Om Swastyastyu ….
PITRA – YADNYA – Bagian VI
Oleh Bp. Mangku Sudiada
Untuk Pitra-Yadnya bagian ke VI ini, sebelum kita mulai dengan Doa doanya, mari kita lihat terlebih dahulu sarana dan prasarana yang kita harapkan ada pada saat melaksanakan titip di Pertiwi maupun titip di Geni.
A. PRASARANA YANG DIPERLUKAN.
1. Tempat Memandikan Jenazah ( pepaga / dipan / bangku / meja).
2. Kain putih
- Untuk leluhur Ulap-ulap : 1 m
- Untuk Udeng : 1 m
- Untuk angkep rai : 30 cm2
- Untuk angkep baga : 30 cm2
- Kain kamben pria : 2 m2 saput : 1,5 m2.
- Kain kamben wanita : 2 m2 dan tapih 1,5 m2.
Perempuan selendang.
- Untuk sabuk kain : 10 cm X 1,5 (pria maupun wanita )
- Untuk sabuk saput : sama dengan yang diatas.
- Untuk penggulung Jenazah : 3,5 X 1,25
- Untuk Rantasan : 3 m ( putih kuning )
- Untuk dalam peti : 7 m
- Untuk tali pengikat : 3 m
- Untuk kain rurub : secukupnya.
3. Carang dapdap untuk tiang leluhur.
4. Tikar untuk alas memandikan
5. Ember & gayung untuk nyiraman
6. Peti mati & kereta Jenazah
7. Bantal kecil.
8. Pisau untuk mengerik kuku.
9. Lubang bila dikubur.
B. SARANA YANG DIPERGUNAKAN.
1. Untuk pebersihan
- Sisig dari beras yang dibakar
- Ambuh dari santan kelapa.
- Minyak rambut dan sisir
- Kekosok dan boreh dari beras kuning
- Gadung, bunga tunjung, kapas, daun intaran, bunga menur, sikapa, waja, pecahan cermin, daun tuwung, bunga-bunga, kwanngen, pemblonyoh putih kuning.
- Telor.
2. Air: Air biasa, & air kembang.
3. Sabun mandi dan handuk
4. Kapas untuk mayat yang luka luka dan perban
5. Benang itik itik (tali)
6. Momon cincin (permata).
C. BEBANTEN UNTUK UPACARA.
1. Upacara memandikan.
- Ke-Surya : Pejatian Daksina, Pras, Ajuman, Ketipat kelanan, canang sari & segehan.
- Ke – Kawitan : Pejatian.
- di Labuh / lebuh : Segehan.
- Banten Nunas tirta ke Pura-pura : Pejatian.
- Saji Tarpana : Punjung, Bubur pirata, Canang,
Setelah selesai mandi kain rantasan, cecepan / tempat air & segehan di teben sawa.
- Kwangen : pengrekaan 7 buah.
- Sekar ura : Beras kuning, samam dari daun pandan/temen pudak uang.
- Banten arepan : Peras daksina canang segehan.
- Tirta Pebersihan, penglukatan, Pengringkes.
- Banten Prastita, daksina, sasat, canang untuk peti.
2. Bebanten untuk di kubur.
- Ke Prajapati : Pejatian, pras, daksina,ajuman, tipat kelanan, canang, segehan
- Ke Pura Dalem : Pejatian
- Ke Pertiwi : Pras daksina segehan canang.
- Bangbang : Pras daksina segehan.
- Arepan : Pras Daksina, ajuman, segehan.
3. Untuk di Perabukan/Mekingsan di Geni.
- Ke Prajapati : Pejatian.
- Ke Surya : Pejatian
- Ke Dalem : Pejatian
- Ke pemuhun : Daksina, canang sari, segehan
- Tarpana : Daksina, bubur pirata, beras catur warna, segehan nasi angkep
- Kain putih
: ulap ulap – 1 m
: Pengerekaan
: Rantasan putih kuning
: kain putih kuning di Surya
: Pembungkus pengadeg Pitare
- Arepan : Pras daksina, canang segehan.
Setelah selesai megeseng :
- Banten penyub : Pras daksina, segehan, canang yeh anyar, air kembang.
4. Ngirim Nganyut.
- Ke Surya : Pejatian
- Arepan : Pras, daksina canang sari, segehan.
- Tarpana : Daksina, oda putih kuning, bubur pirata, canang sari, segehan
- Kwangen : 22 bua untuk pengrekaan.
- Untuk disegara : Pras daksina, canang segehan.
5. Banten Pebesihan
- Untuk Warga Perayascita ( ditempat )
- Untuk kedukaan dirumah Perayascita, caru ayam brumbun, dan reruntutannya setelah tiga hari.
Om Shanti Shanti Shanti ….
Minggu, 31 Januari 2010
Pitra Yadnya
Om Swastyastyu ….
PITRA – YADNYA – Bagian V
Untuk Pitra-Yadnya bagian ke V ini Kita akan membahas masalah titip di Geni muang titip di Pertiwi, dengan bagian bagiannya adalah sebagai berikut :
a. Berangkat dari Rumah duka / Tempat duka / Rumah sakit kamar Jenazah.
b. Upacara keagamaan / Militer
c. Titip di Pertiwi
d. Titip di Geni.
e. Ngunya.
a) Jenazah berangkat dari rumah duka.
Jenazah diberangkatkan dari rumah duka menuju Kuburan / Setra, peti diusung dengan bagian kaki didepan dan kepala di belakang dengan berjalan secara pelan pelan, bagi Militer didahului denga militer,
Bila memakai Mobil Jenazah kepala ditaruh didepan, dan bagian kaki kearah belakang kendaraan.
Urut-urutan perjalanan.
- Paling depan Pengawal Jenazah ( for Rider )
- Kereta Jenazah / Mobil Jenazah.
- Rombongan para pengantar.
Didalam perjalanan sekar uranya ditaburkan sepanjang jalan sampai ke kuburan, sebagai perlambang permohonan ijin dalam perjalanan dari rumah duka menuju Kuburan.
Setelah sampai di kuburan peti Jenazahnya itu diputar putar tiga kali putarannya ( lihat posting sebelumnya ) mengelilingi lubang kuburan, kalau memang mau titip / mekingsan di pertiwi,
atau mengitari gegumuk kremasi kalau tempatnya memungkinkan untuk memutarinya, kalau tidak diputar putar saja selama tiga kali didepan alat krematori.
b) Upacara Agama / Militer.
Bila yang meninggal itu adalah militer atau keluarga militer, maka untuk acara ini biasanya didahulukan sehingga Mereka yang militer tidak terlalu lama untuk menunggu acara keagamaanya.
Rochaniawan, menghaturkan pesaksi ke Surya, Prajapati dan Pertiwi, Ke Pitare dan selanjutnya para saudara dan pengantar, berdoa bersama sama yang dipimpin oleh rochaniawan
c) Titip di Pertiwi.
Setelah upacara militer selesi dalam rangka pelepasan untuk terakhir kalinya, maka diteruskan kemudian dengan cara keagamaan, yang diawali dengan pencucian Bangbang terlebih dahulu, diteruskan dengan penurunan Peti Jenazah/ mayat, dengan catatan kepala menghadap Keadya ( kaja) dalam artian ke arah gunung, dan kehulu kearah matahari terbit ( kangin ), setelah itu baru kemudian di timbun oleh para Perti sentana / keluarga kamudian diteruskan dengan keluarga terdekat, diteruskan oleh orang orang yang paling dekat selama hidup almarhum, selanjutnya oleh para petugas.
Rochaniawan, menghaturkan pesaksi ke Surya, Prajapati dan Pertiwi, Ke Pitare dan selanjutnya para saudara dan pengantar, berdoa bersama sama yang dipinpin oleh rochaniawan dan penguburan pun selesai.
Selanjutnya Warga meperayastita sebagai penyucian diri.
d) Mekingsan / titip diGeni.
Pelaksanaannya sama dengan penguburan mayat, hanya bedanya memprabukan ke Krematorium atau prabuan tradisional, Sama mayat diputar putar sebanyak tiga kali sama dengan diatas, setelah itu ditaruh pada sebuah tempat yang telah disediakan,
Bila militer didahului dengan upacara militer, kemudaian dilanjutkan dengan upacara keagamaan.
Pelaksanaan bila mekingsan di Geni, sama dengan dikubur hanya bedanya Jenazah dibakar. Setelah selesai melaksanaan perabuan, abu tulangnya disiram dengan air bersih, air kembang atau lajimnya dibali disebut air Kumkuman.
Setelah itu sebagian abunya dimasukan kedalam Klungah Nyuh gading.Sebagian di reka diatas kain putih kira kira satu meter, dan juga leluhur satu meter.
Ngereka yaitu menyusunan kembali tulang-tulangnya yang sudah menjadi abu, dibentuk seperti manusia kembali, kalau masih bisa, untuk dikepala, dikasi abu tempurung kepala, bagian tangan diberikan abutulang tangan demikian pula bagaian bagian anggota tubuh lainnya.
Ngereka yaitu menyusun kembali bentuk manusia yang diisi, diuripkan dengan Kwangen sebagai pengurip urip sebanyak 22 buah yang ditempatkan sebagai berkut.
- 9 buah kwangen dibagian kepala, membentuk daun padama ke semua arah penjuru.
- 7 buah Kwangen didada menghadap ke atas.
- 6 buah diletakkan samping kiri dan kanan.
Selanjutnya Rochaniawan memuja ke Prajapati Surya.
Dilanjutkan sesaju Terpana ke Pitara, dilanjutkan sembaha para sentana, diperciki tirta sesuai dengan urut urutan tirta ( lihat posting sebelumnya) kemudian abu tulang dibungkus dengan kain putih tersebut, diatasnya ditaruh kelapa gading yang diisi abu lalu diusung diputar kembali sebanyak tiga kali mengelilingi tempat upacara, selanjutnya menuju segara/ laut untuk dihanyutkan.
Sesampai di laut rochaniawan menghaturkan pesaksi ke Sang Hyang Baruna lalu diteruskan dengn penghanyutan terakhir. Maka Upacarapun selesai.
e) Ngunya Mendoakan Pitara / almarhum.
Umat mengadakan mepreyastita diadakan di rumah duka sebaiknya diadakan sebanyak tiga kali oleh warga ( lihat sikompyang ) situasi, kondisi dan jangkauan.
( lihat nanti Doa doa Ngunya Pitra Yadnya ke VI ) Doa pengantar bagi sang meninggal.
Setelah itu dilaksanakan, yang terakhirnya dilakukan dengan pencaruan memakai ayam Brumbun. ( eka sata)
Ainggih antuk Kumpulan doa doa bisa diikuti pada : Pitra-Yadnya ke VI.
Om Shanti Shanti Shanti ….
PITRA – YADNYA – Bagian V
Untuk Pitra-Yadnya bagian ke V ini Kita akan membahas masalah titip di Geni muang titip di Pertiwi, dengan bagian bagiannya adalah sebagai berikut :
a. Berangkat dari Rumah duka / Tempat duka / Rumah sakit kamar Jenazah.
b. Upacara keagamaan / Militer
c. Titip di Pertiwi
d. Titip di Geni.
e. Ngunya.
a) Jenazah berangkat dari rumah duka.
Jenazah diberangkatkan dari rumah duka menuju Kuburan / Setra, peti diusung dengan bagian kaki didepan dan kepala di belakang dengan berjalan secara pelan pelan, bagi Militer didahului denga militer,
Bila memakai Mobil Jenazah kepala ditaruh didepan, dan bagian kaki kearah belakang kendaraan.
Urut-urutan perjalanan.
- Paling depan Pengawal Jenazah ( for Rider )
- Kereta Jenazah / Mobil Jenazah.
- Rombongan para pengantar.
Didalam perjalanan sekar uranya ditaburkan sepanjang jalan sampai ke kuburan, sebagai perlambang permohonan ijin dalam perjalanan dari rumah duka menuju Kuburan.
Setelah sampai di kuburan peti Jenazahnya itu diputar putar tiga kali putarannya ( lihat posting sebelumnya ) mengelilingi lubang kuburan, kalau memang mau titip / mekingsan di pertiwi,
atau mengitari gegumuk kremasi kalau tempatnya memungkinkan untuk memutarinya, kalau tidak diputar putar saja selama tiga kali didepan alat krematori.
b) Upacara Agama / Militer.
Bila yang meninggal itu adalah militer atau keluarga militer, maka untuk acara ini biasanya didahulukan sehingga Mereka yang militer tidak terlalu lama untuk menunggu acara keagamaanya.
