ada pengemis datang meminta-minta kepadamu. Karena saat itulah sebenarnya Anda dibukakan pintu rejeki. Beri pengemis itu dengan pemberian yang baik dan sikap yang baik. Kalau punya uang kertas, lebih baik memberinya dengan uang kertas, bukan uang logam. Pilihkan lembar uang kertas yang masih bagus, bukan yang sudah lecek. Pegang dengan dua tangan, lalu ulurkan dengan sikap hormat kalau perlu sambil menunduk (menghormat). Pengemis yang Anda beri dengan cara seperti itu, akan terketuk hatinya, 'Belum pernah ada orang yang memberi dan menghargaiku seperti ini.' Maka terucap atau tidak, dia akan mendoakan Anda dengan kelimpahan rejeki, kesehatan dan kebahagiaan.Banyak orang yang keliru dengan menolak pengemis yang mendatanginya, bahkan ada pula yang menghardiknya. Perbuatan itu sama saja dengan menutup pintu rejekinya sendiri.Dalam kesempatan lain, ketika saya berjalan-jalan dengan beliau, beliau jelas mempraktekkan apa yang diucapkannya itu. Memberi pengemis dengan selembar uang ribuan yang masih bagus dan memberikannya dengan dua tangan sambil sedikit membungkuk hormat. Saya lihat pengemis itu memang berbinar dan betapa berterima kasihnya.
RAHASIA KETIGA
"Allah berjanji memberikan rejeki kepada kita dari jalan yang tidak disangka-sangka," begitu beliau mengawali penjelasannya untuk rahasia ketiganya. "Tapi sedikit orang yang tahu, bagaimana caranya supaya itu cepat terjadi? Kebanyakan orang hanya menunggu. Padahal itu ada jalannya.""Benar di Al Quran ada satu ayat yang kira-kira artinya : Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya diadakan-Nya jalan keluar baginya dan memberinya rejeki dari jalan/pintu yang tidak diduga-duga", saya menimpali (QS Ath Thalaq 2-3)."Nah, ingin tahu caranya bagaimana agar kita mendapatkan rejeki yang tidak diduga-duga?," tanya beliau."Ya, bagaimana caranya?" jawab saya. Saya pikir cukup dengan bertaqwa, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka Allah akan mengirim rejeki itu datang untuk kita."Banyaklah menolong orang. Kalau ada orang yang butuh pertolongan, kalau ketemu orang yang kesulitan, langsung Anda bantu!" jawaban beliau ini membuat saya berpikir keras. "Saat seperti itulah, Anda menjadi rejeki yang tidak disangka-sangka bagi orang itu. Maka tentu balasannya adalah Allah akan memberikan kepadamu rejeki yang tidak disangka-sangka pula.""Walau pun itu orang kaya?" tanya saya."Ya, walau itu orang kaya, suatu saat dia pun butuh bantuan. Mungkin dompetnya hilang, mungkin ban mobilnya bocor, atau apa saja. Maka jika Anda temui itu dan Anda bisa menolongnya, segera bantulah.""Walau itu orang yang berpura-pura? Sekarang kan banyak orang jalan kaki, datang ke rumah kita, pura-pura minta sumbangan rumah ibadah, atau pura-pura belum makan, tapi ternyata cuma bohongan. Sumbangan yang katanya untuk rumah ibadah, sebenarnya dia makan sendiri," saya bertanya lagi."Ya walau orang itu cuma berpura-pura seperti itu," jawab beliau. "Kalau Anda tanya, sebenarnya dia pun tidak suka melakukan kebohongan itu. Dia itu sudah frustasi karena tidak bisa bekerja atau tidak punya pekerjaan yang benar. Dia itu butuh makan, namun sudah buntu pikirannya. Akhirnya itulah yang bisa dia lakukan. Soal itu nanti, serahkan pada Allah. Allah yang menghakimi perbuatannya, dan Allah yang membalas niat dan pemberian Anda."
RAHASIA KEEMPAT
Wah, makin menarik, nih. Saya manggut-manggut. Sebenarnya saya tidak menyangka kalau pertanyaan asal-asalan saya tadi berbuah jawaban yang begitu serius dan panjang. Sekarang tinggal satu rahasia lagi, dari empat rahasia seperti yang dikatakan beliau sebelumnya."Yang keempat nih, Mas," beliau memulai.
"Jangan mempermainkan wanita".Hm... ini membuat saya berpikir keras. Apa maksudnya. Apakah kita membuat janji dengan teman wanita, lalu tidak kita tepati? Atau jangan biarkan wanita menunggu? Seperti di film-film saja."Maksudnya begini. Anda kan punya istri, atau suami. Itu adalah pasangan hidup Anda, baik di saat susah maupun senang. Ketika Anda pergi meninggalkan rumah untuk mencari nafkah, dia di rumah menunggu dan berdoa untuk keselamatan dan kesuksesan Anda. Dia ikut besama Anda di kala Anda susah, penghasilan yang pas-pasan, makan dan pakaian seadanya, dia mendampingi Anda dan mendukung segala usaha Anda untuk berhasil.""Lalu?" saya tak sabar untuk tahu kelanjutan maksudnya."Banyak orang yang kemudian ketika sukses, uangnya banyak, punya jabatan, lalu menikah lagi. Atau mulai bermain wanita (atau bermain pria, bagi yang perempuan). Baik menikah lagi secara terang-terangan, apalagi diam-diam, itu menyakiti hati pasangan hidup Anda. Ingat, pasangan hidup yang dulu mendampingi Anda di kala susah, mendukung dan berdoa untuk kesuksesan Anda. Namun ketika Anda mendapatkan sukses itu, Anda meninggalkannya. Atau Anda menduakannya."Oh... pelajaran monogami nih, pikir saya dalam hati."Banyak orang yang lupa hal itu. Begitu sudah jadi orang besar, uangnya banyak, lalu cari istri lagi. Menikah lagi. Rumah tangganya jadi kacau. Ketika merasa ditinggalkan, pasangan hidupnya menjadi tidak rela. Akhirnya uangnya habis untuk biaya sana-sini. Banyak orang yang jatuh karena hal seperti ini. Dia lupa bahwa pasangan hidupnya itu sebenarnya ikut punya andil dalam kesuksesan dirinya," beliau melanjutkan.Hal ini saya buktikan sendiri, setiap saya datang ke rumahnya yang di Waru Sidoarjo, saya menjumpai beliau punya 1 istri, 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan.Perbincangan ini ditutup ketika kemudian ada tamu yang datang....

