Tidak ada jeleknya saya memuat cerita percakapan seorang hamba Tuhan yang dari pengalaman tersebut lalu kemudian coba diterapkan dalam hidupnya dan menuai keberhasilan. Tidak berbeda barangkali dan ada kesamaan dengan nasehat orang tua atau para bijak yang intinya adalah :
1. Jangan lupakan orang tuamu, khususnya ibumu
2. Banyaklah memberi
3. Banyaklah menolong
4. Jangan mempermainkan wanita
Berikut cerita pengalaman lengkapnya.
Berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, saya dipertemukan dengan hamba-Nya yang satu ini. Beliau adalah seorang leader yang selalu mengayomi, memberikan bimbingan, semangat, inspirasi, ide dan gagasan segar. Beliau seorang pemimpin yang mampu menggerakkan ratusan hingga ribuan anak buahnya. Beliau seorang guru yang memiliki lautan ilmu, yang selalu siap ditimba oleh anak-anaknya dan bagai tiada pernah habis.Saat ini beliau memiliki berbagai macam bidang usaha, di antaranya sebagai supplier dan distribusi alat dan produk kesehatan, puluhan hektar tambak, puluhan hektar ladang, berpuluh rumah kos, ruko, stand penjualan di mall, apartemen dan lain-lain. Pernah saya mencoba menghitung, penghasilan beliau bisa mencapai Rp 1 Milyar per bulannya. Sebuah pencapaian luar biasa bagi saya dan kebanyakan orang lain.Pertemuan antara saya dan beliau yang saya ceritakan di bawah ini terjadi beberapa tahun yang lalu, di saat penghasilan beliau masih berkisar Rp 200 juta per bulan. Bagi saya, angka ini pun sudah bukan main dahsyatnya. Sengaja saya tidak menyebutkan namanya, karena cerita ini saya publish belum mendapatkan ijin dari beliau. Kita ambil wisdomnya saja ya.
Suatu hari, terjadilah dialog antara saya dengan beliau di serambi sebuah hotel di Bandung . Saya ingat, beliau berpesan bahwa beliau senang ditanya. Kalau ditanya, maka akan dijelaskan panjang lebar. Tapi kalau kita diam, maka beliau pun akan "tidur". Jadilah saya berpikir untuk selalu mengajaknya ngobrol. Bertanya apa saja yang bisa saya tanyakan.Sampai akhirnya saya bertanya secara asal, "Pak, Anda saat ini kan bisa dibilang sukses. Paling tidak, lebih sukses daripada orang lain. Lalu menurut Anda, apa yang menjadi rahasia kesuksesan Anda?"Tak dinyana beliau menjawab pertanyaan ini dengan serius." Ada empat hal yang harus Anda perhatikan," begitu beliau memulai penjelasannya.
RAHASIA PERTAMA
"Pertama. Jangan lupakan orang tuamu, khususnya ibumu. Karena ibu adalah orang yang melahirkan kita ke muka bumi ini. Mulai dari mengandung 9 bulan lebih, itu sangat berat. Ibu melahirkan kita dengan susah payah, sakit sekali, nyawa taruhannya. Surga di bawah telapak kaki ibu. Ibu bagaikan pengeran katon (Tuhan yang kelihatan). Banyak orang sekarang yang salah. Para guru dan kyai dicium tangannya, sementara kepada ibunya tidak pernah. Para guru dan kyai dipuja dan dielukan, diberi sumbangan materi jutaan rupiah, dibuatkan rumah; namun ibunya sendiri di rumah dibiarkan atau diberi materi tapi sedikit sekali. Banyak orang yang memberangkatkan haji guru atau kyainya, padahal ibunya sendiri belum dihajikan. Itu terbalik. Pesan Nabi : Ibumu, ibumu, ibumu... baru kemudian ayahmu dan gurumu.Ridho Allah tergantung pada ridho kedua orang tua. Kumpulkan seribu ulama untuk berdoa. Maka doa ibumu jauh lebih mustajabah." Beliau mengambil napas sejenak.
RAHASIA KEDUA
"Kemudian yang kedua," beliau melanjutkan. "Banyaklah memberi. Banyaklah bersedekah. Allah berjanji membalas setiap uang yang kita keluarkan itu dengan berlipat ganda. Sedekah mampu mengalahkan angin. Sedekah bisa mengalahkan besi. Sedekah membersihkan harta dan hati kita. Sedekah melepaskan kita dari marabahaya. Allah mungkin membalas sedekah kita dengan rejeki yang banyak, kesehatan, terhindarkan kita dari bahaya, keluarga yang baik, ilmu, kesempatan, dan lain-lain.Jangan sepelekan bila ada pengemis datang meminta-minta kepadamu. Karena saat itulah sebenarnya Anda dibukakan pintu rejeki. Beri pengemis itu dengan pemberian yang baik dan sikap yang baik. Kalau punya uang kertas, lebih baik memberinya dengan uang kertas, bukan uang logam. Pilihkan lembar uang kertas yang masih bagus, bukan yang sudah lecek. Pegang dengan dua tangan, lalu ulurkan dengan sikap hormat kalau perlu sambil menunduk (menghormat). Pengemis yang Anda beri dengan cara seperti itu, akan terketuk hatinya, 'Belum pernah ada orang yang memberi dan menghargaiku seperti ini.' Maka terucap atau tidak, dia akan mendoakan Anda dengan kelimpahan rejeki, kesehatan dan kebahagiaan.Banyak orang yang keliru dengan menolak pengemis yang mendatanginya, bahkan ada pula yang menghardiknya. Perbuatan itu sama saja dengan menutup pintu rejekinya sendiri.Dalam kesempatan lain, ketika saya berjalan-jalan dengan beliau, beliau jelas mempraktekkan apa yang diucapkannya itu. Memberi pengemis dengan selembar uang ribuan yang masih bagus dan memberikannya dengan dua tangan sambil sedikit membungkuk hormat. Saya lihat pengemis itu memang berbinar dan betapa berterima kasihnya.