Rochaniawan, menghaturkan pesaksi ke Surya, Prajapati dan Pertiwi, Ke Pitare dan selanjutnya para saudara dan pengantar, berdoa bersama sama yang dipimpin oleh rochaniawan
c) Titip di Pertiwi.
Setelah upacara militer selesi dalam rangka pelepasan untuk terakhir kalinya, maka diteruskan kemudian dengan cara keagamaan, yang diawali dengan pencucian Bangbang terlebih dahulu, diteruskan dengan penurunan Peti Jenazah/ mayat, dengan catatan kepala menghadap Keadya ( kaja) dalam artian ke arah gunung, dan kehulu kearah matahari terbit ( kangin ), setelah itu baru kemudian di timbun oleh para Perti sentana / keluarga kamudian diteruskan dengan keluarga terdekat, diteruskan oleh orang orang yang paling dekat selama hidup almarhum, selanjutnya oleh para petugas.
Rochaniawan, menghaturkan pesaksi ke Surya, Prajapati dan Pertiwi, Ke Pitare dan selanjutnya para saudara dan pengantar, berdoa bersama sama yang dipinpin oleh rochaniawan dan penguburan pun selesai.
Selanjutnya Warga meperayastita sebagai penyucian diri.
d) Mekingsan / titip diGeni.
Pelaksanaannya sama dengan penguburan mayat, hanya bedanya memprabukan ke Krematorium atau prabuan tradisional, Sama mayat diputar putar sebanyak tiga kali sama dengan diatas, setelah itu ditaruh pada sebuah tempat yang telah disediakan,
Bila militer didahului dengan upacara militer, kemudaian dilanjutkan dengan upacara keagamaan.
Pelaksanaan bila mekingsan di Geni, sama dengan dikubur hanya bedanya Jenazah dibakar. Setelah selesai melaksanaan perabuan, abu tulangnya disiram dengan air bersih, air kembang atau lajimnya dibali disebut air Kumkuman.
Setelah itu sebagian abunya dimasukan kedalam Klungah Nyuh gading.Sebagian di reka diatas kain putih kira kira satu meter, dan juga leluhur satu meter.
Ngereka yaitu menyusunan kembali tulang-tulangnya yang sudah menjadi abu, dibentuk seperti manusia kembali, kalau masih bisa, untuk dikepala, dikasi abu tempurung kepala, bagian tangan diberikan abutulang tangan demikian pula bagaian bagian anggota tubuh lainnya.
Ngereka yaitu menyusun kembali bentuk manusia yang diisi, diuripkan dengan Kwangen sebagai pengurip urip sebanyak 22 buah yang ditempatkan sebagai berkut.
- 9 buah kwangen dibagian kepala, membentuk daun padama ke semua arah penjuru.
- 7 buah Kwangen didada menghadap ke atas.
- 6 buah diletakkan samping kiri dan kanan.
Selanjutnya Rochaniawan memuja ke Prajapati Surya.
Dilanjutkan sesaju Terpana ke Pitara, dilanjutkan sembaha para sentana, diperciki tirta sesuai dengan urut urutan tirta ( lihat posting sebelumnya) kemudian abu tulang dibungkus dengan kain putih tersebut, diatasnya ditaruh kelapa gading yang diisi abu lalu diusung diputar kembali sebanyak tiga kali mengelilingi tempat upacara, selanjutnya menuju segara/ laut untuk dihanyutkan.
Sesampai di laut rochaniawan menghaturkan pesaksi ke Sang Hyang Baruna lalu diteruskan dengn penghanyutan terakhir. Maka Upacarapun selesai.
e) Ngunya Mendoakan Pitara / almarhum.
Umat mengadakan mepreyastita diadakan di rumah duka sebaiknya diadakan sebanyak tiga kali oleh warga ( lihat sikompyang ) situasi, kondisi dan jangkauan.
( lihat nanti Doa doa Ngunya Pitra Yadnya ke VI ) Doa pengantar bagi sang meninggal.
Setelah itu dilaksanakan, yang terakhirnya dilakukan dengan pencaruan memakai ayam Brumbun. ( eka sata)
Ainggih antuk Kumpulan doa doa bisa diikuti pada : Pitra-Yadnya ke VI.
Om Shanti Shanti Shanti ….
Sedikit Tentang Panca Aksara
Om Swastyastu ….
Lima Aksara "Na Ma Si Wa Ya", atau... tertulis dalam buku Thirumandiram "Na Ma Shi Vaa Ya", itu tahun 3000 SM, penyembahan kepada Shiwa, oleh seorang Rsi kuno Thirumoolar (nama lain Rsi Sundaranatha). Beliau adalah seorang Shida dari tradisi Kriya Yoga... Lima aksara ini ada sebelum Rsi ini ada. Sepertinya Rsi Agastya yang menyebarkannya ke Nusantara ini.
Jika kita memanisfestasikan sesuatu missal leak dalam diri kita sembari mengucapkan mantra primodial ini... maka kita akan menjadi leak, seperti niat awal. Mantra ini adalah roket pendorong... arah atau kemana perginya roket, kita-lah pilotnya.
Om Shanti Shanti Shanti Om ….
Sumber: Wayan Suasthana
Lima Aksara "Na Ma Si Wa Ya", atau... tertulis dalam buku Thirumandiram "Na Ma Shi Vaa Ya", itu tahun 3000 SM, penyembahan kepada Shiwa, oleh seorang Rsi kuno Thirumoolar (nama lain Rsi Sundaranatha). Beliau adalah seorang Shida dari tradisi Kriya Yoga... Lima aksara ini ada sebelum Rsi ini ada. Sepertinya Rsi Agastya yang menyebarkannya ke Nusantara ini.
Jika kita memanisfestasikan sesuatu missal leak dalam diri kita sembari mengucapkan mantra primodial ini... maka kita akan menjadi leak, seperti niat awal. Mantra ini adalah roket pendorong... arah atau kemana perginya roket, kita-lah pilotnya.
Om Shanti Shanti Shanti Om ….
Sumber: Wayan Suasthana
Sabtu, 30 Januari 2010
Leak Pakai Panca Aksara
Om Swastyastu ….
Oleh Bp. Mangku Shri Danu
Bentuk Endih Leak
Leak merupakan suatu ilmu kuno yang diwariskan oleh leluhur Hindu di Bali. Pada zaman sekarang ini orang bertanya-tanya apa betul leak itu ada?, apa betul leak itu menyakiti?
Secara umum leak itu tidak menyakiti, leak itu proses ilmu yang cukup bagus bagi yang berminat. Karena ilmu leak juga mempunyai etika-etika tersendiri. Tidak gampang mempelajari ilmu leak. Dibutuhkan kemampuan yang prima untuk mempelajari ilmu leak. Di masyarakat sering kali leak dicap menyakiti bahkan bisa membunuh manusia, padahal tidak seperti itu.
Ilmu leak juga sama dengan ilmu yang lainnya yang terdapat dalam lontar-lontar kuno Bali.
Dulu ilmu leak tidak sembarangan orang mempelajari, karena ilmu leak merupakan ilmu yang cukup rahasia sebagai pertahanan serangan dari musuh. Orang Bali Kuno yang mempelajari ilmu ini adalah para petinggi-petinggi raja disertai dengan bawahannya.Tujuannya untuk sebagai ilmu pertahanan dari musuh terutama serangan dari luar. Orang-orang yang mempelajari ilmu ini memilih tempat yang cukup rahasia, karena ilmu leak ini memang rahasia. Jadi tidak sembarangan orang yang mempelajari. Namun zaman telah berubah otomatis ilmu ini juga mengalami perubahan sesuai dengan zamannya. Namun esensinya sama dalam penerapan. Yang jelas ilmu leak tidak menyakiti. Yang menyakiti itu ilmu teluh atau nerangjana, inilah ilmu yang bersifat negatif, khusus untuk menyakiti orang karena beberapa hal seperti balas dendam, iri hati, ingin lebih unggul, ilmu inilah yang disebut pengiwa.
Ilmu pengiwa inilah yang banyak berkembang di kalangan masyarakat seringkali dicap sebagai ilmu leak. Seperti yang dikatakan diatas leak itu memang ada sesuai dengan tingkatan ilmunya termasuk dengan endih leak. Endih leak ini biasanya muncul pada saat mereka lagi latihan atau lagi bercengkrama dengan leak lainnya baik sejenis maupun lawan jenis. Munculnya endih itu pada saat malam hari khususnya tengah malam. Harinya pun hari tertentu tidak sembarangan orang menjalankan untuk melakukan ilmu tersebut.
Mengapa ditempat angker? Ini sesuai dengan ilmu leak dimana orang yang mempelajari ilmu ini harus di tempat yang sepi, biasanya di kuburan atau di tempat sepi. Endih ini bisa berupa fisik atau jnananya (rohnya) sendiri, karena ilmu ini tidak bisa disamaratakan bagi yang mempelajarinya. Untuk yang baru-baru belajar, endih itu adalah lidahnya sendiri dengan menggunakan mantra atau dengan sarana.
Dalam menjalankan ilmu ini dibutuhkan sedikit upacara. Sedangkan yang melalui jnananya (rohnya), pelaku menggunakan sukma atau intisari jiwa ilmu leak. Sehingga kelihatan seperti endih leak, padahal ia diam di rumahnya. Yang berjalan hanya jiwa atau suksma sendiri. Bentuk endih leak ini beraneka ragam sesuai dengan tingkatannya. Ada seperti bola, kurungan ayam, tergantung pakem (etika yang dipakai). Ilmu ini juga memegang etika yang harus dipatuhi oleh penganutnya.
Endih leak ini tidak sama dengan sinar penerangan lainnya, kalau endih leak ini biasanya tergantung dari yang melihatnya. Kalau yang pernah melihatnya, endih berjalan sesuai dengan arah mata angin, endih ini kelap-kelip tidak seperti penerangan lainnya hanya diam.
Warnanya pun berbeda, kalau endih leak itu melebihi dari satu warna dan endih itu berjalan sedangkan penerangan biasanya warna satu dan diam. Karena endih leak ini memiliki sifat gelombang elektromagnetik mempunyai daya magnet.
Ilmu leak tidak menyakiti. Orang yang kebetulan melihatnya tidak perlu waswas. Bersikap sewajarnya saja. Kalau takut melihat, ucapkanlah nama nama Tuhan. Endih ini tidak menyebabkan panas.
Dan endih tidak bisa dipakai untuk memasak karena sifatnya beda. Endih leak bersifat niskala, tidak bisa dijamah.
Leak Shoping di Kuburan
Padadasarnya, ilmu leak adalah ilmu kerohanian yang bertujuan untuk mencari pencerahan lewat aksara suci. Dalam aksara Bali tidak ada yang disebut leak. Yang ada adalah “liya, ak” yang berarti lima aksara (memasukan dan mengeluarkan kekuatan aksara dalam tubuh melalui tata cara tertentu). Lima aksara tersebut adalah Si, Wa, Ya, Na, Ma.
· Si adalah mencerminkan Tuhan
· Wa adalah anugrah
· Ya adalah jiwa
· Na adalah kekuatan yang menutupi kecerdasan
· Ma adalah egoisme yang membelenggu jiwa Kekuatan aksara ini disebut panca gni (lima api).
Manusia yang mempelajari kerohanian apa saja, apabila mencapai puncaknya dia pasti akan mengeluarkan cahaya (aura). Cahaya ini keluar melalui lima pintu indria tubuh yakni telinga, mata, mulut, ubun-ubun, serta kemaluan. Pada umumnya cahaya itu keluar lewat mata dan mulut. Sehingga apabila kita melihat orang di kuburan atau tempat sepi, api seolah-olah membakar rambut orang tersebut.
Pada prinsipnya, ilmu leak tidak mempelajari bagaimana cara menyakiti seseorang. Yang dipelajari adalah bagaimana mendapatkan sensasi ketika bermeditasi dalam perenungan aksara tersebut. Ketika sensasi itu datang, maka orang itu bisa jalan-jalan keluar tubuhnya melalui ngelekas atau ngerogo sukmo. Kata ngelekas artinya kontraksi batin agar badan astra kita bisa keluar. Ini pula alasannya orang ngeleak. Apabila sedang mempersiapkan puja batinnya disebut angeregep pengelekasan. Sampai di sini roh kita bisa jalan-jalan dalam bentuk cahaya yang umum disebut endih. Bola cahaya melesat dengan cepat. Endih ini adalah bagian dari badan astral manusia (badan ini tidak dibatasi oleh ruang dan waktu). Di sini pelaku bisa menikmati keindahan malam dalam dimensi batin yang lain.