Sumber dari millis tetangga

Kamis, 30 April 2009

Menangkal Guna-guna


Oleh Mangku Danu

1. Cara yang paling sederhana dan ampuh
Mantra/cara penangkal yang paling sederhana yaitu rajin sembahyang dan berjapa. Orang yg bisa kena guna-guna adalah org yang sistem kekebalan tubuhnya (baik phisik, mental, spirit) lemah.
cara paling ampuh adalah menjaga agar sistem kekebalan tubuh tetap pit dengan sembahyang dan japa.
Tapi ada cara lain yaitu dengan menggunakan mantra di bawah ini, mudah-mudahan dapat membantu semeton/umat se-Dharma semuanya. Hal ini karena sudah saya buktikan sendiri di banyak kesempatan dan juga oleh orang yg telah menggunakannya, sekali lagi ini bukan pamer tapi semata-mata untuk pasemetonan/kebaikan kita semua.

2. Mantra Brahma Gading sewu

Mantra ini di ambil dari lontar yang berjudul Usada Gading Sewu, nama gading sewu ini masih belum di temukan arti sesungguhnya. Ada yang mengartikan Kelapa Gading, ada juga yang mengatakan Bambu gading, namun bila di lihat dari penggunanya lebih mendekati Kelapa gading sebab ada air kelapa gading yang di gunakan dalam usada.
Awal lontar ini bercerita tentang Mpu Kuturan yang sangat hebat memiliki ilmu pengobatan dan spiritual sehingga amat sakti dan di takuti oleh musuh serta di seganai kawan-kawan beliau. Lontar ini berbahasa Kawi Bali dan sangat di rahasiakan oleh para balian, namun banyak yang gagal mempelajarinya di karenakan kurang peterjemah yang bagus.
· Bunyi mantra sebagai berikut:

“Ong ngadeg sanghyang Bayu ring tungtungin lidah, ang brahma gni murub kadi kala rupa anyapuh sarwa lara”,

· Langkah berikutnya tarik dan tahan nafas di NABI ( Swadistana charka ) dan hembuskan ke kelapa gading, waktu menghembuskan nafas lidah di lipat ke lagit-langit. RAHASIAKAN !!!! 7 X Baca.
· Rerajahan.
Di butuhkan tembaga tipis lalu di tulisi ( rajah Angkara )untuk di masukan dan rendam di kelapa gading dan mantra pengurip untuk rerajahan dengan mantra:

“ong Sanghyang pasupati ngadeg ring bayu, urip sarwa rerajahan, poma, poma, poma” 3X

Kegunaan:
Untuk meruwat, menghilangkan segala jenis penyakit, yang datangnya tidak di ketahui, baik dari manusia, bhuta, dan mahkluk gaib, termasuk pepasangan, bebai, dan guna-guna Caranya di minum atau pakai mandi, di isi dengan kembang PUCUK BANG

3. Mantra Brahma Sapu Jagat

Mantra ini juga lanjutan dari mantra yang di atas, di gunakan untuk melindung diri, rumah, dari gangguan makhluk halus maupun roh-roh jahat.

Bunyi mantra :

“Ong brahma metu saking kidul, gni bang saking netra, gni petak saking cangkem, gni salembang saking buana, ong urip dasa gni”, 12x.

Cara konsentrasi:
Pertama-tama rasakan kekuatan api dari alam masuk ke ubun-ubun, lalu kumpulkan di pusar sambil menahan nafas, langkah selanjutnya bawa api itu dengan niat untuk keluar dari mata dan mulut.

Kegunaan dari mantra di atas:
Apabila mau melindungi rumah atau NYENGKER buatlah serbuk dari beras, lalu baca mantra, taburkan serbuk itu di pekarangan keliling arah jarum jam terbalik.
Bila tidak ada serbuk beras bisa di gunakan ABU dari Dapur, caranya sama seperti yang di atas.
Mantra-mantra di atas bisa juga di baca untuk, pergi atau memasuki tempat kuburan, dan angker, karena sesungguhnya mantra itu anugrah dari Dewa Siwa.

Om Santih Santih Santih Om …..

Sumber: Mangku Danu