RAHASIA KETIGA
"Allah berjanji memberikan rejeki kepada kita dari jalan yang tidak disangka-sangka," begitu beliau mengawali penjelasannya untuk rahasia ketiganya. "Tapi sedikit orang yang tahu, bagaimana caranya supaya itu cepat terjadi? Kebanyakan orang hanya menunggu. Padahal itu ada jalannya.""Benar di Al Quran ada satu ayat yang kira-kira artinya : Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya diadakan-Nya jalan keluar baginya dan memberinya rejeki dari jalan/pintu yang tidak diduga-duga", saya menimpali (QS Ath Thalaq 2-3)."Nah, ingin tahu caranya bagaimana agar kita mendapatkan rejeki yang tidak diduga-duga?," tanya beliau."Ya, bagaimana caranya?" jawab saya. Saya pikir cukup dengan bertaqwa, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka Allah akan mengirim rejeki itu datang untuk kita."Banyaklah menolong orang. Kalau ada orang yang butuh pertolongan, kalau ketemu orang yang kesulitan, langsung Anda bantu!" jawaban beliau ini membuat saya berpikir keras. "Saat seperti itulah, Anda menjadi rejeki yang tidak disangka-sangka bagi orang itu. Maka tentu balasannya adalah Allah akan memberikan kepadamu rejeki yang tidak disangka-sangka pula.""Walau pun itu orang kaya?" tanya saya."Ya, walau itu orang kaya, suatu saat dia pun butuh bantuan. Mungkin dompetnya hilang, mungkin ban mobilnya bocor, atau apa saja. Maka jika Anda temui itu dan Anda bisa menolongnya, segera bantulah.""Walau itu orang yang berpura-pura? Sekarang kan banyak orang jalan kaki, datang ke rumah kita, pura-pura minta sumbangan rumah ibadah, atau pura-pura belum makan, tapi ternyata cuma bohongan. Sumbangan yang katanya untuk rumah ibadah, sebenarnya dia makan sendiri," saya bertanya lagi."Ya walau orang itu cuma berpura-pura seperti itu," jawab beliau. "Kalau Anda tanya, sebenarnya dia pun tidak suka melakukan kebohongan itu. Dia itu sudah frustasi karena tidak bisa bekerja atau tidak punya pekerjaan yang benar. Dia itu butuh makan, namun sudah buntu pikirannya. Akhirnya itulah yang bisa dia lakukan. Soal itu nanti, serahkan pada Allah. Allah yang menghakimi perbuatannya, dan Allah yang membalas niat dan pemberian Anda."
RAHASIA KEEMPAT
Wah, makin menarik, nih. Saya manggut-manggut. Sebenarnya saya tidak menyangka kalau pertanyaan asal-asalan saya tadi berbuah jawaban yang begitu serius dan panjang. Sekarang tinggal satu rahasia lagi, dari empat rahasia seperti yang dikatakan beliau sebelumnya."Yang keempat nih, Mas," beliau memulai.
"Jangan mempermainkan wanita".Hm... ini membuat saya berpikir keras. Apa maksudnya. Apakah kita membuat janji dengan teman wanita, lalu tidak kita tepati? Atau jangan biarkan wanita menunggu? Seperti di film-film saja."Maksudnya begini. Anda kan punya istri, atau suami. Itu adalah pasangan hidup Anda, baik di saat susah maupun senang. Ketika Anda pergi meninggalkan rumah untuk mencari nafkah, dia di rumah menunggu dan berdoa untuk keselamatan dan kesuksesan Anda. Dia ikut besama Anda di kala Anda susah, penghasilan yang pas-pasan, makan dan pakaian seadanya, dia mendampingi Anda dan mendukung segala usaha Anda untuk berhasil.""Lalu?" saya tak sabar untuk tahu kelanjutan maksudnya."Banyak orang yang kemudian ketika sukses, uangnya banyak, punya jabatan, lalu menikah lagi. Atau mulai bermain wanita (atau bermain pria, bagi yang perempuan). Baik menikah lagi secara terang-terangan, apalagi diam-diam, itu menyakiti hati pasangan hidup Anda. Ingat, pasangan hidup yang dulu mendampingi Anda di kala susah, mendukung dan berdoa untuk kesuksesan Anda. Namun ketika Anda mendapatkan sukses itu, Anda meninggalkannya. Atau Anda menduakannya."Oh... pelajaran monogami nih, pikir saya dalam hati."Banyak orang yang lupa hal itu. Begitu sudah jadi orang besar, uangnya banyak, lalu cari istri lagi. Menikah lagi. Rumah tangganya jadi kacau. Ketika merasa ditinggalkan, pasangan hidupnya menjadi tidak rela. Akhirnya uangnya habis untuk biaya sana-sini. Banyak orang yang jatuh karena hal seperti ini. Dia lupa bahwa pasangan hidupnya itu sebenarnya ikut punya andil dalam kesuksesan dirinya," beliau melanjutkan.Hal ini saya buktikan sendiri, setiap saya datang ke rumahnya yang di Waru Sidoarjo, saya menjumpai beliau punya 1 istri, 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan.Perbincangan ini ditutup ketika kemudian ada tamu yang datang....