Jangan salah, dalam dunia pengeleakan ada kode etiknya. Sebab tidak semua orang bisa melihat endih. Juga tidak sembarangan berani keluar dari tubuh kasar kalau tidak ada kepentingan mendesak. Peraturan yang lain juga ada seperti tidak boleh masuk atau dekat dengan orang mati.
Orang ngeleak hanya shoping-nya di kuburan (pemuwunan). Apabila ada mayat baru, anggota leak wajib datang ke kuburan untuk memberikan doa agar rohnya mendapat tempat yang baik sesuai karmanya.
Begini bunyi doa leak memberikan berkat:
“Ong, gni brahma anglebur panca maha butha, anglukat sarining merta. mulihankene kite ring betara guru, tumitis kita dadi manusia mahatama. ong rang sah, prete namah”.
Sambil membawa kelapa gading untuk dipercikan sebagai tirta. Nah, di sinilah ada perbedaan pandangan bagi orang awam. Dikatakan bahwa leak ke kuburan memakan mayat, atau meningkatkan ilmu. Kenapa harus di kuburan? Paham leak adalah apa pun status dirimu menjadi manusia, orang sakti, sarjana, kaya, miskin, akan berakhir di kuburan.
Tradisi sebagian orang di India tidak ada tempat tersuci selain di kuburan. Kenapa demikian? Di tempat inilah para roh berkumpul dalam pergolakan spirit. Di Bali kuburan dikatakan keramat, karena sering muncul hal-hal yang menyeramkan. Ini disebabkan karena kita jarang membuka lontar tatwaning ulun setra. Sehingga kita tidak tahu sebenarnya kuburan adalah tempat yang paling baik untuk bermeditasi dan memberikan berkat doa.
Sang Buda Kecapi, Mpu Kuturan, Gajah Mada, Diah Nateng Dirah, Mpu Bradah, semua mendapat pencerahan di kuburan.
Di Jawa tradisi ini disebut tirakat. Leak juga mempunyai keterbatasan tergantung dari tingkatan rohani yang dipelajari. Ada tujuh tingkatan leak. Leak barak (brahma). Leak ini baru bisa mengeluarkan cahaya merah api. Leak bulan, leak pemamoran, leak bunga, leak sari, leak cemeng rangdu, leak siwa klakah. Leak Siwa klakah inilah yang tertinggi. Sebab dari ketujuh cakranya mengeluarkan cahaya yang sesuai dengan kehendak batinnya.
Setiap tingkat mempunyai kekuatan tertentu. Di sinilah penganut leak sering kecele, ketika emosinya labil. Ilmu tersebut bisa membabi buta atau bumerang bagi dirinya sendiri.
Hal inilah membuat rusaknya nama perguruan. Sama halnya seperti pistol, salah pakai berbahaya. Makanya, kestabilan emosi sangat penting, dan disini sang guru sangat ketat sekali dalam memberikan pelajaran. Selama ini leak dijadikan kambing hitam sebagai biang ketakutan serta sumber penyakit, atau aji ugig bagi sebagian orang. Padahal ada aliran yang memang spesial mempelajari ilmu hitam disebut penestian. Ilmu ini memang dirancang bagaimana membikin celaka, sakit, dengan kekuatan batin hitam.
Ada pun caranya adalah dengan memancing kesalahan orang lain sehingga emosi. Setelah emosi barulah dia bereaksi. Emosi itu dijadikan pukulan balik bagi penestian. Ajaran penestian menggunakan ajian-ajian tertentu, seperti aji gni salembang, aji dungkul, aji sirep, aji penangkeb, aji pengenduh, aji teluh teranjana. Ini disebut pengiwa (tangan kiri).
Kenapa tangan kiri, sebab setiap menarik kekuatan selalu memasukan energi dari belahan badan kiri. Pengiwa banyak menggunakan rajah-rajah (tulisan mistik). Juga pintar membuat sakit dari jarak jauh, dan dijamin tidak bisa dirontgent di lab. Yang paling canggih adalah cetik (racun mistik). Aliran ini bertentangan dengan pengeleakan. Apabila perang, beginilah bunyi mantranya, “ong siwa gandu angimpus leak, siwa sumedang anundung leak, mapan aku mapawakan segara gni…bla…bla…..”
Ilmu Leak ini sampai saat ini masih berkembang karena pewarisnya masih ada, sebagai pelestarian budaya Hindu di Bali dan apabila ingin menyaksikan leak ngendih datanglah pada hari Kajeng Kliwon Enjitan di Kuburan pada saat tengah malam.
Om Shanti Shanti Shanti Om ….
Sumber: Lontar Panestian: koleksi pribadi
Oleh Bp. Mangku Shri Danu
Bentuk Endih Leak
Leak merupakan suatu ilmu kuno yang diwariskan oleh leluhur Hindu di Bali. Pada zaman sekarang ini orang bertanya-tanya apa betul leak itu ada?, apa betul leak itu menyakiti?
Secara umum leak itu tidak menyakiti, leak itu proses ilmu yang cukup bagus bagi yang berminat. Karena ilmu leak juga mempunyai etika-etika tersendiri. Tidak gampang mempelajari ilmu leak. Dibutuhkan kemampuan yang prima untuk mempelajari ilmu leak. Di masyarakat sering kali leak dicap menyakiti bahkan bisa membunuh manusia, padahal tidak seperti itu.
Ilmu leak juga sama dengan ilmu yang lainnya yang terdapat dalam lontar-lontar kuno Bali.
Dulu ilmu leak tidak sembarangan orang mempelajari, karena ilmu leak merupakan ilmu yang cukup rahasia sebagai pertahanan serangan dari musuh. Orang Bali Kuno yang mempelajari ilmu ini adalah para petinggi-petinggi raja disertai dengan bawahannya.Tujuannya untuk sebagai ilmu pertahanan dari musuh terutama serangan dari luar. Orang-orang yang mempelajari ilmu ini memilih tempat yang cukup rahasia, karena ilmu leak ini memang rahasia. Jadi tidak sembarangan orang yang mempelajari. Namun zaman telah berubah otomatis ilmu ini juga mengalami perubahan sesuai dengan zamannya. Namun esensinya sama dalam penerapan. Yang jelas ilmu leak tidak menyakiti. Yang menyakiti itu ilmu teluh atau nerangjana, inilah ilmu yang bersifat negatif, khusus untuk menyakiti orang karena beberapa hal seperti balas dendam, iri hati, ingin lebih unggul, ilmu inilah yang disebut pengiwa.
Ilmu pengiwa inilah yang banyak berkembang di kalangan masyarakat seringkali dicap sebagai ilmu leak. Seperti yang dikatakan diatas leak itu memang ada sesuai dengan tingkatan ilmunya termasuk dengan endih leak. Endih leak ini biasanya muncul pada saat mereka lagi latihan atau lagi bercengkrama dengan leak lainnya baik sejenis maupun lawan jenis. Munculnya endih itu pada saat malam hari khususnya tengah malam. Harinya pun hari tertentu tidak sembarangan orang menjalankan untuk melakukan ilmu tersebut.
Mengapa ditempat angker? Ini sesuai dengan ilmu leak dimana orang yang mempelajari ilmu ini harus di tempat yang sepi, biasanya di kuburan atau di tempat sepi. Endih ini bisa berupa fisik atau jnananya (rohnya) sendiri, karena ilmu ini tidak bisa disamaratakan bagi yang mempelajarinya. Untuk yang baru-baru belajar, endih itu adalah lidahnya sendiri dengan menggunakan mantra atau dengan sarana.
Dalam menjalankan ilmu ini dibutuhkan sedikit upacara. Sedangkan yang melalui jnananya (rohnya), pelaku menggunakan sukma atau intisari jiwa ilmu leak. Sehingga kelihatan seperti endih leak, padahal ia diam di rumahnya. Yang berjalan hanya jiwa atau suksma sendiri. Bentuk endih leak ini beraneka ragam sesuai dengan tingkatannya. Ada seperti bola, kurungan ayam, tergantung pakem (etika yang dipakai). Ilmu ini juga memegang etika yang harus dipatuhi oleh penganutnya.
Endih leak ini tidak sama dengan sinar penerangan lainnya, kalau endih leak ini biasanya tergantung dari yang melihatnya. Kalau yang pernah melihatnya, endih berjalan sesuai dengan arah mata angin, endih ini kelap-kelip tidak seperti penerangan lainnya hanya diam.
Warnanya pun berbeda, kalau endih leak itu melebihi dari satu warna dan endih itu berjalan sedangkan penerangan biasanya warna satu dan diam. Karena endih leak ini memiliki sifat gelombang elektromagnetik mempunyai daya magnet.
Ilmu leak tidak menyakiti. Orang yang kebetulan melihatnya tidak perlu waswas. Bersikap sewajarnya saja. Kalau takut melihat, ucapkanlah nama nama Tuhan. Endih ini tidak menyebabkan panas.
Dan endih tidak bisa dipakai untuk memasak karena sifatnya beda. Endih leak bersifat niskala, tidak bisa dijamah.
Leak Shoping di Kuburan
Padadasarnya, ilmu leak adalah ilmu kerohanian yang bertujuan untuk mencari pencerahan lewat aksara suci. Dalam aksara Bali tidak ada yang disebut leak. Yang ada adalah “liya, ak” yang berarti lima aksara (memasukan dan mengeluarkan kekuatan aksara dalam tubuh melalui tata cara tertentu). Lima aksara tersebut adalah Si, Wa, Ya, Na, Ma.
· Si adalah mencerminkan Tuhan
· Wa adalah anugrah
· Ya adalah jiwa
· Na adalah kekuatan yang menutupi kecerdasan
· Ma adalah egoisme yang membelenggu jiwa Kekuatan aksara ini disebut panca gni (lima api).
Manusia yang mempelajari kerohanian apa saja, apabila mencapai puncaknya dia pasti akan mengeluarkan cahaya (aura). Cahaya ini keluar melalui lima pintu indria tubuh yakni telinga, mata, mulut, ubun-ubun, serta kemaluan. Pada umumnya cahaya itu keluar lewat mata dan mulut. Sehingga apabila kita melihat orang di kuburan atau tempat sepi, api seolah-olah membakar rambut orang tersebut.
Pada prinsipnya, ilmu leak tidak mempelajari bagaimana cara menyakiti seseorang. Yang dipelajari adalah bagaimana mendapatkan sensasi ketika bermeditasi dalam perenungan aksara tersebut. Ketika sensasi itu datang, maka orang itu bisa jalan-jalan keluar tubuhnya melalui ngelekas atau ngerogo sukmo. Kata ngelekas artinya kontraksi batin agar badan astra kita bisa keluar. Ini pula alasannya orang ngeleak. Apabila sedang mempersiapkan puja batinnya disebut angeregep pengelekasan. Sampai di sini roh kita bisa jalan-jalan dalam bentuk cahaya yang umum disebut endih. Bola cahaya melesat dengan cepat. Endih ini adalah bagian dari badan astral manusia (badan ini tidak dibatasi oleh ruang dan waktu). Di sini pelaku bisa menikmati keindahan malam dalam dimensi batin yang lain.
Jangan salah, dalam dunia pengeleakan ada kode etiknya. Sebab tidak semua orang bisa melihat endih. Juga tidak sembarangan berani keluar dari tubuh kasar kalau tidak ada kepentingan mendesak. Peraturan yang lain juga ada seperti tidak boleh masuk atau dekat dengan orang mati.
Orang ngeleak hanya shoping-nya di kuburan (pemuwunan). Apabila ada mayat baru, anggota leak wajib datang ke kuburan untuk memberikan doa agar rohnya mendapat tempat yang baik sesuai karmanya.
Begini bunyi doa leak memberikan berkat:
“Ong, gni brahma anglebur panca maha butha, anglukat sarining merta. mulihankene kite ring betara guru, tumitis kita dadi manusia mahatama. ong rang sah, prete namah”.
Sambil membawa kelapa gading untuk dipercikan sebagai tirta. Nah, di sinilah ada perbedaan pandangan bagi orang awam. Dikatakan bahwa leak ke kuburan memakan mayat, atau meningkatkan ilmu. Kenapa harus di kuburan? Paham leak adalah apa pun status dirimu menjadi manusia, orang sakti, sarjana, kaya, miskin, akan berakhir di kuburan.