Sumber dari millis tetangga
Minggu, 21 Juni 2009
Kamis, 30 April 2009
Menangkal Guna-guna
Oleh Mangku Danu
1. Cara yang paling sederhana dan ampuh
Mantra/cara penangkal yang paling sederhana yaitu rajin sembahyang dan berjapa. Orang yg bisa kena guna-guna adalah org yang sistem kekebalan tubuhnya (baik phisik, mental, spirit) lemah.
cara paling ampuh adalah menjaga agar sistem kekebalan tubuh tetap pit dengan sembahyang dan japa.
Tapi ada cara lain yaitu dengan menggunakan mantra di bawah ini, mudah-mudahan dapat membantu semeton/umat se-Dharma semuanya. Hal ini karena sudah saya buktikan sendiri di banyak kesempatan dan juga oleh orang yg telah menggunakannya, sekali lagi ini bukan pamer tapi semata-mata untuk pasemetonan/kebaikan kita semua.
2. Mantra Brahma Gading sewu
Mantra ini di ambil dari lontar yang berjudul Usada Gading Sewu, nama gading sewu ini masih belum di temukan arti sesungguhnya. Ada yang mengartikan Kelapa Gading, ada juga yang mengatakan Bambu gading, namun bila di lihat dari penggunanya lebih mendekati Kelapa gading sebab ada air kelapa gading yang di gunakan dalam usada.
Awal lontar ini bercerita tentang Mpu Kuturan yang sangat hebat memiliki ilmu pengobatan dan spiritual sehingga amat sakti dan di takuti oleh musuh serta di seganai kawan-kawan beliau. Lontar ini berbahasa Kawi Bali dan sangat di rahasiakan oleh para balian, namun banyak yang gagal mempelajarinya di karenakan kurang peterjemah yang bagus.
· Bunyi mantra sebagai berikut:
“Ong ngadeg sanghyang Bayu ring tungtungin lidah, ang brahma gni murub kadi kala rupa anyapuh sarwa lara”,
· Langkah berikutnya tarik dan tahan nafas di NABI ( Swadistana charka ) dan hembuskan ke kelapa gading, waktu menghembuskan nafas lidah di lipat ke lagit-langit. RAHASIAKAN !!!! 7 X Baca.
· Rerajahan.
Di butuhkan tembaga tipis lalu di tulisi ( rajah Angkara )untuk di masukan dan rendam di kelapa gading dan mantra pengurip untuk rerajahan dengan mantra:
“ong Sanghyang pasupati ngadeg ring bayu, urip sarwa rerajahan, poma, poma, poma” 3X
Kegunaan:
Untuk meruwat, menghilangkan segala jenis penyakit, yang datangnya tidak di ketahui, baik dari manusia, bhuta, dan mahkluk gaib, termasuk pepasangan, bebai, dan guna-guna Caranya di minum atau pakai mandi, di isi dengan kembang PUCUK BANG
3. Mantra Brahma Sapu Jagat
Mantra ini juga lanjutan dari mantra yang di atas, di gunakan untuk melindung diri, rumah, dari gangguan makhluk halus maupun roh-roh jahat.
Bunyi mantra :
“Ong brahma metu saking kidul, gni bang saking netra, gni petak saking cangkem, gni salembang saking buana, ong urip dasa gni”, 12x.
Cara konsentrasi:
Pertama-tama rasakan kekuatan api dari alam masuk ke ubun-ubun, lalu kumpulkan di pusar sambil menahan nafas, langkah selanjutnya bawa api itu dengan niat untuk keluar dari mata dan mulut.
Kegunaan dari mantra di atas:
Apabila mau melindungi rumah atau NYENGKER buatlah serbuk dari beras, lalu baca mantra, taburkan serbuk itu di pekarangan keliling arah jarum jam terbalik.
Bila tidak ada serbuk beras bisa di gunakan ABU dari Dapur, caranya sama seperti yang di atas.
Mantra-mantra di atas bisa juga di baca untuk, pergi atau memasuki tempat kuburan, dan angker, karena sesungguhnya mantra itu anugrah dari Dewa Siwa.
Om Santih Santih Santih Om …..
Sumber: Mangku Danu
Rabu, 22 April 2009
Perempuan Hindu
Om Swastyastu…..
WANITA MENURUT PANDANGAN HINDU
Oleh Jro Mangku Istri Putu Suponi
Hemm … Biasanya, sangatlah jarang Wanita / Istri Hindu muncul dalam suatu publik, apakah memang demikian…......................….. ? Kalau toh memang benar agak sulit untuk menulusuri sebenarnya apasih yang menyebabkan demikian,...............................................….. ?
Lebih lebih lagi kalau beliau itu statusnya sebagai pemangku istri, adalah sangat jarang untuk muncul tegar didepan publik, apakah karena kesibukan, sesananing pemangku, atau sudah memang sudah dari dulu culture Luh Luh Bali, ada sesonggan ede sube sekolah tinggi tinggi, paling akhirnya ke dapur……...................................... ?
apakah memang ditakdirkan sudah demikian…............................… ?
Wanita sangat diperhatikan sebagai penerus keturunan dan sekaligus sarana terwujudnya Punarbhava atau re-inkarnasi, sebagai salah satu srada (kepercayaan/ keyakinan) Hindu. Sejak mengalami menstruasi pertama, seorang wanita sudah dianggap dewasa, dan juga merupakan ciri/tanda bahwa ia mempunyai kemampuan untuk hamil. Oleh karena itu peradaban lembah sungai Indus di India sejak beribu tahun lampau senantiasa menghormati dan memperlakukan wanita secara hati-hati terutama ketika ia menstruasi. Wanita yang sedang menstruasi dijaga tetap berada didalam kamar agar terlindung dari mara bahaya.
Lihatlah kisah Mahabharata ketika Drupadi, istri Pandawa, yang sedang menstruasi menjadi korban taruhan kekalahan berjudi Dharmawangsa dari Pandawa melawan Sakuni di pihak Korawa. Ia diseret keluar dan coba ditelanjangi oleh Dursasana di depan sidang. Dewa Dharma melindungi Drupadi sehingga kain penutup badan Drupadi tidak pernah habis, tetap melindungi tubuh walau bermeter-meter telah ditarik darinya. Sejak awal Drupadi sudah mengingatkan Dursasana, bahwa ia sedang haid, tidak boleh diperlakukan kasar dan dipaksa demikian. Akhirnya dalam perang Bharatayuda, Dursasana dibinasakan Bima, dan Drupadi menebus kaul dengan mencuci rambutnya dengan darah Dursasana.
Wanita yang sedang menstruasi harus diperlakukan khusus karena di saat itu ia memerlukan ketenangan phisik dan mental. Namun perkembangan tradisi beragama Hindu di Bali menjadi berbeda, seperti yang disebutkan dalam Lontar Catur Cuntaka, bahwa wanita yang sedang haid tergolong "cuntaka" atau "sebel" atau dalam bahasa sehari-hari disebut kotor, sehingga ia dilarang sembahyang atau masuk ke Pura. Ini perlu diluruskan sesuai dengan filosofi Hindu yang benar.
Wanita dewasa hendaknya dinikahkan dengan cara-cara yang baik, sesuai dengan Kitab Suci Manava Dharmasastra III. 21-30, yaitu menurut cara yang disebut sebagai Brahmana, Daiva, Rsi dan Prajapati. Brahmana wiwaha adalah pernikahan dengan seorang yang terpelajar dan berkedudukan baik; Daiva wiwaha adalah pernikahan dengan seorang keluarga Pendeta; Rsi wiwaha adalah pernikahan dengan mas kawin; dan Prajapati wiwaha adalah pernikahan yang direstui oleh kedua belah pihak.
Di masyarakat Hindu modern dewasa ini sering ditemui cara perkawinan campuran dari cara-cara yang pertama, ketiga dan keempat. Singkatnya, perkawinan yang baik adalah dengan lelaki yang berpendidikan, berbudi luhur, berpenghasilan dan disetujui oleh orang tua dari kedua pihak. Selanjutnya dalam Kitab Suci itu juga diulas bahwa pernikahan adalah "Dharma Sampati" artinya "tindakan Dharma" karena melalui pernikahan, ada kesempatan re-inkarnasi bagi roh-roh leluhur yang diperintahkan Hyang Widhi untuk menjelma kembali sebagai manusia.
Dalam tinjauan Dharma Sampati itu terkandung peranan masing-masing pihak yaitu suami dan istri yang menyatu dalam membina rumah tangga. Istri disebut sebagai pengamal Dharma dan suami disebut sebagai pengamal Shakti.
Peranan istri dapat dikatakan sebagai pengamal Dharma, karena hal-hal yang dikerjakan seperti mengandung, melahirkan, memelihara bayi dan seterusnya mengajar dan mendidik anak-anak, mempersiapkan upacara-upacara Hindu di lingkungan rumah tangga, menyayangi suami, merawat mertua, dan lain-lain. Peranan suami dapat dikatakan sebagai pengamal Shakti, karena dengan kemampuan pikiran dan jasmani ia bekerja mencari nafkah untuk kehidupan rumah tangganya. Kombinasi antara Dharma dan Shakti ini menumbuh-kembangkan dinamika kehidupan. Oleh karena itu pula istri disebut sebagai "Pradana" yang artinya pemelihara, dan suami disebut sebagai "Purusha" artinya penerus keturunan.
Bila perkawinan disebut sebagai Dharma, maka sesuai hukum alam (Rta): rwa-bhineda (dua yang berbeda), maka ada pula yang disebut Adharma. Dalam hal ini perceraian adalah Adharma, karena dengan perceraian, timbul kesengsaraan bagi pihak-pihak yang bercerai yaitu suami, istri, anak-anak, dan mertua. Maka dalam agama Hindu, perceraian sangat dihindari, karena termasuk perbuatan Adharma atau dosa.
Istri harus dijaga dengan baik, disenangkan hatinya, digauli dengan halus sesuai dengan hari-hari yang baik sebagaimana disebut dalam
Manava Dharmasastra III.45:
Rtu kalabhigamisyat,
Swadharaniratah sada,
Parvavarjam vrajeksainam,
Tad vrato rati kamyaya".