Tradisi sebagian orang di India tidak ada tempat tersuci selain di kuburan. Kenapa demikian? Di tempat inilah para roh berkumpul dalam pergolakan spirit. Di Bali kuburan dikatakan keramat, karena sering muncul hal-hal yang menyeramkan. Ini disebabkan karena kita jarang membuka lontar tatwaning ulun setra. Sehingga kita tidak tahu sebenarnya kuburan adalah tempat yang paling baik untuk bermeditasi dan memberikan berkat doa.
Sang Buda Kecapi, Mpu Kuturan, Gajah Mada, Diah Nateng Dirah, Mpu Bradah, semua mendapat pencerahan di kuburan.
Di Jawa tradisi ini disebut tirakat. Leak juga mempunyai keterbatasan tergantung dari tingkatan rohani yang dipelajari. Ada tujuh tingkatan leak. Leak barak (brahma). Leak ini baru bisa mengeluarkan cahaya merah api. Leak bulan, leak pemamoran, leak bunga, leak sari, leak cemeng rangdu, leak siwa klakah. Leak Siwa klakah inilah yang tertinggi. Sebab dari ketujuh cakranya mengeluarkan cahaya yang sesuai dengan kehendak batinnya.
Setiap tingkat mempunyai kekuatan tertentu. Di sinilah penganut leak sering kecele, ketika emosinya labil. Ilmu tersebut bisa membabi buta atau bumerang bagi dirinya sendiri.
Hal inilah membuat rusaknya nama perguruan. Sama halnya seperti pistol, salah pakai berbahaya. Makanya, kestabilan emosi sangat penting, dan disini sang guru sangat ketat sekali dalam memberikan pelajaran. Selama ini leak dijadikan kambing hitam sebagai biang ketakutan serta sumber penyakit, atau aji ugig bagi sebagian orang. Padahal ada aliran yang memang spesial mempelajari ilmu hitam disebut penestian. Ilmu ini memang dirancang bagaimana membikin celaka, sakit, dengan kekuatan batin hitam.
Ada pun caranya adalah dengan memancing kesalahan orang lain sehingga emosi. Setelah emosi barulah dia bereaksi. Emosi itu dijadikan pukulan balik bagi penestian. Ajaran penestian menggunakan ajian-ajian tertentu, seperti aji gni salembang, aji dungkul, aji sirep, aji penangkeb, aji pengenduh, aji teluh teranjana. Ini disebut pengiwa (tangan kiri).
Kenapa tangan kiri, sebab setiap menarik kekuatan selalu memasukan energi dari belahan badan kiri. Pengiwa banyak menggunakan rajah-rajah (tulisan mistik). Juga pintar membuat sakit dari jarak jauh, dan dijamin tidak bisa dirontgent di lab. Yang paling canggih adalah cetik (racun mistik). Aliran ini bertentangan dengan pengeleakan. Apabila perang, beginilah bunyi mantranya, “ong siwa gandu angimpus leak, siwa sumedang anundung leak, mapan aku mapawakan segara gni…bla…bla…..”
Ilmu Leak ini sampai saat ini masih berkembang karena pewarisnya masih ada, sebagai pelestarian budaya Hindu di Bali dan apabila ingin menyaksikan leak ngendih datanglah pada hari Kajeng Kliwon Enjitan di Kuburan pada saat tengah malam.
Om Shanti Shanti Shanti Om ….
Sumber: Lontar Panestian: koleksi pribadi
Jumat, 09 Oktober 2009
Meditasi Dasaksara
Om Swastyastu
MENGENAL MEDITASI DASA AKSARA
Meditasi ini sesungguhnya sudah dikenal sejak lama, dan sudah berkembang sejak jamannya Panca Pandita, Beliau adalah:
1. Mpu Gnijaya.
2. Mpu Ghana.
3. Mpu Semeru.
4. Mpu Kuturan.
5. Mpu Baradah.
Adapun konsep meditasi ini mengajak kita untuk lebih memahami diri kita, dengan melakukan pengkajian kedalam diri bukan keluar, dari mulai membedakan mana tubuh dan mana roh, sampai merubah sifat tubuh menjadi sifat roh.
Diharapkan ketika seseorang sudah berada pada tingkat mahir menerapkan meditasi ini, maka mereka akan merasakan tubuhnya yang diikat oleh sang roh, bukan sang roh yang diikat oleh sang tubuh. Karena Sang Panca Pandita yang digunakan sebagai guru spiritual meditasi ini, maka pada meditasi ini menekankan konsep Tri murti sebagai dasar keyakinannya, dan mewajibkan bagi mereka yang ingin mencoba menerapkan dan memperdalam meditasi 10 (dasa) aksara ini diwajibkan tangkil ( datang ) kecatur Kayangan untuk mohon restu kepada beliau.
Catur Kayangan yang dimaksud adalah:
· Pura Lempuyang, memohon restu kepada Mpu Gnijaya.
· Pura Besakih, memohon restu kepada Mpu Smeru.
· Pura Dasar Buana di Gelgel, memohon kepada Mpu Ghana.
· Pura Silayukti, Memohon restu kepada Mpu Kuturan.
Ajaran Tri murti dan meditasi 10 (dasa) aksara saling melengkapi, dimana mengajarkan kita memahami Tuhan dengan amat sederhana, dan menyederhanakan pikiran karena pikiranlah sumber dari segala keinginan, yang membawa kita pada penderitaan, bahkan kita semakin jauh dari tujuan hidup yaitu Moksa ( Pembebasan dari ketrikatan) dan tak jarang kita menjadi tidak percaya dengan Moksa (pembebasan) tersebut.
Trimurti dan Meditasi 10 (dasa) Aksara memberikan gambaran bahwa Hindu yang berkembang di Bali menjadi berbeda dengan yang ada di mana-mana, bahkan dengan yang ada di India, karena leluhur pendahulunya menggunakan aksara Dewa Nagari hasil perpaduan antara huruf Palwa dan sansekerta, akhirnya dari hasil persilangan tersebut melahirkan huruf baru menjadi: A, Na, Ca, Ra, Ka, Da, Ta, Sa, Wa, La,Ma, Ga, Ba, Tha, Nga, Pa, Dha, Ja, Ya, Nya.
Oleh Leluhur dijelaskan, bahwa dengan memahami huruf-huruf Dewa Nagari itu sesungguhnya kita bisa mengenal sekaligus memahami Tuhan dan ciptaanya.
Karena aksara tersebut diatas, sesungguhnya simbul-simbul dari bentuk alam yang diciptakan Tuhan, sekaligus ada di dalam tubuh Manusia. Dan untuk memahami sifat alam dan penciptannya leluhur memadukan akasara Dewa Nagari tersebut menjadi 10 (dasa) aksara yakni: Sang, Bang, Tang, Ang, IngNang, Mang, Sing, Wang, Yang.
Aksara-aksara inilah yang nantinya digunakan dalam meditasi, karena aksara-aksara ini sesungguhnya sudah menjadi sifat roh yang utama (Tuhan), dan agar kita bisa merasakan sifat rohani Tuhan, maka kita letakan simbul-simbul aksara tadi kedalam organ tubuh kita, dengan melakukan metode meditasi 10 aksara.
Ada 5 (lima) tahapan dalam melakukan meditasi 10 (dasa) aksara:
1. Menjadikan tubuh sama dengan alam, dengan cara mengosongkan segala keinginan, biarkan tubuh bekerja sesuai proses hukum sebab akibat, misal makan saat lapar, berhenti makan sebelum kenyang.
2. Bersihkan hati, karena di sana ada Tuhan yang disimbulkan dengan Ongkara Ngadeg, caranya dengan membersihkan hati dari segala iri dan dengki, emosi, serakah, dan kebodohan.
3. Bersihkan pikiran karena disana ada kekuatan Tuhan yang disimbulkan dengan Ongkara Sunsang, caranya lakukan sangkirtanam ( menyebut nama Tuhan), hingga pikiran hanya terisi nama dan sifat Tuhan.
4. Meditasi 10 (dasa) aksara.
5. Melakukan perenungan kedalam untuk mendapat pencerahan.
Dengan menerapkan Trimurti dan meditasi 10 (dasa) aksara, membuktikan bahwa Hindu di Bali sesungguhnya amat sederhana dan amat fleksibel dan tidak ada sedikit pun menyimpang dari Weda. Dan menurut sistem (metode ini) justru moksa dalam Tri murti (pembebasan) akan dicapai, apa bila terbebas dari segala perbedaan yang ada di dunia tanpa menyamakannya.
Satyam Evam Jayathe,
Om Shanti Shanti Shanti Om ….
Sumber: disunting dari Buku Meditasi Adhyatmika
MENGENAL MEDITASI DASA AKSARA
Meditasi ini sesungguhnya sudah dikenal sejak lama, dan sudah berkembang sejak jamannya Panca Pandita, Beliau adalah:
1. Mpu Gnijaya.
2. Mpu Ghana.
3. Mpu Semeru.
4. Mpu Kuturan.
5. Mpu Baradah.
Adapun konsep meditasi ini mengajak kita untuk lebih memahami diri kita, dengan melakukan pengkajian kedalam diri bukan keluar, dari mulai membedakan mana tubuh dan mana roh, sampai merubah sifat tubuh menjadi sifat roh.
Diharapkan ketika seseorang sudah berada pada tingkat mahir menerapkan meditasi ini, maka mereka akan merasakan tubuhnya yang diikat oleh sang roh, bukan sang roh yang diikat oleh sang tubuh. Karena Sang Panca Pandita yang digunakan sebagai guru spiritual meditasi ini, maka pada meditasi ini menekankan konsep Tri murti sebagai dasar keyakinannya, dan mewajibkan bagi mereka yang ingin mencoba menerapkan dan memperdalam meditasi 10 (dasa) aksara ini diwajibkan tangkil ( datang ) kecatur Kayangan untuk mohon restu kepada beliau.
Catur Kayangan yang dimaksud adalah:
· Pura Lempuyang, memohon restu kepada Mpu Gnijaya.
· Pura Besakih, memohon restu kepada Mpu Smeru.
· Pura Dasar Buana di Gelgel, memohon kepada Mpu Ghana.
· Pura Silayukti, Memohon restu kepada Mpu Kuturan.
Ajaran Tri murti dan meditasi 10 (dasa) aksara saling melengkapi, dimana mengajarkan kita memahami Tuhan dengan amat sederhana, dan menyederhanakan pikiran karena pikiranlah sumber dari segala keinginan, yang membawa kita pada penderitaan, bahkan kita semakin jauh dari tujuan hidup yaitu Moksa ( Pembebasan dari ketrikatan) dan tak jarang kita menjadi tidak percaya dengan Moksa (pembebasan) tersebut.
Trimurti dan Meditasi 10 (dasa) Aksara memberikan gambaran bahwa Hindu yang berkembang di Bali menjadi berbeda dengan yang ada di mana-mana, bahkan dengan yang ada di India, karena leluhur pendahulunya menggunakan aksara Dewa Nagari hasil perpaduan antara huruf Palwa dan sansekerta, akhirnya dari hasil persilangan tersebut melahirkan huruf baru menjadi: A, Na, Ca, Ra, Ka, Da, Ta, Sa, Wa, La,Ma, Ga, Ba, Tha, Nga, Pa, Dha, Ja, Ya, Nya.
Oleh Leluhur dijelaskan, bahwa dengan memahami huruf-huruf Dewa Nagari itu sesungguhnya kita bisa mengenal sekaligus memahami Tuhan dan ciptaanya.
Karena aksara tersebut diatas, sesungguhnya simbul-simbul dari bentuk alam yang diciptakan Tuhan, sekaligus ada di dalam tubuh Manusia. Dan untuk memahami sifat alam dan penciptannya leluhur memadukan akasara Dewa Nagari tersebut menjadi 10 (dasa) aksara yakni: Sang, Bang, Tang, Ang, IngNang, Mang, Sing, Wang, Yang.
Aksara-aksara inilah yang nantinya digunakan dalam meditasi, karena aksara-aksara ini sesungguhnya sudah menjadi sifat roh yang utama (Tuhan), dan agar kita bisa merasakan sifat rohani Tuhan, maka kita letakan simbul-simbul aksara tadi kedalam organ tubuh kita, dengan melakukan metode meditasi 10 aksara.
Ada 5 (lima) tahapan dalam melakukan meditasi 10 (dasa) aksara:
1. Menjadikan tubuh sama dengan alam, dengan cara mengosongkan segala keinginan, biarkan tubuh bekerja sesuai proses hukum sebab akibat, misal makan saat lapar, berhenti makan sebelum kenyang.
2. Bersihkan hati, karena di sana ada Tuhan yang disimbulkan dengan Ongkara Ngadeg, caranya dengan membersihkan hati dari segala iri dan dengki, emosi, serakah, dan kebodohan.
3. Bersihkan pikiran karena disana ada kekuatan Tuhan yang disimbulkan dengan Ongkara Sunsang, caranya lakukan sangkirtanam ( menyebut nama Tuhan), hingga pikiran hanya terisi nama dan sifat Tuhan.
4. Meditasi 10 (dasa) aksara.
5. Melakukan perenungan kedalam untuk mendapat pencerahan.
Dengan menerapkan Trimurti dan meditasi 10 (dasa) aksara, membuktikan bahwa Hindu di Bali sesungguhnya amat sederhana dan amat fleksibel dan tidak ada sedikit pun menyimpang dari Weda. Dan menurut sistem (metode ini) justru moksa dalam Tri murti (pembebasan) akan dicapai, apa bila terbebas dari segala perbedaan yang ada di dunia tanpa menyamakannya.
Satyam Evam Jayathe,
Om Shanti Shanti Shanti Om ….
Sumber: disunting dari Buku Meditasi Adhyatmika
Makna Hari Raya Galungan
ओम् स्वस्त्यस्तु
Om Svastyastu
MAKNA HARI RAYA GALUNGAN DAN KUNINGAN
Oleh Bp. Mangku Shri Danu
1. Pendahuluan.
Perayaan Galungan bagi umat Hindudi Bali sudah sangat memasyarakat dari abad keabad. Tetapi sangat kita sayangkan memasyarakatnya Galungan tersebut sangat tidak seimbang antara Tattwa atau kasuksman Galungan,Susila dengan Upakaranya.
Artinya antara Tattwa yang tercamtum dalam teks pustaka Sundaraigama dengan wujud susila dan upakara Galungan dalam kehidupan empirisnya sampai saat ini masih tidak nyambung. Bahkan kadang-kadang bertentangan.antara Tattwa Galungan yang demikian luhur dan idial dinyatkan dalam teks Pustakanya dengan kenyataan perayaan Galungan dalamkehidupan empiris setiap dalam kehidupan empiris setiap perayaan Galungan yang dirayakan setiap enam bulan wuku (210 hari).
Ada kalanya disuatu waktu dan tempat perayaan Galungan lebih menonjolkan perayaan Galungan dengan pesta-pesta pora yang bersifat hedonis. Makan masakan khas daerah yang lebih nikmat dari sehari-harinya.Demikian pula Galungan diwujudkan dengan berpakaian serba baru,pergi ketempat-tempat hiburan dan melakukan hal-hal yang lebih menekankan keikmatan indria. Pada hal Galungan adalah sebagai suatu peringatan untuk menajamkan daya spiritual untuk mensinergikan penerapan Jnyana atau ilmu pengetahuan suci untuk mencerahkan hati nurani umat sehingga dapat membangun kehidupan yang cerah dan bergaiarah untuk mengamalkan Dharma. Galungan bukan sebagai media untuk lebih mendinamisir dominasi indria dalam diri. Sesungguhnya untuk mengimplementasikan Tattwa Galungan banyak hal yang dapat kita perbuat dengan mengembangkan Tattwa Galungan kedalam berbagai program nyata sehingga Tattwa Galungan menjadi nyata dalam wujud susila dan upakara nya Inilah tujuan utama penulisan tentang Galungan dan Kuningan dalam tulisan singkat ini.
2. Pengartian Umum.
Kata “Galungan” berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama: manis.
Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali. Drs. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu popular dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi. Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di luar Bali dan apakah namanya juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan pasti.
Namun di Bali, ada sumber yang memberikan titik terang. Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Dalam lontar itu disebutkan:
“Punang act Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15,
isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya”,
Artinya:
Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka.
Sejak itu Galungan terus dirayakan oleh umat Hindu di Bali secara meriah. Setelah Galungan ini dirayakan kurang lebih selama tiga abad, tiba-tiba entah apa dasar pertimbangannya pada tahun 1103 Saka perayaan hari raya itu dihentikan. Itu terjadi ketika Raja Sri Ekajaya memegang tampuk pemerintahan. Galungan juga belum dirayakan ketika tampuk pemerintahan dipegang Raja Sri Dhanadi. Selama Galungan tidak dirayakan, konon musibah datang tak henti-henti. Umur para pejabat kerajaan konon menjadi relatif pendek.
Ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan Raja Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka, barulah Galungan dirayakan kembali, setelah sempat terlupakan kurang lebih selama 23 tahun. Keterangan ini bisa dilihat pada lontar Sri Jayakasunu. Dalam lontar tersebut diceritakan bahwa Raja Sri Jayakasunu merasa heran mengapa raja dan pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui penyebabnya, Raja Sri Jayakasunu mengadakan tapa brata dan samadhi di Bali yang terkenal dengan istilahDewa Sraya artinya mendekatkan diri pada Dewa. Dewa Sraya itu dilakukan di Pura Dalem Puri, tak jauh dari Pura Besakih. Karena kesungguhannya melakukan tapa brata. Raja Sri Jayakasunu mendapatkanpawisik atau“bisikan religius” dari Dewi Durgha, sakti dari Dewa Siwa. Dalam pawisik itu Dewi Durgha menjelaskan kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendekkarena tidak lagi merayakan Galungan. Karena itu Dewi Durgha meminta kepada Raja Sri Jayakasunu supaya kembali merayakan Galungan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku. Di samping itu disarankan pula supaya seluruh umat Hindu memasang penjor pada hari Penampahan Galungan (sehari sebelum Galungan). Disebutkan pula, inti pokok perayaan hari Penampahan Galungan adalah melaksanakan byakala yaitu upacara yang bertujuan untuk melepaskan kekuatan negatif (Buta Kala) dari diri manusia dan lingkungannya. Semenjak Raja Sri Jayakasunu mendapatkan bisikan religius itu, Galungan dirayakan lagi dengan hikmat dan meriah oleh umat Hindu di Bali.
3. Makna Filosofis Galungan
Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma) dalam diri manusia.
Selain itu juga memberi kemampuan untuk membeda-bedakan kecendrungan karaksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (dewa sampad). Harus disadari bahwa hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan.
Galungan adalah juga salah satu upacara agama Hindu untuk mengingatkan manusia secara ritual dan spiritual agar selalu memenangkan Dewi Sampad untuk menegakkan dharma melawan adharma. Dalam lontar Sunarigama, Galungan dan rincian upacaranya dijelaskan dengan mendetail. Mengenai makna Galungan dalam lontar Sunarigamadijelaskan sebagai berikut:
Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning Idep Artinya:
Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran.
Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujuddharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma. Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan menangnya dharma melawan adharma.
Untuk memenangkan dharma itu ada serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum dan setelah Galungan. Sebelum Galungan ada disebut Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Kata Jawa di sini sama dengan Jaba, artinya luar. Sugihan Jawa bermakna menyucikan bhuana agung (bumi ini) di luar dari manusia.
Sugihan Jawa dirayakan pada hari Wrhaspati Wage Wuku Sungsang, enam hari sebelum Galungan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Sugihan Jawa itu merupakan Pasucian dewa kalinggania pamrastista batara kabeh (Penyucian Dewa, karena itu hari penyucian semua bhatara).
Pelaksanaan upacara ini adalah dengan membersihkan segala tempat dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci. Sedangkan pada hari Jumat Kliwon Wuku Sungsang disebutkan: Kalinggania amretista raga tawulan (Olehkarenanya menyucikan badan jasmani masing-masing).
Karena itu Sugihan Bali disebutkan menyucikan diri sendiri. Kata Bali dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada di dalam diri. Dan itulah yang disucikan.
Pada Redite Paing Wuku Dungulan diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun mengganggu manusia. Karena itulah pada hari tersebut dianjurkan anyekung Jñana,
artinya: mendiamkan pikiran agar jangan dimasuki oleh Butha Galungan. Dalam lontar itu juga disebutkan nirmalakena (orang yang pikirannya selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Butha Galungan.
Pada hari Senin Pon Dungulan disebut Penyajaan Galungan. Pada hari ini orang yang paham tentang yoga dan samadhi melakukan pemujaan. Dalam lontar disebutkan, “Pangastawaningsang ngamongyoga samadhi.”
Pada hari Anggara Wage wuku Dungulan disebutkan Penampahan Galungan. Pada hari inilah dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan dengan upacara pokok yaitu membuat banten byakala yang disebut pamyakala lara melaradan. Umat kebanyakan pada hari ini menyembelih babi sebagai binatang korban. Namun makna sesungguhnya adalah pada hari ini hendaknya membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri.
Demikian urutan upacara yang mendahului Galungan. Setelah hari raya Galungan yaitu hari Kamis Umanis wuku Dungulan disebut Manis Galungan. Pada hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma. Umat pada umumnya melampiaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan terutama panorama yang indah. Juga mengunjungi sanak saudara sambil bergembira-ria.
Hari berikutnya adalah hari Sabtu Pon Dungulan yang disebut hari Pemaridan Guru. Pada hari ini, dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupa kadirghayusaan yaituhidup sehat panjang umur. Pada hari ini umat dianjurkan menghaturkan canang meraka dan matirta gocara. Upacara tersebut barmakna, umat menikmati waranugraha Dewata,
Pada hari Jumat Wage Kuningan disebut hari Penampahan Kuningan. Dalam lontarSundarigama tidak disebutkan upacara yang mesti dilangsungkan. Hanya dianjurkan melakukan kegiatan rohani yang dalam lontar disebutkanSapuhakena malaning jnyana (lenyapkanlah kekotoran pikiran). Keesokan harinya, Sabtu Kliwon disebut Kuningan. Dalam lontar Sunarigama disebutkan, upacara menghaturkan sesaji pada hari ini hendaknya dilaksanakan pada pagi hari dan hindari menghaturkan upacara lewat tengah hari. Mengapa? Karena pada tengah hari para Dewata dan Dewa Pitara “diceritakan” kembali ke Swarga (Dewa mur mwah maringSwarga).
Demikianlah makna Galungan dan Kuningan ditinjau dari sudut pelaksanaan upacaranya.
4. Macam-macam Galungan
Meskipun Galungan itu disebut “Rerahinan Gumi” artinya semua umat wajib melaksanakan, ada pula perbedaan dalam hal perayaannya. Berdasarkan sumber-sumber kepustakaan lontar dan tradisi yang telah berjalan dari abad ke abad telah dikenal adanya tiga jenis Galungan yaitu: Galungan (tanpa ada embel-embel), Galungan Nadi dan Galungan Nara Mangsa. Penjelasannya adalah sebagai berikut:
a. Galungan
Adalah hari raya yang wajib dilakukan oleh umat Hindu untuk merayakan kemenangan dharma melawan adharma. Berdasarkan keterangan lontar Sundarigama disebutkan “Buda Kliwon Dungulan ngaran Galungan.” Artinya, Galungan itu dirayakan setiap Rabu Kliwon wuku Dungulan. Jadi Galungan itu dirayakan, setiap 210 hari karena yang dipakai dasar menghitung Galungan adalah Panca Wara, Sapta Wara dan Wuku. Kalau Panca Waranya Kliwon, Sapta Waranya Rabu, dan wukunya Dungulan, saat bertemunya ketiga hal itu disebut Hari Raya Galungan.
b. Galungan Nadi
Galungan yang pertama dirayakan oleh umat Hindu di Bali berdasarkan lontar Purana Bali Dwipa adalah Galungan Nadi yaitu Galungan yang jatuh pada sasih Kapat (Kartika) tanggal 15 (purnama) tahun 804 Saka (882 Masehi) atau pada bulan Oktober.
Disebutkan dalam lontar itu, bahwa pulau Bali saat dirayakan Galungan pertama itu bagaikan Indra Loka. Ini menandakan betapa meriahnya perayaan Galungan pada waktu itu. Perbedaannya dengan Galungan biasa adalah dari segi besarnya upacara dan kemeriahannya. Memang merupakan suatu tradisi di kalangan umat Hindu bahwa kalau upacara agama yang digelar bertepatan dengan bulan purnama maka mereka akan melakukan upacara lebih semarak. Misalnya upacara ngotoninatau upacara hari kelahiran berdasarkan wuku, kalau bertepatan dengan purnama mereka melakukan dengan upacara yang lebih utama dan lebih meriah.