Hendaknya suami menggauli istrinya dalam waktu-waktu tertentu dan merasa selalu puas dengan istrinya seorang, ia juga boleh dengan maksud menyenangkan hati istrinya mendekatinya untuk mengadakan hubungan badan pada hari-hari yang baik
Selanjutnya MD III.55:
Pitrbhir bhatrbhis,
Caitah patibhir devaraistatha,
Pujya bhusayita vyasca,
Bahu kalyanmipsubhih.
Istri harus dihormati dan disayangi oleh mertua, ipar, saudara, suami dan anak-anak bila mereka menghendaki kesejahteraan dirinya.
Ucapan sorga ada di tangan wanita bukanlah suatu slogan kosong, karena ditulis dalam
MD.III.56:
Yatra naryastu pujyante,
Ramante tatra devatah,
Yatraitastu na pujyante,
Yarvastatraphalah kriyah.
Di mana wanita dihormati, di sanalah para Dewa-Dewa merasa senang, tetapi di mana mereka tidak dihormati, tidak ada upacara suci apapun yang akan berpahala.
Lebih tegas lagi dalam sloka berikutnya:
MD.III. 57 :
Socanti jamayo yatra,
Vinasyatyacu tatkulam,
Na socanti tu yatraita,
Vardhate taddhi sarvada.
Di mana wanita hidup dalam kesedihan,
keluarga itu akan cepat hancur,
tetapi di mana wanita tidak menderita,
keluarga itu akan selalu bahagia.
Orang yang Putusasa adalah mereka yang tidak mampu mengambil Hikmah dari suatu kejadian, akhirnya hanya menyalahkan karunia Tuhan.
Selamat hari Kartini untukmu perempuan Indonesiaku – semoga memberi inspirasi.
Om Santih Santih Santih Om …..
Sumber: JMS
Selasa, 21 April 2009
Merawat Tubuh agar Sehat
TUBUH perempuan adalah tubuh yang sangat rentan. Bila Anda tidak bisa merawatnya dengan baik, maka tubuh Anda akan tidak menarik. Kusam dan tentu saja mengurangi rasa percaya diri Anda bila tampil di depan publik. Berikut langkah sederhana yang bisa Anda lakukan untuk merawat tubuh Anda.
Selanjutnya
http://batankelecung.blogspot.com/2009/04/menjadikan-kulit-halus.html
Selanjutnya
http://batankelecung.blogspot.com/2009/04/menjadikan-kulit-halus.html
Minggu, 19 April 2009
Berita Pertemuan April 2009
Om Swastyastu,
Pertemuan T Sarua tanggal 19 April 2009 di rumah Bpk Nyoman Pudja, yang diawali persembahyangan dipimpin Mangku N. Wintha membahas beberapa hal antara lain, pendataan keanggotaan, informasi program dan anggaran, keanggotaan Yay. Pitra Yadnya, Iuran anggota dsbnya.
Disepakati beberapa keputusan sebagai berikut :
1. Seluruh warga T Sarua menjadi anggota Yay. Pitra Yadnya
2. Dalam mendukung program kegiatan yang dilaksanakan, warga sepakat untuk meningkatkan iuran menjadi Rp25.000,- termasuk iuran kepada Yay. Pitra Yadnya sebesar Rp10.000,-
3. Pendaftaran anggota ke Yay. dibantu pengurus dilaksanakan bulan Juni 2009
Disamping itu di informasikan bahwa Parisada DKI Jakarta akan mengadakan Dharma Santi di Pura Aditya Jaya Rawamangun tanggal 26 April 2009.
Om Shanti, Shanti, Shanti, Om
Pertemuan T Sarua tanggal 19 April 2009 di rumah Bpk Nyoman Pudja, yang diawali persembahyangan dipimpin Mangku N. Wintha membahas beberapa hal antara lain, pendataan keanggotaan, informasi program dan anggaran, keanggotaan Yay. Pitra Yadnya, Iuran anggota dsbnya.
Disepakati beberapa keputusan sebagai berikut :
1. Seluruh warga T Sarua menjadi anggota Yay. Pitra Yadnya
2. Dalam mendukung program kegiatan yang dilaksanakan, warga sepakat untuk meningkatkan iuran menjadi Rp25.000,- termasuk iuran kepada Yay. Pitra Yadnya sebesar Rp10.000,-
3. Pendaftaran anggota ke Yay. dibantu pengurus dilaksanakan bulan Juni 2009
Disamping itu di informasikan bahwa Parisada DKI Jakarta akan mengadakan Dharma Santi di Pura Aditya Jaya Rawamangun tanggal 26 April 2009.
Om Shanti, Shanti, Shanti, Om
Sabtu, 18 April 2009
Satria Klungkung
Om Awighanam Astu Namah Siwa Buddhaya.