Disamping karena ada keyakinan bahwa hari Purnama itu adalah hari yang diberkahi oleh Sanghyang Ketu yaitu Dewa kecemerlangan. Ketu artinya terang (lawan katanya adalah Rau yang artinya gelap). Karena itu Galungan, yang bertepatan dengan bulan purnama disebut Galungan Nadi. Galungan Nadi ini datangnya amat jarang yaitu kurang lebih setiap 10 tahun sekali.
c. Galungan Nara Mangsa
Galungan Nara Mangsa jatuh bertepatan dengan tilem sasih Kapitu atau sasih Kesanga. Dalam lontar Sundarigama disebutkan sebagai berikut:
"Yan Galungannuju sasih Kapitu, Tilem Galungan, mwang sasih kesanga, rah 9, tenggek 9, Galungan Nara Mangsa ngaran. “
Artinya:
Bila Wuku Dungulan bertepatan dengan sasih Kapitu, Tilem Galungarniya dan bila bertepatan dengan sasih Kesanga rah 9, tenggek 9, Galungan Nara Mangsa namanya.
Dalam lontar Sanghyang Aji Swamandala ada menyebutkan hal yang hampir sama sebagai berikut:
“Nihan Bhatara ring Dalem pamalan dina ring wong Bali, poma haywa lali elingakna. Yan tekaning sasih Kapitu, anemu wuku Dungulan mwang tilem ring Galungan ika, tan wenang ngegalung wong Baline, Kala Rau ngaranya yon mengkana. Tan kawasa mabanten tumpeng. Mwah yan anemu sasih Kesanga, rah 9 tenggek 9, tunggal kalawan sasih Kapitu, sigug ya mengaba gering ngaran. Wenang mecaru wong Baline pabanten caru ika, nasi cacahan maoran keladi, yan tan anuhut ring Bhatara ring Dalem yanya manurung, moga ta sira kapereg denira Balagadabah”.
Artinya:
Inilah petunjuk Bhatara di Pura Dalem (tentang) kotornya hari (liari buruk) bagi manusia, semoga tidak lupa, ingatlah. Bila tiba sasih Kapitu bertepatan dengan wuku Dungulan dan Tilem, pada hari Galungan itu, tidak boleh merayakan Galungan, Kala Rau namanya, bi]a demikian tidak dibenarkan menghaturkan sesajen yang berjsi tumpeng. Dan bila bertepatan dengan sasih Kasanga rah 9, tenggek 9 sama artinya dengan sasih kapitu. Tidak baik itu, membawa penyakit adanya. Seyogyanya orang mengadakan upacara caru yaitu sesajen caru, itu nasi cacahan dicampur ubi keladi. Bila tidak mengikuti petunjuk Bhatara di Pura Dalam (maksudnya bila melanggar) kalian akan diserbu oleh Balagadabah.
Demikianlah dua sumber pustaka lontar yang berbahasa Jawa Kuna menjelaskan tentang Galungan Nara Mangsa. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Galungan Nara Mangsa disebutkan “Dewa Mauneb bhuta turun” yang artinya, Dewa tertutup (tapi) Bhutakala yang hadir. Ini berarti Galungan Nara Mangsa itu adalah Galungan raksasa, pemakan daging manusia. Oleh karena itu pada hari Galungan Nara Mangsa tidak dilang-sungkan upacara Galungan sebagaimana mestinya terutama tidak menghaturkan sesajen “tumpeng Galungan”. PadaGalungan Nara Mangsa justru umat dianjurkan menghaturkan caru, berupa nasi cacahan bercampur keladi.
Demikian pengertian Galungan Nara Mangsa. Palaksanaan upacara Galungan di Bali biasanya diiiustrasikan dengan cerita Mayadanawa yang diuraikan panjang lebar dalam lontar Usana Bali sebagai lambang, pertarungan antara aharma melawan adharma.
Dharma dilambangkan sebagai Dewa Indra sedangkan adharma dilambangkan oleh Mayadanawa. Mayadanawa diceritakan sebagai raja yang tidak percaya pada adanya Tuhan dan tidak percaya pada keutamaan upacara agama.
4. Galungan di India
Hari raya Hindu untuk mengingatkan umat atas pertarunganantara adharma melawan dharma dilaksanakan juga oleh umat Hindu di India. Bahkan kemungkinan besar, parayaan hari raya Galungan di Indonesia mendapat inspirasi atau direkonstruksi dari perayaan upacara Wijaya Dasami di India. Ini bisa dilihat dari kata “Wijaya” (bahasa Sansekerta) yang bersinonim dengan kata “Galungan” dalam bahasa Jawa Kuna. Kedua kata itu artinya “menang”.
Hari Raya Wijaya Dasami di India disebut pula “Hari Raya Dasara”. Inti perayaan Wijaya Dasami juga dilakukan sepuluh hari seperti Galungan dan Kuningan.
Sebelum puncak perayaan, selama sembilan malam umat Hindu di sana melakukan upacara yang disebut Nawa Ratri (artinya sembilan malam). Upacara Nawa Ratri itu dilakukan dengan upacara persembahyangan yang sangat khusuk dipimpin oleh pendeta di rumah-rumah penduduk. Nawa Ratri lebih menekankan nilai-nilai spiritual sebagai dasar perjuangan melawan adharma. Nawa Ratri itu dilakukan dengan mumuja Dewi Durgha selama tiga hari. Tiga hari berikutnya memuja Dewi Saraswati dan tiga hari terakhir memuja Dewi Laksmi. Tiga hari memuja Dewi Durgha bertujuan untuk membangun niat baik dalam hati nurani.Membangun niat baik inilah pekerjaan yang paling sulit. Tiga hari memuja Dewi Saraswati artinya untuk meningkatkan kemampuan kita menguasai ilmu pengetahuan. Niat baik saja tidak cukup.Niat baik itu hartus disertai dengan kemampuan untuk menguasai ilmu pengetahuan untuk menuntun hidup manusia. Tiga hari terakhir memuja Dewi Laksmi.Ini artinya puncak dari perjuangan membangun niat baik dan menguasai ilmu pengetahuan adalah hidup sejahtra lahir batin. Niat baik dan ilmu pengetahuan itu tidak ada apa-apanya kalau tidak menghasilkan hidup sejahtra lahir batin. Pemujaan pada dewi Laksmi ini bertujuan agar niat baik dan ilmu pengetahuan itu benar-benar diarahkan untuk mewujudkan hidup sejahtra Sekala dan Niskala. Untuk membangun hidup sejahtra itu tidak mudah,karena itu hartus dilakukan upaya spiritual dengan memuja Tuhan sebagai Dewi Laksmi pada tiga hari terakhir dari Nawa Ratri tersebut..
Pada hari kesepuluh berulah dirayakan Wijaya Dasami atau Dasara. Wijaya Dasami lebih menekankan pada rasa kebersamaan, kemeriahan dan kesemarakan untuk masyarakat luas.
Perayaan Wijaya Dasami dirayakan dua kali setahun dengan perhitungan tahun Surya. Perayaan dilakukan pada bulan Kartika (Oktober) dan bulan Waisaka (April).Perayaan Dasara pada bulan Waisaka atau April disebut pula Durgha Nawa Ratri.
Durgha Nawa Ratri ini merupakan perayaan untuk kemenangan dharma melawan adharma dengan ilustrasi cerita kemenangan Dewi Parwati (Dewi Durgha) mengalahkan raksasa Durgha yang bersembunyi di dalam tubuh Mahasura yaitu lembu raksasa yang amat sakti. Karena Dewi Parwati menang, maka diberi julukan Dewi Durgha. Dewi Durgha di India dilukiskan seorang dewi yang amat cantik menunggang singa. Selain itu diyakini sebagai dewi kasih sayang dan amat sakti.
Pengertian sakti di India adalah kuat, memiliki kemampuan yang tinggi. Kasih sayang sesungguhnya kasaktian yang paling tinggi nilainya. Berbeda dengan di Bali. Kata sakti sering diartikan sebagai kekuatan yang berkonotasi angker, seram, sangat menakutkan.
Parayaan Durgha Nawa Ratri adalah perjuangan umat untuk meraih kasih sayang Tuhan. Karunia berupa kasih sayang Tuhan adalah karunia yang paling tinggi nilainya. Untuk melawan adharma pertama-tama capailah karunia Tuhan berupa kasih sayang Tuhan. Kasih sayang Tuhanlah merupakan senjata yang paling ampuh melawan adharma.
Sedangkan upacara Wijaya Dasami pada bulan Kartika (Oktober) disebut Rama Nawa Ratri. Pada Rama Nawa Ratri pemujaan ditujukan pada Sri Rama sebagai Awatara Wisnu. Selama sembilan malam umat mengadakan kegiatan keagamaan yang lebih menekankan pada bobot spiritual untuk mendapatkan kemenangan rohani dan menguasai, keganasan hawa nafsu. Pada hari kesepuluh atau hari Dasara, umat merayakan Wijaya Dasami atau kemenangan hari kesepuluh. Pada hari ini, kota menjadi ramai. Di mana-mana, orang menjual panah sebagai lambang kenenangan.
Umumnya umat membuat ogoh-ogoh berbentuk Rahwana, Kumbakarna atau Surphanaka. Ogoh-ogoh besar dan tinggi itu diarak keliling beramai-ramai. Di lapangan umum sudah disiapkan pementasan di mana sudah ada orang yang terpilih untuk memperagakan tokoh Rama, Sita, Laksmana dan Hanuman.
Puncak dari atraksi perjuangan dharma itu yakni Sri Rama melepaskan anak panah di atas panggung yang telah dipersiapkan sebelumnya. Panah itu diatur sedemikian rupa sehingga begitu ogoh-ogoh Rahwana kena panah Sri Rama, ogoh-ogoh itu langsung terbakar dan masyarakat penontonpun bersorak-sorai gembira-ria. Orang yang memperagakan diri sebagai Sri Rama, Dewi Sita, Laksmana dan Hanuman mendapat penghormatan luar biasa dari masyarakat Hindu yang menghadiri atraksi keagamaan itu. Anak-anak ramai-ramai dibelikan panah-panahan untuk kebanggaan mereka mengalahkan adharma.
Kalau kita simak makna hari raya Wijaya Dasami yang digelar dua kali setahun yaitu pada bulan April (Waisaka) dan pada bulan Oktober (Kartika) adalah dua perayaan yang bermakna untuk mendapatkan kasih sayang Tuhan. Kasih sayang itulah suatu “sakti” atau kekuatan manusia yang maha dahsyat untukmengalahkan adharma. Sedangkan pada bulan Oktober atau Kartika pemujaan ditujukan pada Sri Rama. Sri Rama adalah Awatara Wisnu sebagai dewa Pengayoman atau pelindung dharma. Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan fllosofi dari hari raya Wijaya Dasami adalah mendapatkan kasih sayang dan perlindungan Tuhan. Kasih sayang dan perlindungan itulah merupakan kekuatan yang harus dicapai oleh menusia untuk memenangkan dharma. Kemenangan dharma adalah terjaminnya kehidupan yang bahagia lahir batin.
Kemenangan lahir batin atau dharma menundukkan adharma adalah suatu kebutuhan hidup sehari-hari. Kalau kebutuhan rohani seperti itu dapat kita wujudkan setiap saat maka hidup yang seperti itulah hidup yang didambakan oleh setiap orang. Agar orang tidak sampai lupa maka setiap Budha Kliwon Dungulan, umat diingatkan melalui hari raya Galungan yang berdemensi ritual dan spiritual.
ओम् शन्ति शन्ति शन्ति ओम्
Om śanti śanti śanti Om
Om Svastyastu
MAKNA HARI RAYA GALUNGAN DAN KUNINGAN
Oleh Bp. Mangku Shri Danu
1. Pendahuluan.
Perayaan Galungan bagi umat Hindudi Bali sudah sangat memasyarakat dari abad keabad. Tetapi sangat kita sayangkan memasyarakatnya Galungan tersebut sangat tidak seimbang antara Tattwa atau kasuksman Galungan,Susila dengan Upakaranya.
Artinya antara Tattwa yang tercamtum dalam teks pustaka Sundaraigama dengan wujud susila dan upakara Galungan dalam kehidupan empirisnya sampai saat ini masih tidak nyambung. Bahkan kadang-kadang bertentangan.antara Tattwa Galungan yang demikian luhur dan idial dinyatkan dalam teks Pustakanya dengan kenyataan perayaan Galungan dalamkehidupan empiris setiap dalam kehidupan empiris setiap perayaan Galungan yang dirayakan setiap enam bulan wuku (210 hari).
Ada kalanya disuatu waktu dan tempat perayaan Galungan lebih menonjolkan perayaan Galungan dengan pesta-pesta pora yang bersifat hedonis. Makan masakan khas daerah yang lebih nikmat dari sehari-harinya.Demikian pula Galungan diwujudkan dengan berpakaian serba baru,pergi ketempat-tempat hiburan dan melakukan hal-hal yang lebih menekankan keikmatan indria. Pada hal Galungan adalah sebagai suatu peringatan untuk menajamkan daya spiritual untuk mensinergikan penerapan Jnyana atau ilmu pengetahuan suci untuk mencerahkan hati nurani umat sehingga dapat membangun kehidupan yang cerah dan bergaiarah untuk mengamalkan Dharma. Galungan bukan sebagai media untuk lebih mendinamisir dominasi indria dalam diri. Sesungguhnya untuk mengimplementasikan Tattwa Galungan banyak hal yang dapat kita perbuat dengan mengembangkan Tattwa Galungan kedalam berbagai program nyata sehingga Tattwa Galungan menjadi nyata dalam wujud susila dan upakara nya Inilah tujuan utama penulisan tentang Galungan dan Kuningan dalam tulisan singkat ini.
2. Pengartian Umum.
Kata “Galungan” berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama: manis.
Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali. Drs. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu popular dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi. Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di luar Bali dan apakah namanya juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan pasti.
Namun di Bali, ada sumber yang memberikan titik terang. Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Dalam lontar itu disebutkan:
“Punang act Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15,
isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya”,
Artinya:
Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka.
Sejak itu Galungan terus dirayakan oleh umat Hindu di Bali secara meriah. Setelah Galungan ini dirayakan kurang lebih selama tiga abad, tiba-tiba entah apa dasar pertimbangannya pada tahun 1103 Saka perayaan hari raya itu dihentikan. Itu terjadi ketika Raja Sri Ekajaya memegang tampuk pemerintahan. Galungan juga belum dirayakan ketika tampuk pemerintahan dipegang Raja Sri Dhanadi. Selama Galungan tidak dirayakan, konon musibah datang tak henti-henti. Umur para pejabat kerajaan konon menjadi relatif pendek.
Ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan Raja Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka, barulah Galungan dirayakan kembali, setelah sempat terlupakan kurang lebih selama 23 tahun. Keterangan ini bisa dilihat pada lontar Sri Jayakasunu. Dalam lontar tersebut diceritakan bahwa Raja Sri Jayakasunu merasa heran mengapa raja dan pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui penyebabnya, Raja Sri Jayakasunu mengadakan tapa brata dan samadhi di Bali yang terkenal dengan istilahDewa Sraya artinya mendekatkan diri pada Dewa. Dewa Sraya itu dilakukan di Pura Dalem Puri, tak jauh dari Pura Besakih. Karena kesungguhannya melakukan tapa brata. Raja Sri Jayakasunu mendapatkanpawisik atau“bisikan religius” dari Dewi Durgha, sakti dari Dewa Siwa. Dalam pawisik itu Dewi Durgha menjelaskan kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendekkarena tidak lagi merayakan Galungan. Karena itu Dewi Durgha meminta kepada Raja Sri Jayakasunu supaya kembali merayakan Galungan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku. Di samping itu disarankan pula supaya seluruh umat Hindu memasang penjor pada hari Penampahan Galungan (sehari sebelum Galungan). Disebutkan pula, inti pokok perayaan hari Penampahan Galungan adalah melaksanakan byakala yaitu upacara yang bertujuan untuk melepaskan kekuatan negatif (Buta Kala) dari diri manusia dan lingkungannya. Semenjak Raja Sri Jayakasunu mendapatkan bisikan religius itu, Galungan dirayakan lagi dengan hikmat dan meriah oleh umat Hindu di Bali.
3. Makna Filosofis Galungan
Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma) dalam diri manusia.
Selain itu juga memberi kemampuan untuk membeda-bedakan kecendrungan karaksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (dewa sampad). Harus disadari bahwa hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan.
Galungan adalah juga salah satu upacara agama Hindu untuk mengingatkan manusia secara ritual dan spiritual agar selalu memenangkan Dewi Sampad untuk menegakkan dharma melawan adharma. Dalam lontar Sunarigama, Galungan dan rincian upacaranya dijelaskan dengan mendetail. Mengenai makna Galungan dalam lontar Sunarigamadijelaskan sebagai berikut:
Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning Idep Artinya:
Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran.
Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujuddharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma. Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan menangnya dharma melawan adharma.
Untuk memenangkan dharma itu ada serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum dan setelah Galungan. Sebelum Galungan ada disebut Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Kata Jawa di sini sama dengan Jaba, artinya luar. Sugihan Jawa bermakna menyucikan bhuana agung (bumi ini) di luar dari manusia.
Sugihan Jawa dirayakan pada hari Wrhaspati Wage Wuku Sungsang, enam hari sebelum Galungan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Sugihan Jawa itu merupakan Pasucian dewa kalinggania pamrastista batara kabeh (Penyucian Dewa, karena itu hari penyucian semua bhatara).
Pelaksanaan upacara ini adalah dengan membersihkan segala tempat dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci. Sedangkan pada hari Jumat Kliwon Wuku Sungsang disebutkan: Kalinggania amretista raga tawulan (Olehkarenanya menyucikan badan jasmani masing-masing).
Karena itu Sugihan Bali disebutkan menyucikan diri sendiri. Kata Bali dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada di dalam diri. Dan itulah yang disucikan.
Pada Redite Paing Wuku Dungulan diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun mengganggu manusia. Karena itulah pada hari tersebut dianjurkan anyekung Jñana,
artinya: mendiamkan pikiran agar jangan dimasuki oleh Butha Galungan. Dalam lontar itu juga disebutkan nirmalakena (orang yang pikirannya selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Butha Galungan.
Pada hari Senin Pon Dungulan disebut Penyajaan Galungan. Pada hari ini orang yang paham tentang yoga dan samadhi melakukan pemujaan. Dalam lontar disebutkan, “Pangastawaningsang ngamongyoga samadhi.”
Pada hari Anggara Wage wuku Dungulan disebutkan Penampahan Galungan. Pada hari inilah dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan dengan upacara pokok yaitu membuat banten byakala yang disebut pamyakala lara melaradan. Umat kebanyakan pada hari ini menyembelih babi sebagai binatang korban. Namun makna sesungguhnya adalah pada hari ini hendaknya membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri.
Demikian urutan upacara yang mendahului Galungan. Setelah hari raya Galungan yaitu hari Kamis Umanis wuku Dungulan disebut Manis Galungan. Pada hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma. Umat pada umumnya melampiaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan terutama panorama yang indah. Juga mengunjungi sanak saudara sambil bergembira-ria.
Hari berikutnya adalah hari Sabtu Pon Dungulan yang disebut hari Pemaridan Guru. Pada hari ini, dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupa kadirghayusaan yaituhidup sehat panjang umur. Pada hari ini umat dianjurkan menghaturkan canang meraka dan matirta gocara. Upacara tersebut barmakna, umat menikmati waranugraha Dewata,
Pada hari Jumat Wage Kuningan disebut hari Penampahan Kuningan. Dalam lontarSundarigama tidak disebutkan upacara yang mesti dilangsungkan. Hanya dianjurkan melakukan kegiatan rohani yang dalam lontar disebutkanSapuhakena malaning jnyana (lenyapkanlah kekotoran pikiran). Keesokan harinya, Sabtu Kliwon disebut Kuningan. Dalam lontar Sunarigama disebutkan, upacara menghaturkan sesaji pada hari ini hendaknya dilaksanakan pada pagi hari dan hindari menghaturkan upacara lewat tengah hari. Mengapa? Karena pada tengah hari para Dewata dan Dewa Pitara “diceritakan” kembali ke Swarga (Dewa mur mwah maringSwarga).
Demikianlah makna Galungan dan Kuningan ditinjau dari sudut pelaksanaan upacaranya.
4. Macam-macam Galungan
Meskipun Galungan itu disebut “Rerahinan Gumi” artinya semua umat wajib melaksanakan, ada pula perbedaan dalam hal perayaannya. Berdasarkan sumber-sumber kepustakaan lontar dan tradisi yang telah berjalan dari abad ke abad telah dikenal adanya tiga jenis Galungan yaitu: Galungan (tanpa ada embel-embel), Galungan Nadi dan Galungan Nara Mangsa. Penjelasannya adalah sebagai berikut:
a. Galungan
Adalah hari raya yang wajib dilakukan oleh umat Hindu untuk merayakan kemenangan dharma melawan adharma. Berdasarkan keterangan lontar Sundarigama disebutkan “Buda Kliwon Dungulan ngaran Galungan.” Artinya, Galungan itu dirayakan setiap Rabu Kliwon wuku Dungulan. Jadi Galungan itu dirayakan, setiap 210 hari karena yang dipakai dasar menghitung Galungan adalah Panca Wara, Sapta Wara dan Wuku. Kalau Panca Waranya Kliwon, Sapta Waranya Rabu, dan wukunya Dungulan, saat bertemunya ketiga hal itu disebut Hari Raya Galungan.
b. Galungan Nadi
Galungan yang pertama dirayakan oleh umat Hindu di Bali berdasarkan lontar Purana Bali Dwipa adalah Galungan Nadi yaitu Galungan yang jatuh pada sasih Kapat (Kartika) tanggal 15 (purnama) tahun 804 Saka (882 Masehi) atau pada bulan Oktober.
Disebutkan dalam lontar itu, bahwa pulau Bali saat dirayakan Galungan pertama itu bagaikan Indra Loka. Ini menandakan betapa meriahnya perayaan Galungan pada waktu itu. Perbedaannya dengan Galungan biasa adalah dari segi besarnya upacara dan kemeriahannya. Memang merupakan suatu tradisi di kalangan umat Hindu bahwa kalau upacara agama yang digelar bertepatan dengan bulan purnama maka mereka akan melakukan upacara lebih semarak. Misalnya upacara ngotoninatau upacara hari kelahiran berdasarkan wuku, kalau bertepatan dengan purnama mereka melakukan dengan upacara yang lebih utama dan lebih meriah.
Disamping karena ada keyakinan bahwa hari Purnama itu adalah hari yang diberkahi oleh Sanghyang Ketu yaitu Dewa kecemerlangan. Ketu artinya terang (lawan katanya adalah Rau yang artinya gelap). Karena itu Galungan, yang bertepatan dengan bulan purnama disebut Galungan Nadi. Galungan Nadi ini datangnya amat jarang yaitu kurang lebih setiap 10 tahun sekali.
c. Galungan Nara Mangsa
Galungan Nara Mangsa jatuh bertepatan dengan tilem sasih Kapitu atau sasih Kesanga. Dalam lontar Sundarigama disebutkan sebagai berikut:
"Yan Galungannuju sasih Kapitu, Tilem Galungan, mwang sasih kesanga, rah 9, tenggek 9, Galungan Nara Mangsa ngaran. “
Artinya:
Bila Wuku Dungulan bertepatan dengan sasih Kapitu, Tilem Galungarniya dan bila bertepatan dengan sasih Kesanga rah 9, tenggek 9, Galungan Nara Mangsa namanya.
Dalam lontar Sanghyang Aji Swamandala ada menyebutkan hal yang hampir sama sebagai berikut:
“Nihan Bhatara ring Dalem pamalan dina ring wong Bali, poma haywa lali elingakna. Yan tekaning sasih Kapitu, anemu wuku Dungulan mwang tilem ring Galungan ika, tan wenang ngegalung wong Baline, Kala Rau ngaranya yon mengkana. Tan kawasa mabanten tumpeng. Mwah yan anemu sasih Kesanga, rah 9 tenggek 9, tunggal kalawan sasih Kapitu, sigug ya mengaba gering ngaran. Wenang mecaru wong Baline pabanten caru ika, nasi cacahan maoran keladi, yan tan anuhut ring Bhatara ring Dalem yanya manurung, moga ta sira kapereg denira Balagadabah”.
Artinya:
Inilah petunjuk Bhatara di Pura Dalem (tentang) kotornya hari (liari buruk) bagi manusia, semoga tidak lupa, ingatlah. Bila tiba sasih Kapitu bertepatan dengan wuku Dungulan dan Tilem, pada hari Galungan itu, tidak boleh merayakan Galungan, Kala Rau namanya, bi]a demikian tidak dibenarkan menghaturkan sesajen yang berjsi tumpeng. Dan bila bertepatan dengan sasih Kasanga rah 9, tenggek 9 sama artinya dengan sasih kapitu. Tidak baik itu, membawa penyakit adanya. Seyogyanya orang mengadakan upacara caru yaitu sesajen caru, itu nasi cacahan dicampur ubi keladi. Bila tidak mengikuti petunjuk Bhatara di Pura Dalam (maksudnya bila melanggar) kalian akan diserbu oleh Balagadabah.