Penulisan sejarah suatu desa tidak dapat dipisahkan dengan keadaan/situasi jaman atau kerajaan, baik keadaan yang lebih dahulu dan sesudahnya sehingga merupakan rangkaian yang tak terputuskan, sehingga saling mengkait antara satu dengan yang lainnya. Namun dalam pengumpulan data memang banyak menemui hambatan karena kurangnya catatan-catatan secara kronologis dan informasi yang mendukung. Kendatipun demikian dengan keterbatasan data dan informasi kami mencoba menulis sejarah keberadaan Desa Satria, yang dikumpulkan dari babad atau sejarah yang ada dan informasi para orangtua/leluhur yang secara turun-temurun menceritakan tentang keberadaan Desa Satria itu yang terbagi 4 tahapan utama yaitu :
- Masa akhir zaman Kerajaan Gelgel tahun 1630-1677.
- Masa Kerajaan Klungkung tahun 1677-1908.
- Masa penjajahan Belanda dan Jepang tahun 1908-1945.
- Masa Kemerdekaan R I sampai sekarang tahun 1945 sampai sekarang
1. Masa akhir kerajaan Gelgel tahun 1630-1677.
Dalem Dimade Dinobatkan menjadi raja Gelgel ke V1, sebagai pelanjut Dinasti Sri Kresna Kepakisan pada tahun 1630 menggantikan Dalem Segening, Patih Agung Kryan Agung Maruti Sebagai patih utama , mengadakan pemberontakan terhadap raja karena intrik dari para pembesar kerajaan tahun 1651 sehingga Dalem Dimade beserta putra dan para pengiring setia mengungsi ke Guliang Bangli. Kendatipun Gelgel dikuasai oleh Kryan Agung Maruti, namun para penguasa wilayah diluar Gelgel tidak mengakui sebagai raja Bali. Atas upaya Anglurah Sidemen pada tahun 1677 setelah 26 tahun Gelgel dibawah kekuasaan Kryan Dalem Maruti, dilaksanakan penyerangan kembali atas Gelgel bersama sama dengan para penguasa wilayah yang masih setia terhadap raja Dalem Dimade. Dengan kesepakatan yang diambil dalam pertemuan di Ulah Sidemen dibawah pimpinan Ida I Dewa Jambe putra dari Dalem Dimade penyerangan atasGelgel dilaksanakan dari segala penjuru yakni dari Selatan dengan bermarkas disebelah barat Jumpai dibawah pimpinan perang I Gusti Ngurah Pemedilan dari Badung, dari arah barat laut oleh pasukan Denbukit dibawah pimpinan I Gusti Panji Sakti dengan Panglima perang KiTambang Sampan dengan Taruna Goaknya bermarkas di Penasan Aji. Sedangkan dari arah utara – timur laut pasukan Sidemen, Bangli dan Bengkel dibawah pimpinanAnglurah Sidemen bermarkas disebelah selatan Desa Sumpulan (Paksebali sekarang), pada suatu wilayah bengang yang disebut wilayah kekeran (keker =kokoh =benteng = markas komando). Karena dari sini seluruh penyerangan atas Gelgel dikordinasikan, Ida I Dewa Jambe bermarkas di Dawan dengan pasukan dibawah kawalan Pangaren Paketan. Perang tak dapat dielakkan yang berakhir dengan larinya Maruti kedaerah Jimbaran dan Gelgel dibumi hanguskan sampai rata dengan tanah.
2. Masa kerajaan Klungkung tahun 1677-1908.
2. Masa kerajaan Klungkung tahun 1677-1908.
Dengan hancurnya Gelgel, maka atas prakarsa Anglurah Sidemen dan saran Ida Pedanda Gede Buruan, karena Gelgel sering mengalami pemberontakan-pemberontakan maka istana kerajaan dibangun didesa Klungkung sebelah utara Gelgel dan selama pembangunan istana Ida I Dewa Jambe beristana di Ulah Sidemen. Setelah 9 tahun pembangunan pada tahun 1686 istana kerajaan selesai dinamakan Semarajaya sedangkan ibukota kerajaan dinamai Semarapura. Pada saat I Dewa Jambe dinobatkan sebagai raja Klungkung I bergelar Ida I Dewa Agung Jambe dan gelar Dalem mulai ditanggalkan. Beliau berputra 3 orang laki-laki yaitu tertua Ida I Dewa Agung Made, penengah Ida I Dewa Agung Anom, dan yang bungsu Ida I Dewa Agung Ketut Agung. Sebagai pengganti raja adalah Ida I Dewa Agung Made yang dinobatkan pada tahun 1705, sebagai raja Klungkung yang kedua. Sedangkan adik beliau Ida I Dewa Agung Anom menjadi raja Sukawati Gianyar yang dinobatkan pada tahun 1711 dan Ida I Dewa Agung Ketut Agung kembali ke Gelgel beristana dikarang Kepatihan, bekas tempat tinggal Kryan Agung Maruti sebelah utara pasar Gelgel (Puri Kanginan Gelgel sekarang). Diceritakan Ida I Dewa Agung Made memperistri putri raja Karangasem bernama I Gusti Ayu Karang dengan abiseka Ida I Dewa Agung Istri Karang Didalem pada tahun 1711 dan mengangkat putra bernama Ida I Dewa Agung Gede beribu dari Diah Pegambuhan beristana di Puri Agung Denpasar (Komplek BRI,Kantor PU dan Jawatan Pegadaian sekarang serta Taman Lila Arsana). Sedang putra raja kedua Ida I Dewa Agung Made beribu dari Gunaksa diangkat putra oleh permaisuri berasal dari putri raja Mengwi abiseka Ida I Dewa Agung Istri Pacung dan putra ketiga Ida I Dewa Agung Ketut Rai beristana di Akah. Dengan adanya 2 putra mahkota jelas akan terjadi kesalah pahaman, siapa pengganti raja Klungkung dikemudian hari. Keributanpun tak bisa dihindarkan, maka terjadilah puncak perselisihan ketika dilaksanakan sabungan ayam di Bencingah Puri Agung Denpasar (komplek pasar senggol dan tragia) yang berakhir dengan adanya perang antara kedua pihak. Namun dengan diketahui Ida I Dewa Agung Gede mendapat bantuan dari pihak raja Karangasem, maka rakyat Klungkung memihak kepada Ida I Dewa Agung Dimadya. Dengan keadaan yang demikian itu Ida I Dewa Agung Gede menuju Puri Akah memberitahukan hal tersebut dan akhirnya beliau menetap di Desa Talibeng yaitu wilayah kekuasaannya. Tahun 1754 atas permintaan raja Karangasem I Gusti Ketut Karangasem paman beliau wilayah Talibeng dan sekitarnya seperti Lebu, Tohjiwa, Temage, Cegeng, Sangkanhaji, Pemurugan ditukar dengan wilayah Tamanbali daerah kekuasaan Karangasem yang dikalahkan pada tahun 1750. Dengan hal itu Ida I Dewa Agung Gede menjadi raja Tamanbali mulai tahun 1754. Selama 16 tahun beliau berkuasa di Tamanbali akhirnya mangkat karena usia lanjut. Dalam persiapan upacara pretiwa (pelebon), putra beliau Ida I Dewa Agung Gede Putra menghadap ke Semarapura untuk memohon pinjam selonding tapi ditolak karena akan dipakai. Maka tepat pada hari pelebon di Tamanbali, raja Klungkung Ida I Dewa Agung Made juga diupakarakan atiwa-tiwa oleh putra-putra beliau. Mungkin ini titah Ida Sang Hyang Widhi Wasa, ini terjadi tahun 1770. Pada tahun 1776 atas prakarsa I Dewa Manggis Karang, raja Gianyar yang ke IV, diseranglah Tamanbali yang dipimpin oleh putra I Dewa Gede Tangkuban mantan raja Tamanbali yang dikalahkan oleh Karangasem. Dengan hal tersebut masyarakat Tamanbali sebagian besar memihak kepada putra mahkota raja yang bernama I Dewa Raka dan I Dewa Gde Rai, sehingga melihat gelagat itu Ida I Dewa Agung Gde Putra kembali menuju Klungkung bersama dengan rakyat yang setia. Setibanya di Klungkung, istana Puri Agung Denpasar ditempati oleh I Dewa Agung Panji, putra tertua dari Ida I Dewa Agung Made beribu dari Denbukit. Karena tidak ada tempat akhirnya diputuskan menuju Karangasem meminta pertimbangan kepada paman beliau. Tidak begitu lama di Amlapura beliau disarankan untuk kembali ke Klungkung, tapi beliau sangat malu untuk ke Semarapura. Namun sebelum sampai di Semarapura beliau beristirahat karena waktu menjelang malam disuatu wilayah antara desa Sampalan Tengah dan Sampalan Kaja (daerah bengang , wilayah Kekeran, bekas markas komando pada saat penyerangan Gelgel). Akhirnya daerah ini dipakai puri dengan pemukimanya dan setelah selesai diberi nama Desa Satria dengan batas disebelah utara sampalan kaja disebelah timur Desa Gunaksa, disebelah selatan Desa Sampalan Tengah dan disebelah barat Tukad Unda. Dengan selesainya pemukiman ini didasari atas catur pata dan asta bumi, kaum puri berada disebelah timur perempatan Agung maka dinamai Puri Kanginan Desa Satria. Setelah lama desa ini banyak dihuni, datanglah dari Puri Agung Semarajaya putra Ida I Dewa Agung Made yang beribu dari Sampalan. Bernama Ida Cokorda Gede Raka membangun puri sebelah barat perempatan Agung dinamai puri Kawan dan demikian juga adanya Puri kaleran Desa Satria, karena putra dari Ida I Dewa Agung Panji bernama Ida Cokorda Gede Mayun mbangun puri disebelah utara perempatan Agung Desa Satria. Pada saat pembangunan pemukiman di desa Satria, desa sekitarnya sudah ada terlebih dahulu seperti desa Sampalan Kaja ( Paksebali Sekarang) Pura dalem Kenanga (sebelumnya bernama Dalem Puri) berlokasi di Sampalan Tengah. Sedangkan Desa Adat Satria kendatipun berlokasi di Sampalan Tengah, sekitar Desa Adat Sampalan tetapi tidak termasuk dijajarannya.Sekarang dikisahkan di Puri Agung Kanginan Satria , Ida I Dewa Agung Gede Putra dan permaisurinya bernama I Dewa Agung Istri Muter tidak berputra, sehingga beliau mengangkat putra dari Puri Agung Semarajaya putra dari Ida I Dewa Agung Sakti yang beribu adik dari Ida I Dewa Agung Gede Putra bernama Ida I Dewa Agung Gde Rai, berarti putra angkatnya ini adalah keponakan beliau sendiri dengan para pengiringnya yakni I Dewa Ketut Babakan, dengan Bagawanta Ida Pedanda Gde Kemenuh dari Gria Kamasan. Disamping itu beliau juga membangun pasar yang berada disebelah selatan bencingah bernama pasar Satria (sekarang SD. NO.2 Paksebali). Pada saat ini atas petunjuk Ida Pedanda Gde Kemenuh beliau mulai membangun pemerajan Agung dan nuur Ida Betara Dalem Agung di Klungkung, dan diistanakan di Pura Dalem Agung Satria yang berlokasi di desa Paksebali (sekarang).