Demikianlah dua sumber pustaka lontar yang berbahasa Jawa Kuna menjelaskan tentang Galungan Nara Mangsa. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Galungan Nara Mangsa disebutkan “Dewa Mauneb bhuta turun” yang artinya, Dewa tertutup (tapi) Bhutakala yang hadir. Ini berarti Galungan Nara Mangsa itu adalah Galungan raksasa, pemakan daging manusia. Oleh karena itu pada hari Galungan Nara Mangsa tidak dilang-sungkan upacara Galungan sebagaimana mestinya terutama tidak menghaturkan sesajen “tumpeng Galungan”. PadaGalungan Nara Mangsa justru umat dianjurkan menghaturkan caru, berupa nasi cacahan bercampur keladi.
Demikian pengertian Galungan Nara Mangsa. Palaksanaan upacara Galungan di Bali biasanya diiiustrasikan dengan cerita Mayadanawa yang diuraikan panjang lebar dalam lontar Usana Bali sebagai lambang, pertarungan antara aharma melawan adharma.
Dharma dilambangkan sebagai Dewa Indra sedangkan adharma dilambangkan oleh Mayadanawa. Mayadanawa diceritakan sebagai raja yang tidak percaya pada adanya Tuhan dan tidak percaya pada keutamaan upacara agama.
4. Galungan di India
Hari raya Hindu untuk mengingatkan umat atas pertarunganantara adharma melawan dharma dilaksanakan juga oleh umat Hindu di India. Bahkan kemungkinan besar, parayaan hari raya Galungan di Indonesia mendapat inspirasi atau direkonstruksi dari perayaan upacara Wijaya Dasami di India. Ini bisa dilihat dari kata “Wijaya” (bahasa Sansekerta) yang bersinonim dengan kata “Galungan” dalam bahasa Jawa Kuna. Kedua kata itu artinya “menang”.
Hari Raya Wijaya Dasami di India disebut pula “Hari Raya Dasara”. Inti perayaan Wijaya Dasami juga dilakukan sepuluh hari seperti Galungan dan Kuningan.
Sebelum puncak perayaan, selama sembilan malam umat Hindu di sana melakukan upacara yang disebut Nawa Ratri (artinya sembilan malam). Upacara Nawa Ratri itu dilakukan dengan upacara persembahyangan yang sangat khusuk dipimpin oleh pendeta di rumah-rumah penduduk. Nawa Ratri lebih menekankan nilai-nilai spiritual sebagai dasar perjuangan melawan adharma. Nawa Ratri itu dilakukan dengan mumuja Dewi Durgha selama tiga hari. Tiga hari berikutnya memuja Dewi Saraswati dan tiga hari terakhir memuja Dewi Laksmi. Tiga hari memuja Dewi Durgha bertujuan untuk membangun niat baik dalam hati nurani.Membangun niat baik inilah pekerjaan yang paling sulit. Tiga hari memuja Dewi Saraswati artinya untuk meningkatkan kemampuan kita menguasai ilmu pengetahuan. Niat baik saja tidak cukup.Niat baik itu hartus disertai dengan kemampuan untuk menguasai ilmu pengetahuan untuk menuntun hidup manusia. Tiga hari terakhir memuja Dewi Laksmi.Ini artinya puncak dari perjuangan membangun niat baik dan menguasai ilmu pengetahuan adalah hidup sejahtra lahir batin. Niat baik dan ilmu pengetahuan itu tidak ada apa-apanya kalau tidak menghasilkan hidup sejahtra lahir batin. Pemujaan pada dewi Laksmi ini bertujuan agar niat baik dan ilmu pengetahuan itu benar-benar diarahkan untuk mewujudkan hidup sejahtra Sekala dan Niskala. Untuk membangun hidup sejahtra itu tidak mudah,karena itu hartus dilakukan upaya spiritual dengan memuja Tuhan sebagai Dewi Laksmi pada tiga hari terakhir dari Nawa Ratri tersebut..
Pada hari kesepuluh berulah dirayakan Wijaya Dasami atau Dasara. Wijaya Dasami lebih menekankan pada rasa kebersamaan, kemeriahan dan kesemarakan untuk masyarakat luas.
Perayaan Wijaya Dasami dirayakan dua kali setahun dengan perhitungan tahun Surya. Perayaan dilakukan pada bulan Kartika (Oktober) dan bulan Waisaka (April).Perayaan Dasara pada bulan Waisaka atau April disebut pula Durgha Nawa Ratri.
Durgha Nawa Ratri ini merupakan perayaan untuk kemenangan dharma melawan adharma dengan ilustrasi cerita kemenangan Dewi Parwati (Dewi Durgha) mengalahkan raksasa Durgha yang bersembunyi di dalam tubuh Mahasura yaitu lembu raksasa yang amat sakti. Karena Dewi Parwati menang, maka diberi julukan Dewi Durgha. Dewi Durgha di India dilukiskan seorang dewi yang amat cantik menunggang singa. Selain itu diyakini sebagai dewi kasih sayang dan amat sakti.
Pengertian sakti di India adalah kuat, memiliki kemampuan yang tinggi. Kasih sayang sesungguhnya kasaktian yang paling tinggi nilainya. Berbeda dengan di Bali. Kata sakti sering diartikan sebagai kekuatan yang berkonotasi angker, seram, sangat menakutkan.
Parayaan Durgha Nawa Ratri adalah perjuangan umat untuk meraih kasih sayang Tuhan. Karunia berupa kasih sayang Tuhan adalah karunia yang paling tinggi nilainya. Untuk melawan adharma pertama-tama capailah karunia Tuhan berupa kasih sayang Tuhan. Kasih sayang Tuhanlah merupakan senjata yang paling ampuh melawan adharma.
Sedangkan upacara Wijaya Dasami pada bulan Kartika (Oktober) disebut Rama Nawa Ratri. Pada Rama Nawa Ratri pemujaan ditujukan pada Sri Rama sebagai Awatara Wisnu. Selama sembilan malam umat mengadakan kegiatan keagamaan yang lebih menekankan pada bobot spiritual untuk mendapatkan kemenangan rohani dan menguasai, keganasan hawa nafsu. Pada hari kesepuluh atau hari Dasara, umat merayakan Wijaya Dasami atau kemenangan hari kesepuluh. Pada hari ini, kota menjadi ramai. Di mana-mana, orang menjual panah sebagai lambang kenenangan.
Umumnya umat membuat ogoh-ogoh berbentuk Rahwana, Kumbakarna atau Surphanaka. Ogoh-ogoh besar dan tinggi itu diarak keliling beramai-ramai. Di lapangan umum sudah disiapkan pementasan di mana sudah ada orang yang terpilih untuk memperagakan tokoh Rama, Sita, Laksmana dan Hanuman.
Puncak dari atraksi perjuangan dharma itu yakni Sri Rama melepaskan anak panah di atas panggung yang telah dipersiapkan sebelumnya. Panah itu diatur sedemikian rupa sehingga begitu ogoh-ogoh Rahwana kena panah Sri Rama, ogoh-ogoh itu langsung terbakar dan masyarakat penontonpun bersorak-sorai gembira-ria. Orang yang memperagakan diri sebagai Sri Rama, Dewi Sita, Laksmana dan Hanuman mendapat penghormatan luar biasa dari masyarakat Hindu yang menghadiri atraksi keagamaan itu. Anak-anak ramai-ramai dibelikan panah-panahan untuk kebanggaan mereka mengalahkan adharma.
Kalau kita simak makna hari raya Wijaya Dasami yang digelar dua kali setahun yaitu pada bulan April (Waisaka) dan pada bulan Oktober (Kartika) adalah dua perayaan yang bermakna untuk mendapatkan kasih sayang Tuhan. Kasih sayang itulah suatu “sakti” atau kekuatan manusia yang maha dahsyat untukmengalahkan adharma. Sedangkan pada bulan Oktober atau Kartika pemujaan ditujukan pada Sri Rama. Sri Rama adalah Awatara Wisnu sebagai dewa Pengayoman atau pelindung dharma. Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan fllosofi dari hari raya Wijaya Dasami adalah mendapatkan kasih sayang dan perlindungan Tuhan. Kasih sayang dan perlindungan itulah merupakan kekuatan yang harus dicapai oleh menusia untuk memenangkan dharma. Kemenangan dharma adalah terjaminnya kehidupan yang bahagia lahir batin.
Kemenangan lahir batin atau dharma menundukkan adharma adalah suatu kebutuhan hidup sehari-hari. Kalau kebutuhan rohani seperti itu dapat kita wujudkan setiap saat maka hidup yang seperti itulah hidup yang didambakan oleh setiap orang. Agar orang tidak sampai lupa maka setiap Budha Kliwon Dungulan, umat diingatkan melalui hari raya Galungan yang berdemensi ritual dan spiritual.
ओम् शन्ति शन्ति शन्ति ओम्
Om śanti śanti śanti Om
Doa Bersama Peletakan Batu Pertama Pembangunan Pagar 10-10-2009 & Bakti Sosial 11-10-2009
Om Swastiastu,
Yth, Bapak dan Ibu
Umat Sedharma
Banjar Swadharma Krama Serpong,
Sesuai dengan hasil rapat panitia kecil Hari Sabtu, tanggal 26 September 2009 yang lalu, telah disepakati dan direncanakan acara doa bersama untuk peletakan batu pertama dimulainya pembangunan tembok penyengker pembatas area fasos-fasum Pure BSD/Tangsel, yang akan dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 10 Oktober 2009 jam 10 pagi di lokasi Pure BSD.
Panitia mengundang Bapak dan Ibu untuk sama-sama mendoakan dan menyaksikan acara tersebut sebagai langkah awal dimulainya proyek pembangunan Pure BSD. Penyengker tersebut perlu dibangun lebih awal untuk membatasi akses masuk pihak luar ke area pure untuk mengamankan material (bahan-bahan yang akan digunakan dalam pembangunan). Acara berikutnya adalah Bakti Sosial Pengobatan Gratis untuk warga sekitar yang kurang mampu, pada hari Minggu, tanggal 11 Oktober 2009, mulai jam 9 pagi bertempat di Kantor Kelurahan Rawa Mekar Jaya.
Acara ini dibantu oleh para Dokter dan tenaga kesehatan Umat Hindu Jabodetabek yang dikordinasikan oleh Pak Agung Diatmika (Ketua PHDI Kabupaten Tangerang). Panitia juga mengharapkan bantuan dari bapak dan Ibu sekalian untuk terselenggaranya acara tersebut. Demikian kami informasikan, terima kasih atas ketersediaan Bapak dan Ibu sekalian. Om Santi Santi Santi Om, Wayan Suryana
Yth, Bapak dan Ibu
Umat Sedharma
Banjar Swadharma Krama Serpong,
Sesuai dengan hasil rapat panitia kecil Hari Sabtu, tanggal 26 September 2009 yang lalu, telah disepakati dan direncanakan acara doa bersama untuk peletakan batu pertama dimulainya pembangunan tembok penyengker pembatas area fasos-fasum Pure BSD/Tangsel, yang akan dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 10 Oktober 2009 jam 10 pagi di lokasi Pure BSD.
Panitia mengundang Bapak dan Ibu untuk sama-sama mendoakan dan menyaksikan acara tersebut sebagai langkah awal dimulainya proyek pembangunan Pure BSD. Penyengker tersebut perlu dibangun lebih awal untuk membatasi akses masuk pihak luar ke area pure untuk mengamankan material (bahan-bahan yang akan digunakan dalam pembangunan). Acara berikutnya adalah Bakti Sosial Pengobatan Gratis untuk warga sekitar yang kurang mampu, pada hari Minggu, tanggal 11 Oktober 2009, mulai jam 9 pagi bertempat di Kantor Kelurahan Rawa Mekar Jaya.
Acara ini dibantu oleh para Dokter dan tenaga kesehatan Umat Hindu Jabodetabek yang dikordinasikan oleh Pak Agung Diatmika (Ketua PHDI Kabupaten Tangerang). Panitia juga mengharapkan bantuan dari bapak dan Ibu sekalian untuk terselenggaranya acara tersebut. Demikian kami informasikan, terima kasih atas ketersediaan Bapak dan Ibu sekalian. Om Santi Santi Santi Om, Wayan Suryana
Langganan:
Postingan (Atom)