3. Masa penjajahan Belanda dan Jepang .
Dengan kekalahan Klungkung dalam perang Puputan tanggal 28 April 1908 secara langsung kerajaan Klungkung dibawah pemerintahan Hindia Belanda. Dengan stb. 1929 no. 226 Belanda membentuk 8 negara di Bali, termasuk Klungkung dan negara ini disebut Zalf Landscapen/ swapraja sampai ketingkat bawah (desa) sehingga desa adat yang ada langsung menjadi desa perbekelan (sebutan bali) . Begitu juga kekalahan Belanda oleh Jepang, akan tetapi sistem pemerintahan tetap Bali sesuai dengan Agama Hindu.
4. Masa Kemerdekaan RI tahun 1945 sampai sekarang.Dalam masa kemerdekaan setelah Jepang bertekuk lutut dengan Sekutu, pemerintahaan tetap dengan sistem lama (perbekelan) , yakni pemerintahan di desa dipegang oleh Perbekel dengan pembantu- pembantunya disebut pengliman yang langsung juga menjadi kelian banjar di masing- masing banjarnya, yang mempunyai tugas rangkap baik di bidang administrasi pemerintahaan dan masalah adat istiadat termasuk keagamaannya.
Dengan dikeluarkannya UU Pemerintahan Desa No 5 tahun 1979 Pemerintahan Desa terjadi dualisma pemerintahan di desa pekraman dengan adanya desa dinas dan desa adat dengan segala perangkatnya. Keluarnya UU No 5/1979 Desa Satria berstatus desa perbekelan dengan Perbekel Ida Anak Agung Putu Tupug dari Puri Kawan Satria. Karena adanya gejolak politik menjelang meletusnya G. 30 S maka pada awal 1963 pemerintahan desa diserahkan kepada Pemerintahan Daerah TK. II Klungkung yang pada saat itu dijabat oleh Bupati Tjokorda Anom Putra dan warga masyarakat desa Satria dalam urusan surat menyurat kedinasan dilimpahkan di bawah perbekelan Desa Paksebali dibawah I Gusti Made Geria.
Sumber Pustaka.
1. Perang Jagaraga (1846-1849) oleh Dr Sugiyanto Sostrodiwiryo.
2. I Gusti Panji Sakti Raja Buleleng 1599-1680.
3. Kupu- Kupu kuning yang terbang di Selat Lombok oleh A. A. Ketut Agung.
(Lintasan sejarah kerajaan Karangasem 1667-1950).
4. Bangli Tempo dulu oleh I Wayan Sringgin Wikraman.
5. Babad Dalem – milik Ida Bagus Rai Pidada.
6. Sejarah Klungkung sampai dengan Puputan Klungkung oleh Ida Bagus RaiPidada.
7. Arsip pemerintahan Perbekelan Satria.
8. Catatan babad/ sejarah milik orangtua Penulis.
RESUME :
Masa akhir Pemerintahan Raja Gelgel Ida Dalem Dimade pada tahun 1651, (dengan adanya pemberontakan oleh Kryan Agung Maruti) dan beliau mangkat di Guliang.
Atas desakan Anglurah Sidemen terhadap Ida I Dewa Jambe putra dari Dalem Dimade dan kesepakatan para penguasa wilayah yang masih setia terhadap Dalem, Gelgel digempur dari segala arah.
Sebagai pusat komando adalah markas/ benteng yang berada disebelah selatan Desa Sumpulan (Paksebali) disebut karang kekeran (benteng, keker= kokoh) tempat para Kesatria mengatu strategi dalam perang Gelgel tahun 1677.
1. Masa pemerintahan Kerajaan Klungkung, Raja Klungkung ke II Ida Dewa Agung Dimadya (Made) mengangkat 2 orang putra mahkota yaitu Ida I Dewa Agung Gede diangkat oleh permaisuri dari putra raja Karangasem dan Ida I Dewa Agung Made diangkat oleh permaisuri dari putra raja Mengwi Dengan adanya 2 putra mahkota, terjadi kesalahanpahaman dan terjadilah perselisihan yang memuncak dengan mengungsinya Ida Idewa Agung Gede ke desa Talibeng dan akhirnya ke Tamanbali sebagai raja setelah ditukar oleh raja Karangasem dengan wilayah Talibeng pada tahun 1754.Pada tahun 1770, Tamanbali diserang oleh putra mahkota raja Tamanbali I Dewa Tangkuban, akhirnya putra dari Ida I Dewa Agung Gede pergi ke Klungkung dan lanjut ke Karangsem. Tidak lama di Karangasem disarankan pulang ke Klungkung oleh pamannya dan membangun pemukiman diwilayah Kekeran disebelah selatan desa Sumpulan dinamakan desa Satria, yaitu tempat berkumpulnya para kesatria dalam mengatur strategi dalam perang melawan Gelgel tahun 1677 lalu.
Sumber agung dwi blog
Langganan:
Postingan (Atom)